Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

FORMULA UNTUK MENCINTAI

Oleh Hariski Romadona

            Pria bisa menjadi godaan buat wanita dan juga wanita bisa menjadi godaan buat pria. Yang dipermasalahkan yakni aspek godaanya. Yang menggoda dan membuat orang keluar jalur dari cinta yang sesungguhnya. Tidak lagi di jalur yang lurus dan berada di jalan yang belok belok. Kecenderungan hati kepada lawan jenis baik pria atau wanita itu adalah fitrah. Intinya jangan menyesali kalau suka terhadap lawan jenis. Makanya banyak yang bilang kalau cinta itu anugerah. Jangan disesali, terhadap siapa saja, karena alhamdulillah kita bisa merasakan apa yang disebut dengan cinta.

            Akhir akhir ini banyak orang susah mencintai, akhirnya banyak timbul kebencian dimana-mana. Maka berterimakasihlah kepada Allah yang telah memberikan cinta. Cuma yang menjadi problem yaitu cara kita mengelola cinta itu. Kalau cinta itu sudah jatuh kepada lawan jenis, selanjutnya bagiamana cara mengelolanya. Kalau sampai salah maka kita akan keluar jalur. Maksud keluar jalur ini ialah menabrak apa yang dianggap baik di masyarakat.

            Lantas bagaimana cara kita memilih pasangan yang baik ? Sebenarnya yang utama yang kita pilih ialah yang ada passionnya. Ada rasanya, kalau tidak ada rasa hambar jadinya. Dalam agama disebut tidak hanya mahabbah, tetapi lebih dari itu yakni mawaddah, mahabbah yang sangat dalam. Bahkan lebih ada juga yang lebih dalam dan luas lagi yang namanya rahmah. Hanya sampai level itu kita bisa hadir pada wilayah yang namanya sakinah. Dari semua itu maka cinta yang paling utama yakni passion atau rasa.

            Mahabbah sendiri jika diterjemahkan gampangnya ialah ketertarikan pada physical. Laki laki suka pada perempuan yang cantik, yang kalau dilihat menggetarkan hati, membuat terpesona. Lah ini kalau semakin dalam, melampaui dari ketertarikan dari segi fisik saja, ini yang namanya mawaddah. Makanya kalau ada pasangan yang baru menikah maka akan didoakan menjadi pasangan yang mawaddah warahmah. Jangan hanya mahabbah, karena kalau mahabbah saja tidak lama itu akan hilang. Karena kecantikan atau kegantengan fisik itu durasinya tidak panjang.

            Lebih dalam lagi yakni rahmah, kalau mawaddah ini dalam tapi fokusnya jelas yakni ya engkau sang kekasih satu satunya. Sedangkan rahmah, cintanya sudah meluas tidak hanya untuk kekasih, tapi semua yang berhubungan denganya. Termasuk ayah, ibu, keluarga, masyarakat itu semua dicintai. Makanya islam itu disebut rahmatan lil alamiin dia menyebarkan kita ke seluruh penjuru alam. Maka cinta yang biasa yang physical namanya mahabbah, semakin mendalam ia menjadi mawaddah, meluas ia menjadi rahmah.

            Pada hakikatnya cinta itu perlu rasa, jangan gembleng (pokonya ada pasangan). Dan menikah jangan sampai terlintas di pikiran hanya coba-coba, bahaya sekali. Setelah ada rasa, boleh kita meminjam petunjuk-petunjuk tertentu agama. Lihat fisiknya, lihat hartanya, lihat nasabnya, dan yang puncak yakni lihat agamanya. Kalaupun empat hal ini ada, tetapi kalau tidak ada rasa ya jangan nekat. Menurut Imam Al Ghazali, agama disini yang paling diutamakan adalah akhlak atau karakternya. Setelah itu parameter nilai kereligiusan yang lainya. Setelah itu baru hartanya, cantiknya, nasabnya, pokok yang kita utamakan yakni akhlaknya dahulu. Kalau kita urut dari awal tadi, rumusnya mencintai ialah ada rasanya, karakter pekerti akhlaknya baik, setelah itu silahkan tambah sendiri tidak masalah.

Harta, tahta, wanita itu bisa jadi ujian dan bisa juga menjadi kebaikan bagi kita. Semuanya tergantung diri kita melihat, maka dari itu kita harus bisa melihat, harus punya cahaya. 

Diolah dari penjelasan Dr. fahruddin Faiz 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar