Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENYIKAPI TOLERANSI ABAL-ABAL SI BUCIN

Sumber gambar: Majalahsunday.com

Erwin

Beberapa waktu yang lalu publik dikejutkan dengan sebuah berita tentang pernikahan beda agama dari salah seorang Stafsus Presiden. Berita tersebut sampai viral di dunia maya. Namun, ada hal yang lebih mengejutkan dari pernikahan itu,  yaitu adanya respon yang mendukung terhadap perilaku menyimpan tersebut. Mereka beranggapan bahwa pelaku telah memperjuangkan toleransi tidak hanya dimulut, tapi sungguh-sungguh menjalankannya dalam kehidupan berkeluarga. Mendapat berita pernikahan tersebut sungguh membuat hatinya penuh kerena menurutnya agama dan pernikahan harusnya memang tentang cinta dan kasih. Jadi statement ini pada intinya menganggap bahwa  nikah beda agama merupakan puncak tertinggi dari toleransi.

Sungguh pemelintiran kata yang sangat indah. Rangkaian katanya terkesan sangat bijak dan meyakinkan, namun sangat sesat lagi menyesatkan. Model toleransinya dikemas dengan sangat manis, namun yang tercium  adalah  pemaksaan terhadap istilah toleransi. Toleransi bukanlah pluralisme yang semua dianggap sama, setara, dan bisa digabung perbedaannya. Toleransi adalah tentang menghargai, membiarkan, dan membolehkan pendirian (kepercayaan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.  Menikah beda agama dengan embel-embel toleransi sungguh merupakan penyimpangan terhadap makna toleransi itu sendiri. Bahkan hal itu justru merupakan bentuk intoleran terhadap tuhannya sendiri karena telah melanggar perintah-Nya. Mendukung pernikahan nikah beda agama dengan dalih toleransi seperti itu sama saja menganggap bahwa orang yang nikah sesama agama adalah orang yang intoleran. Kasus ini bagaikan orang muslim yang bertamu kerumah non muslim dan disuguhi daging babi, lalu memakannya dengan dalih toleransi. Maka, apapun alasannya dalam kasus ini tidak ada toleransi terhadap sesuatu yang sudah jelas Intoleran.

Kemudian statement diatas juga mentolerir pernikahan beda agama dengan mengatasnamakan cinta dan kasih sayang. Memang, sudah jadi rahasia umum bahwa banyak kasus abnormal yang kemudian dinormalisasi atas nama cinta. Pendukung  LGBT pun mengatakan hal seperti itu.  istilah cintanya yang sesat  dinormalisasi dengan embel-embel toleransi dan tentu dengan  jurus andalan mereka yaitu dengan menyebutnya open minded . Selanjutnya biasanya mereka akan berdalih bahwa “kita harus memanusiakan manusia”. Dalih seperti ini sangat ampuh mempengaruhi orang lain.  Mereka menormalisasi sesuatu yang seharusnya dilarang dengan embel toleransi yang intoleran dan dengan open minded yang salah kaprah. Mereka mengajak memanusiakan manusia, namun lupa menuhankan tuhan. Menikah lintas agama jelas-jelas melanggar hukum agama termasuk islam yang secara tegas sebagaimana dalam Q.s Al Baqarah ayat 221 . Mereka juga melanggar Fatwa MUI No.4/MUI/8/2005 yang menyatakan “perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah”. Disamping itu pernikahan lintas agama juga tidak sah menurut UU No. 1/1974 pasal 2 ayat 1 yang menyatakan “Pernikahan sah, bila dilakukan oleh pasangan dengan agama yang sama”. Maka pernikahan yang tidak sah berarti telah melakukan praktik zina. Oleh karena itu, bucin tak bisa ditempatkan diatas segalanya. Nafsu yang mengatasnamakan  cinta tak bisa menjadi alasan untuk mentolerir pernikahan lintas agama.

Pembuat statement awal tersebut sebenarya telah melakukan klarifikasi dan minta maaf atas tulisannya. Namun dengan adanya hal tersebut membuktikan bahwa ada saja orang-orang yang mendukung pernikahan lintas agama. Orang-orang tersebut bisa jadi ada dilingkungan sekitar. Namun  ketika itu terjadi, jangan sampai malah ikut mengglorifikasi dan menormalisasi pernikahan lintas agama. Pernikahan lintas agama tetap tidak boleh dianggap normal. Toleransi dalam agama adalah berdampingan bukan menggabungkan.

“If you tolerate everything, you stand for nothing

J

   


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar