Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CANDU RESTU

sumber gambar: pngtree


Oleh: Hany Zahrah

“Apa kabar? Aman tah?”

Pertanyaan yang simpel tapi cukup sulit dijawab. bak mengerjakan soal fisika yang harus mengotak-atik rumus untuk mengetahui jawaban yang pasti. Menjadi anak perempuan pertama, dan cucu pertama memang menyenangkan, tapi itu dulu. Tidak saat sudah beranjak dewasa. Bertahan dalam keadaan yang tidak sesuai keinginan, bukanlah hal yang mudah untuk Amira. Lahir dari keluarga yang serba berkecukupan, membuat pundaknya semakin berat. Karena bisa jadi ini adalah tantangan Amira untuk dituntut lebih dari keluarganya yang sekarang, baik dari sisi pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, dan juga pasangan hidup.

Merantau ditanah jawa, yang mayoritas kehidupannya berbanding 90 derajat. Mulai dari makanan, cara berpakaian, cara bergaul, dan bahasanya. Membuat amira harus belajar beradaptasi.

“Huft”

Celengan rindu yang sudah tak mampu lagi dibendung. Konon katanya pertemuan akan sangat berarti jika melibatkan rindu. Itulah yang dirasakan Amira saat ini. Memang, support system terbaik adalah diri sendiri.

“Ah sudahlah”

Mungkin semua rasa sudah pernah dirasakan. Sampai berpura-pura bahagia pun sudah tamat. Apalagi sekarang Amira sudah menginjak semester akhir, yang mana Ia harus bersiap menyelesaikan study nya itu. Jurusan yang tak sesuai dengan passion Amira, membuat Ia harus belajar ekstra mengejar teman-temannya. Berlari saja tak cukup, mungkin butuh roket untuk bisa setara dengan mereka.

Teringat perkataan seseorang, “ketika satu urusanmu dipermudah, maka satu doa ibumu dikabulkan”. Mungkin saja alasan Amira masih sanggup bertahan sampai tahap ini adalah doa dari ibunda tercinta. Sempat teringat beberapa bulan yang lalu, Amira meminta restu kepada kedua orangtua saat sebelum konsultasi judul. And then, taraaaaaa…. Betapa mengejutkan sekali, Amira lolos pengajuan judul tahap pertama. Jika diukur kemampuan, bak langit dan bumi, sangat jauh dan mustahil sekali. Mulai dari sinilah Ia percaya, betapa dahsyatnya doa orangtua. Segala yang mustahil bisa terjadi, dan yang jauh bisa menjadi dekat, kemudian sebaliknya yang dekat bisa menjauh hanya karena keajaiban doa.

Keajaiban tidak hanya berhenti disana, satu bulan yang lalu sebelum pengumpulan kompre. Amira pun melakukan hal yang sama. Dan keajaiban itu terjadi terulang lagi. Amira lulus.

“Cieee lulus kompre, selamat ya”

perkataan yang dilontarkan zakia dengan penuh semangat. Melihat tatapan mata zakia, Ia tau ada kesedihan disembunyikan dibalik matanya. Hanya pelukan hangat yang membalas ucapan zakia. Benar saja, air mata sudah tak bisa dibendung lagi, pundak Amira basah dibuatnya.

“gapapa, nanti aku bantu ya. Bantu doa maksudnya”

“hahahaha”

Tangisan pun pecah menjadi tawa. Zakia adalah salah satu teman dekat Amira. Memang mereka belum kenal lama. Karena se-frekuensi lah yang membuat mereka dekat dalam waktu singkat. Bersyukur sekali karena dari dulu Amira dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Mungkin pertemuan ini salah satu doa dari ibu.

Masih ada dua tahap lagi untuk bisa menambah buntut diakhir nama. Yups, gelar sarjana. Amira berharap ridho orangtua selalu menyertainya. hanya perlu keistiqomahan dan semangat yang tak boleh kendor. Mengingat usia orangtua yang terus bertambah, Ia hanya berharap umur panjang dan kesehatan untuk kedua orangtuanya.

“Mah,Pak, bulan ini zakia daftar sempro, doain ya mah, pak”

“Semangat neng, semoga dipermudah segalanya”

Moodbooster banget ketika membaca balasan pesan tersebut. Dan sampai saat ini, restu orangtua menjadi candu. Semoga banyak keajaiban yang muncul setelah ini.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar