Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DI SAMPINGKU

 Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Semua barang sudah dikemas di dalam ransel besar. Sebagian lagi oleh Bibi diletakkan di dalam tas tenteng. Ia berpesan kepadaku agar menyusun tas berisi opak di bagian paling atas saat berada di dalam bus kota nanti.

“Jika sudah tiba di patung Kendedes segera hubungi Cak Ali, biar ia tidak tergesa menjemputmu di terminal” ujar Bibi seraya menutup resleting ransel yang tampak kelebihan muatan.

“Baiklah bi, aku akan menghubunginya nanti”

Pak Darsono selaku tukang bentor ke terminal telah siap membawaku pergi. Senyumnya merekah lebar. Mungkin barangkali aku adalah pelanggan pertamanya. Aku menyalami siapapun yang hadir di pekarangan rumahku. Tidak sedikit pula tetangga kanan kiriku menyelipkan uang ke dalam sakuku. Aku menolaknya, namun Bibi-Bibi bersikeras agar aku menerimanya.

Asap bentor mengepul hitam keluar dari gang kecil rumahku. Bergelut dengan udara bersih khas pagi di kampungku. Sepanjang jalan tidak ada percakapan antara aku dan  pak Darsono. Bukan karena apa, akan tetapi suara mesin bentor berbunyi sangat nyaring hingga memekikkan telinga.

Hampir berjalan sekitar setengah jam, kini jalanan koral telah berganti dengan aspal hitam, ini menandakan bahwa jarak ke terminal tidak jauh lagi. Jalanan yang awalnya lengang perlahan ramai oleh lalangan transportasi. Lampu PJR yang masih menyala bekas malam hari, baleho yang membentang tinggi dan warung-warung kecil yang sesak oleh penikmat kopi, menyambut pagiku di jalanan kota ini.

“Kau ingin turun di sini atau masuk hel?” pak Darsono mematikan mesin bentornya. Ia sedikit mengangkat lehernya lalu menghadap kanan kiri seperti mencari sesuatu.

“Aku berhenti di sini saja pak, toh nanti busnya juga keluar dari sini”.

“Baiklah hel, biar aku yang menurunkan barang-barangmu”

“Terimakasih, pak !”

Di tengah Pak Darsono menurunkan barang-barangku, bus bertulis jurusan yang kutuju merayap keluar dari dalam terminal. Pak Darsono dengan gegas melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa ada penumpang yang hendak naik ke dalam bus, dan itu aku.

“Hati-hati ya Rahel, titip salam buat Cak Ali” ucap Pak Darsono sebelum meninggalkan bus yang kutumpangi.

“Ini pak uangnya dan ini Rahel ada jam tangan buat Ara, putri bapak. Kebetulan Rahel punya dua jam tangan, disimpan ya pak!”

“Wah terima kasih banyak Rahel, ini masih bagus sekali. Semoga kebaikan selalu menyertaimu hel”.

“Amin ! Semangat kerjanya ya bapak”

Bus berjalan meninggalkan bibir pintu keluar terminal. Aku memilih duduk di samping kaca yang mengarah keluar. Di pagi hari isi bus memang sepi, hanya ada segelintir kepala saja yang memutuskan untuk pergi menggunakan bus ini.

Sekitar seratus meter kiranya. Seorang penumpang masuk ke dalam bus yang kutumpangi. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis dikejar masa. Aku terkejut, pria berhoodie hitam dengan masker yang menutup mulut dan hidungnya itu memilih duduk di sampingku. Ia bahkan tidak mengucapkan permisi kepadaku. Benar-benar pria aneh, batinku.

Sepanjang perjalanan kami berdua hanya membungkam suara. Ia mengarahkan pandangannya ke depan sedang aku memilih menghadap ke jendela untuk melihat pemandangan.

“Mas tiket, lima belas ribu”

“Mas bangun mas, tiketnya”

“Mas, lima belas ribu”

Sedikit terkejut aku melihatnya. Bagaimana bisa ia tiba-tiba tertidur pulas sedang beberapa menit lalu ia masih menatap kaca depan dengan wajah masamnya. Sungguh pria aneh.

“Berapa pak?” aku mengeluarkan selembar lima puluh ribu dari saku. Tak lama kemudian bapak tukang karcis itu memberiku uang kembalian.

“Bapak maaf, sepertinya bapak salah hitung hehe”

“Salah hitung bagaimana mbak?”

Aku menghitung berulang kali untuk memastikan, tapi kali ini aku benar, uang yang bapak berikan jumlahnya kurang.

“Harusnya kembali tiga puluh lima ribu pak, tapi bapak hanya memberiku uang kembalian dua puluh ribu saja”

“Iya mbak, kan mbak sama cowoknya” dengan jari telunjuknya, bapak itu menuding pria aneh yang masih nyenyak dalam tidurnya.

“Dia bukan cowok saya pak !” aku mengernyitkan dahi.

“Ya sudah, nanti kalau masnya bangun, mbaknya minta uang tiket ke dia. Nah, ini tiketnya untuk kalian berdua”

“Oh begitu ya pak, ya sudah pak terima kasih”

“Sama-sama. Tapi kalau dilihat-lihat kalian berdua kayak Lesti sama Billar hahaha”

“Mana ada pak”

Dua jaman bus melaju. Kursi penumpang perlahan mulai penuh. Tatkala aku masih asyik melihat-lihat pemandangan sambil mendengarkan lagu dengan headset. Tiba-tiba saja pria itu menjatuhkan kepalanya di bahuku. Aku sempat geram. Namun wangi rambut dan bajunya membawa nuansa yang berbeda di hidungku.

Aku mendengusi harum aromanya. Sial, itu membuat ia terbangun dari tidurnya. Ia mengangkat kepalanya dari bahuku, kukira ia hendak mengucapkan maaf akan posisi tidurnya. Ternyata salah, ia hanya mengubah posisi tidurnya saja.

“Dasar pria aneh!” aku menggerutu

“Bilang apa kau?” sial, ternyata pria itu tidak tidur dan ia mendengar gerutuku.

“Kau pria aneh”

“Kurang ajar!” pria itu membuka hoodie yang membungkus kepalanya lantas ia membuka maskernya.  “Ya Tuhan, indah nian ciptaanmu” gumamku dalam hati. Ia menjatuhkan wajahnya di hadapanku. Matanya berbinar indah, tepat di atasnya alis hitam menjuntai tebal. Hidungnya juga mancung, sangat serasi dengan kumis tipis di bawahnya. Wajahnya manis ditambah rambut hitamnya yang sangat eksotis.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau menyukaiku?” dengan sengaja ia semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku membalasnya dengan dorongan seraya membalas “Dih...tidak usah over confident cowok aneh”

“Aku? Aneh?”

“Iya kau aneh, sejak pertama masuk dan duduk di sini kau sudah aneh. Kau bahkan tidak mengucapkan permisi saat akan duduk di sebelahku. Lebih anehnya lagi, mengapa kau memilih duduk di sebelahku sedangkan masih banyak kursi yang kosong? Oh, apa jangan-jangan kau yang menyukaiku.” Mendengar kata-kataku, raut wajah pria itu berubah menjadi seperti seorang gadis yang bertemu ulat bulu, geli. Tanpa menghiraukannya, aku  terus melanjutkan ocehanku.

 “Bukan hanya itu, kau juga tidak sedikit pun berkeinginan untuk mengucapkan maaf saat kepalamu bersandar di bahuku, itu sangat sakit pria aneh, dan kau tanpa bersalah tidur seenaknya.”

“Sudah selesai ngomongnya?”

“Belum. Satu lagi, kau masih berhutang lima belas ribu kepadaku untuk membayar bismu. Ini tiketmu dan kembalikan uangku”

Tanpa berpikir panjang, pria aneh itu merogoh saku hoodienya. Ia mengeluarkan sebungkus kantong plastik yang seperti membungkus sebuah benda. Kemudian ia menatapku lekat-lekat dan berujar dengan suara beratnya.

“Pertama, aku ingin meminta maaf atas ketidaksopananku kepadamu. Kedua, aku berterima kasih akan kebaikanmu yang sudah membayar busku. Ketiga, aku hanya punya ini. Ambillah! Aku memberikannya kepadamu”

Aku menerima bungkusan keresek hitam itu. Lantas pria itu berdiri  dan berjalan ke depan. Menyadarinya aku refleks menarik tangannya.

“Ada apa?” ia menoleh kepadaku, aku tersipu.

“Kau mau ke mana?”

“Aku sudah tiba di tujuanku, jadi aku harus turun sebelum bus ini kembali berjalan”

Aku mengulurkan tangan kepada pria itu, ia membalasnya dengan tangan yang sangat dingin.

“Rahel”

“Arhan”

Bus kembali melanjutkan perjalanan setelah menurunkan pria aneh itu. Aku sedikit merasa kehilangan. Kehilangan harum rambut dan badannya. Sepertinya aku jatuh hati kepadanya, pria bertubuh wangi.

Sembari menunggu bus tiba di tujuanku, aku memilih membuka bungkusan dari pria bertubuh wangi itu. Isinya tidak terlalu besar dan seperti terdapat kotak lagi di dalamnya.

“Apaaaa?” aku tersontak. Pria bertubuh wangi itu memberiku sebuah jam tangan yang sama persis dengan jam tangan yang kuberikan kepada Ara, putri pak Darsono. Namun aku masih berbaik sangka, kalau jam tangan seperti ini tidak hanya satu di dunia.

“Mbak turun patung Kendedes bukan? Ayo mbak maju, sudah mau tiba”

“Oh baik pak, terima kasih”

Sambil terseok karena membawa tas-tas yang sangat berat, aku keluar dari bus kota dan memilih duduk di halte dekat patung Kendedes. Tiba-tiba seseorang memanggilku

“Rahel !!”

Itu suara Cak Ali, ternyata ia sudah menungguku di sini. Aku bahkan lupa menghubunginya saat di bus.

“Cacakkk !!” ada yang beda dengan Cak Ali. Wajahnya seperti sedang menahan duka yang sangat mendalam.

“Ada apa cak? Sepertinya kau habis menangis?”

“Kau belum mengetahuinya hel?”

“Soal apa cak?”

“Pak Darsono meninggal hel, ia dibunuh dan dirampok”

“Cacak yang benar saja”

Bergegas aku membuka ponselku untuk memastikan kebenarannya. Dua puluh pesan masuk dan semua hampir menanyakan keadaanku dan berita kematian Pak Darsono. Mungkin mereka juga mengkhawatirkanku secara aku adalah orang yang tadi pagi bersama Pak Darsono.

Firasatku semakin kelam. Hanya ada satu nama yang menggelayuti pikiranku. Arhan. Saat ia tiba di bus nafasnya tersengal. Mungkin ia lari ketakutan setelah melakukan perbuatan biadab itu. Kedua, Arhan memberiku jam tangan yang hampir sama persis dengan yang kuberikan kepada Ara.

Bodohnya aku. Bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa pemilik wangi rambut dan badan yang hampir membuatku jatuh cinta ternyata adalah pembunuh pak Darsono. Lalu apa tujuannya ia membunuh tukang bentor yang bahkan tidak pernah sekalipun mengganggu orang. Siapa yang menyuruhmu Ardan?



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar