Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kata ‘Nyerah’ Hanya Untuk Orang-Orang Lemah: Review Buku Jangan Paksa Aku Menyerah Karya Ida Cholisa

 

Sumber : Pribadi


Astri Liyana N.

Menurut saya, setiap buku punya cara tersendiri untuk dikenang. Contohnya buku yang satu ini. Buku yang cukup membekas di hati saya, meskipun saya telah membacanya sekitar empat atau lima tahun lalu, ketika disodorkan buku ini kembali saya masih ingat betul tentang cerita yang ada di dalamnnya. Bagaimana tidak, buku ini membuat saya ikut merinding membayangkan apa yang dirasakan oleh sang tokoh. 

Buku berjudul Jangan Paksa Aku Menyerah merupakan kisah nyata yang dialami oleh sang Penulis, Ida Cholisa. Seorang perempuan tangguh dan pantang menyerah yang menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ya, bisa dibilang beliau adalah perempuan yang energik. beliau tidak membiarkan waktu satu detikpun terlewati dengan sia-sia. Beliau memiliki dua orang anak yang masih mengenyam pendidikan di SD, sedangkan beliau mengajar di SMA. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan kesibukan yang sangat menguras waktu dan tenaga.    

Namun siapa sangka, hari-hari yang dijalaninya dengan penuh cinta direnggut oleh penyakit mematikan yang saat ini masih menjadi momok paling menakutkan dalam kehidupan perempuan. Beliau divonis mengidap Kanker Payudara. Vonis ini menjadi hantaman maha dahsyat baginya. Sebagaimana yang beliau katakan, “Dunia seakan kiamat. Kanker, sungguh penyakit yang teramat menakutkan bagiku.” (hlm. 41).

Pasca vonis tersebut, pikirannya kalut dalam waktu yang cukup lama. Beliau membayangkan kematian sepupu perempuannya yang juga menderita penyakit serupa. Beliau takut, jika dirinya juga mengalami hal yang sama. Beliau membayangkan bermacam pengobatan kanker payudara yang mengerikan, mulai dari operasi, biopsi, kemoterapi, dan lain sebagainya. 

Membayangkan hal tersebut, membuatnya mengurungkan diri untuk melakukan pengobatan secara medis. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk mencari pengobatan alternatif demi mendapat kesembuhan. Beliau mulai mendatangi berbagai pengobatan herbal yang memakan biaya hingga puluhan juta. Bahkan beliau pun menggadaikan beberapa hartanya, dan meminjam uang saudara-saudaranya untuk pengobatan (hlm. 66). Tidak hanya itu, beliau juga mendatangi tempat-tempat pengobatan alteratif lainnya, yang katanya mampu menyembuhkan kanker tanpa operasi. 

Akan tetapi, pengobatan alternatif yang beliau lakukan hasilnya nihil. Benjolan di payudaranya semakin membesar dari waktu ke waktu. Kegelisahan pun menyelimuti dirinya, hingga beliau sadar, bahwa ia harus kembali ke dokter, apapun resikonya. Sebagaimana tekadnya, “Aku harus kembali ke dokter! Aku harus berobat ke dokter! Tak ada lagi rasa takut yang menguasai hatiku. tekadku telah bulat, back to doctor!” (hlm. 72).  

Keesokan harinya, beliau menemui salah seorang dokter ahli kanker di sebuah rumah sakit. Sebelum operasi kanker payudara, ada beberapa tahapan yang harus dlakukan. Beliau memberanikan diri menjalani pengobatan demi pengobatan, mulai dari biopsi iris atau sayatan. Biopsi ini meninggalkan rasanya nyeri yang luar biasa, “Aku menahan rasa nyeri di payudaraku. Luka bekas biopsi meninggalkan rasa sakit tak terperi” (hlm. 75). Setelah itu, beliau menjalani Echo jantung untuk persiapan kemoterapi pertamanya. kemoterapi adalah memasukkan cairan khusus ke dalam tubuh. Itulah saat-saat menakutkan baginya. Proses kemoterapi memakan waktu hingga belasan jam. Selama proses kemoterapi itu, ia mendapat banyak suntikkan yang membuatnya kelimpungan menahan sakit dan nyeri.

Kemoterapi yang dijalaninya sebanyak tujuh kali. Empat kali sebelum melakukan operasi dan tiga kali kemoterapi lanjutan sebagai upaya untuk membunuh semua jaringan dan sel-sel kanker yang kemungkinan masih tertinggal dalam tubuh. Hingga pada akhirnya, perjalanan pengobatan yang panjang dan berliku, mampu menghantarkannya pada hasil yang manis, yakni kesembuhan. 

 Waauw, perjuangan yang luar biasa sekali, bukan? Membayangkannya saja, saya termasuk para pembaca disini pun belum tentu sanggup menghadapinya. Kemoterapi? ahh.. mendengarnya saja sudah bergidik ngeri. Belum lagi efek dari kemoterapi; tenggorokan terasa kering dan panas, mual dan muntah dalam waktu yang relatif lama, rambut yang terus saja berguguran, kulit menjadi kusam, dan lain sebagainya. Tapi, ibu Ida Cholisa ini mampu melewatinya dengan sabar dan tabah atas apa yang menimpa dirinya. Subhanallah. Semoga beliau dan keluarganya selalu diberi kesehatan, Aamiin.

Wallahu a’lam bisshowab. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar