Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GOES SEPEDA UNTUK CARI NAFKAH BUKAN UNTUK UP KONTEN DI STORY

sumber gambar: sabani.com


Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah 


Pasti semuanya udah tau, gimana keadaan kota yang nggak pernah sepi dari pagi buta sampai larut malam. Apalagi yang tinggal di daerah Jakarta dari yang di atas gedung sampai yang dibawah gedung.

Bagi orang yang hanya tau bahwa orang yang tinggal di kota itu apalagi di kota Jakarta bakalan hidup mewah tinggal di gedung tinggi pokoknya kebutuhan hidup serba terpenuhi. Tapi banyak juga orang yang berpendapat “Aduh, gamau lah tinggal di Jakarta. Tinggal di kolong jembatan, jadi pemulung, dll”. Eeet bukan berarti pekerjaan-pekerjaan itu hina. Apapun pekerjaannya selama itu halal why not?.

Sabar, pelan-pelan bacanya dong !

Oke, kalo kita searching di google “KOTA JAKARTA” klik bagian gambar. Pasti yang muncul pertama kali itu gedung-gedung, bunderan HI, patung Pancoran, orang-orang kantor, dan icon kota Jakarta lainnya. Padahal di belakang itu ada orang yang paling berperan. Tidak disangka penghuni gedung-gedung mewah itu doyan kopi seduh keliling. Entah, mereka juga butuh berhemat untuk hidup di wilayah yang serba mahal. Penggoes yang suka bawa kopi sachet berenteng-renteng terus termos di keranjang belakang plus gelas plastik kosong. Ya betul! Biasanya kalo di terminal namanya cangcimen pedagangnya jalan kaki, kalo ini goes sepeda atau biasa disebut (starling) starbucks keliling. Menarik.

Ternyata nggak semua pedagang kopi goes itu berasal dari Jakarta. Banyak yang dari luar Jakarta terutama dari Madura. Pasti temen-temen udah nggak aneh lagi kalo orang Madura ini banyak yang merantau dan buka usaha jual-beli. Menurut sumber, orang-orang Madura ini bisa dibedain, kalo dari daerah Sumenep itu rata-rata warung dan kalo ke daerah Sampang dan bangkalan itu sate. Dan 25 tahun yang lalu 90% penjual kopi ini orang Madura. Ada juga yang berasal dari Jawa Timur, 11 tahun bekerja sebagai penjual kopi keliling. Lebih dari ahli dalam rumus membuat kopi. Kopi merk ini takaran airnya segini kopi merk itu takaran airnya segitu.

Terlihat, hidup di kota itu harus kerja keras boss, hehe. Kendor sedikit buat beli makan sehari aja susah. Karena tuntutan perut, istri, dan anak (bagi yang sudah menikah) nggak bisa di adu banding. Oke, balik lagi keatas pekerjaan apapun itu selama kita berusaha keras dan halal pasti ada imbalan yang ngga kita duga. Terkadang juga suka aneh kalo inget rezeki hari ini, kemaren, kemaren lusa. “tapi kalo kita percaya sama Allah itu nggak aneh” (Pak kumis penjual starling bunderan HI)

Sumber Inspirasi: youtube Asumsi



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar