Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KH. M. SYUHUD ZAYYADI GONDANGLEGI MALANG (1930 - 1993)

Oleh Nurmiati Habib

           KH. M. Syuhud Zayyadi lahir pada tahun 1930, dari pasangan KH. Zayyadi dan Nyai. Hj. Salmah yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Madukawan, Pamekasan Madura. Beliau dibesarkan di lingkungan keluarga pesantren yang kental akan ilmu agama yang kuat. Masa kecilnya dihabiskan untuk bermain dan belajar tentang mengaji al-Qur’an seperti anak kecil yang lain di kampungnya.

Sejak kecil ia belajar ilmu agama kepada sang ayah dan ibunya. Setelah itu, menginjak usia remaja beliau melanjutkan belajar memperdelam ilmu agama di Pesantren Bata-Bata Madura yang diasuh oleh pamannya sendiri, KH. Abdul Majid bin Abdul Hamid bin Itsbat. Kemudian untuk menambah wawasan tentang kedalaman spiritual keagamaan beliau melanjutkan perjalanan menimba ilmunya di Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan yang saat itu diasuh oleh KH. Imron Kholil.

            Setelah beberapa tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren Syaikhona Kholil, beliau melanjutkan studi keilmuannya di Makkah Al-Mukarromah. Di Mekah beliau berguru kepada beberapa masyayikh ternama seperti Sayyid Amin Al-Kutbi dan Sayyid Alwi Al-Maliki yang merupakan ayah dari Sayyid bin Alwi Al-Maliki. Di sana KH. Syuhud mendalami ilmu al-Qur’an dan tafsir dengan menghafalkan al-Qur’an. Selain belajar ilmu agama, beliau juga mempelajari ilmu-ilmu umum yang membuat dirinya semakin kaya akan ilmu pengetahuan baik spiritualitas kegamaan maupun kehidupan dunia. Dari sanalah KH. Sayyid bisa dengan lancar menngkhatamkan hafalan tiga puluh juz al-Qur’an.

            Lima tahun berada di Makkah beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan pengetahuan yang sangat mumpuni.  Kembali ke daerahnya Pamekasan Madura yang sudah tidak asing lagi baginya. Setelah kembali dari Mekkah ia mengajar ilmu al-Qur’an di pesantren milik ayahnya. Setiap harinya dihabiskan untuk menyimak hafalan al-Qur’an para santri yang mondok  di Pesantren Madukawan. Secara telaten beliau mentashih satu persatu santrinya hingga khatam.

            Tak berselang lama setelah kepulangannya dari Makkah dan mengajar ngaji di pondok milik ayahnya, beliau diperkenalkan dengan wanita sholehah asal Malang Jawa Timur yang merupakan seorang anak Kyai terkenal pada saat itu. Namanya Nyai Hj. Masluhah Muzakki anak kedua dari sembilan bersaudara keturunan KH. Muzakki dan Ny. Hj. Saudah. Keduanya dijodohkan dengan keadaan belum mengetahui sama sekali bagaimana wajah calon pendampingnya. Mereka baru mengetahui ketika dihadapkan dimeja pelaminan pada hari pernikahannya pada tahun 1959.

            Setelah menikah KH Zayyadi dan sang istri masih tinggal di Madura. Keduanya mengajar di pondok pesantren milik ayahnya. Pada tahun 1963 mereka berdua berpindah ke desa Karangsuko kecamatan Gondang Legi mengikuti sang suami yang menginginkan untuk mendirikan dan merintis pesantren di desa tersebut. Dengan pemberian wakaf tanah dari seseorang warga masyarakat di desa tersebut, mulailah pembangunan pondok pesantren. Pesantren itu diberi nama Pondok Pesantren Al-Khoirot. Pesantren ini lahir berkat bantuan mertuanya yang menginginkan KH Zayyadi untuk mendirikan pondok pesantren dan sebagai pengasuh.

            Awal mula berdirinya pondok pesantren Al-Khoirot KH. Zayyadi banyak mengalami rintangan karena pada saat itu, masyarakat sekitar lingkungan desa Karangsuko mayoritas masih memegang erat tradisi kejawen dan masih minim akan pengetahuan keagaamaan serta tingkat kejahatan yang sangat tinggi. Bahkan mereka tidak mengetahui bagaimana cara mensucikan diri sesuai syariat agama Islam. Secara perlahan beliau mulai membuka pengajian di lingkungan pesantren. Berawal dari delapan belas santri putra yang mukim di pesantren dan lambat tahunpun semakin bertambah. Beliau dan sang istri juga mengajarkan ngaji terhadap orang sekitar desa Karangsuko tepatnya setiap hari Jumat siang yang sampai saat ini kegiatan pengajian tersebut masih terus berlangsung, dilanjutkan oleh putranya yang merupakan pengasuh di Pondok Pesantren Al-Khoirot

 Diantara para santri pertama Kyai Syuhud yang saat ini sudah banyak berhasil dengan menjadi pengasuh pondok pesantren, guru dan wiraswasta seperti KH. M. Syamsul Arifin yang saat ini merupakan pengasuh pesantren di Pamekasan Madura dan KH. Abdul Rohman yang juga menjadi pengasuh pesantren di daerah Ampelgading Malang. Pada tahun 1964 mulailah didirikannya pondok putri Al-Khoirot dengan santriwati pertamanya yang bernama Shofiah yang berasal dari desa Brongkal.

            Dari pernikahan keduanya lahirlah lima putra dan empat putri yang semuanya saat ini telah menempuh pendidikan baik di dalam maupun luar negeri. Beliau berdua dengan telaten mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah dengan bekal agama yang kuat dan sebagai penghafal ayat-ayat Allah yakni al-Qur’an. Untuk para putrinya beliau mendidik sendiri di rumah, menyimak hafalan ke empat putrinya  dan untuk para putranya diperbolehkan untuk menimba ilmu baik di dalam maupun luar negeri.

            Diantara anak-anak beliau seperti Kyai Amin Hasan Syuhud yang merupakan salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Bata-Bata Pamekasan, putri keduanya Nyai Bisyaroh saat ini menjadi istri salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Nyai Luthvia saat ini sebagai pengasuh di pondok Al-Khoirot putri, Nyai Faizah sata ini pengasuh di Pondok Sumbergayam Madura, Kyai Ahmad saat ini pengasuh pondok Al-Khoirot putra, KH. M. Ja’far Shodiq Syuhud, KH. Hamiddurrohan Syuhud, KH. M. Humaidi Syuhud dan yang terakhir Nyai Husna yang keempat-empatnya menjadi dewan pengasuh dan pengajar di Pondok Pesantren Al-Khoirot.

            Di sisi lain beliau sangat menanamkan kebersihan hati karena dari hati yang bersih semua ibadah terasa lebih dekat dengan sang pencipta. Walaupun beliau dengan pribadi yang sesungguhnya orang yang tertutup tetapi mampu mensyiarkan agama islam dengan beberapa rintangan yang harus dihadapi di dalam masyarakat. Dari situlah KH. Syuhud Zayyadi menjadi orang yang ditokohkan di masyarakat desa Karangsuko.

            Selain memiliki keturunan-keturunan dengan spirilitualitas yang kuat, beliau juga dikenal sebagai ulama yang tawadhu, rendah hati, pekerja keras serta pemimpin yang bijaksana. Beliau juga terkenal dengan keahliannya dalam membuat syair-syair pujian sebagaimana yang ia tulis bersama guru-guru beliau di Makkah yaitu Sayid Amin Al-Kutbi dan Sayid Alawi Al-Maliki. Syair-syair pujian tersebut diberinama sholawat Al-Khoirot yang sampai saat ini masih menjadi syair  pujian yang secara rutinan dilantunkan oleh para santrinya di pagi dan sore hari. Beliau juga merupakan orang yang sangat memprioritaskan dalam mencari ilmu pengetahuan. Dibuktikan dengan seluruh anaknya yang sukses baik urusan dunia diimbangi dengan pengetahuan agama yang begitu kuat.

            Pada tahun 1993 KH. Syuhud Zayyadi wafat dalam usia 63 tahun. Beliau meninggalkan lima putra dan empat putri diantaranya ada yang sudah menikah dan yang lain masih menempuh studi di beberapa lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri. Setelah beliau wafat kepemimpinan pesantren diteruskan oleh menantunya yakni KH. Zainal Ali Suyuthi yang merupakan suami dari putri ketiganya Nyai Hj. Luthfiyah Syuhud yang masih memiliki hubungan kekerabatan sepupu dengan mertuanya KH. Syuhud.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar