Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Buku Bucin Yang Gak Bucin-Bucin Amat

Sumber : Pribadi


Astri Liyana N

Belakangan ini kata bucin sedang marak-maraknya di kalangan kawula muda. Katanya sih, kata bucin ini menyimpan makna di mana seseorang yang sedang dimabuk cinta, sehingga bisa melakukan hal-hal yang irrasional demi sang pujaan. Budak cinta atau yang kita kenal sebagai bucin, atau jika kalian setuju kita bisa mengistilahkannya sebagai rasa cinta tanpa logika. Bagaimana tidak, seseorang yang sedang ‘bucin’ sering kali melakukan hal-hal yang dia sendiri mungkin tidak pernah dilakukan dalam hidupnya.

Sejalan dengan itu, ada satu buku yang sangat menarik perhatian saya, setelah berbulan-bulan mengharapkannya, akhirnya sampai juga di tangan saya. Senang bukan kepalang. Saya langsung duduk tak berkutik dan melahap habis buku itu dalam waktu satu jam. Buku tersebut berjudul “Ikhlas Paling Serius”karya Fajar Sulaiman.Seorang pria yang bertanah kelahiran sama dengan saya, yakni Banten. Lahir pada 18 Mei 1992.

Sepanjang membaca buku ini, saya tidak lepas dari kata “Waah..gila”, “Bener-bener ya, nih orang” suatu ungkapan yang refleks saya ucapkan. Tulisannya mampu membuat hati saya porak-poranda, cieilaah:v. Gimana ya, hampir semua yang dituliskan dalam buku ini, relate dengan kehidupan yang yaa..bisa dikatakan pernah saya alami. Bukan hanya saya, mungkin pembaca yang lainnya pun akan merasakan demikian. Saya yakin betul, tulisan yang beliau buat ini benar-benar ditulis dengan hati paling dalam. Sebab, sesuatu yang disampaikan dengan hati, akan sampai ke hati pula. hehe.

Lebih dari itu, kata-kata beliau juga mampu membuat kita mengingat masa lalu yang sebenarnya sedang berusaha kita lupakan. Jadi, yang mau membaca buku ini, hati-hati saja. setiap ungkapan dalam buku ini, mampu membuat ingatan yang ingin kita kubur dalam-dalam, malah terkuak kembali ke daratan.Contohnya kata-kata yang satu ini:

Bagaimana hati yang awalnya utuh

dibuat runtuh oleh raga yang

tidak bertangggung jawab

bisa dengan mudah pulih?

jika melupakannya saja masih tertatih.

(Fajar Sulaiman, 153).

Selain membuat kita mengingat masa lalu, tulisan ini juga mengandung sebuah tamparan tidak langsung;“Kita ternyata dinasibkan sebagai sebuah ‘pernah’ bukan ‘selamanya’ seperti yang kita dambakan” (hlm. 159). Dalam memaknai konteks ini, kita dianjurkan untuk mencintai sesuatu sewajarnya saja, seperti mencintai pacar anda, gebetan, or whatever it’s called. Tapi kalau dalam konteks ini kita menempatkan orang tua, waah, tidak bisa kita memaknainya dengan “mencintai sewajarnya” justru harus “sebesar-besarnya”, karena kita tidak akan selamanya bersama, seperti yang kita damba.

Di samping itu, tulisan ini juga menghibur. Seolah-olah kita memiliki seseorang yang memahami perasaan kita, yang kadang kita tidak bisa menceritakannya kepada orang lain. Entah ketika itu, saya sedang mengalami apa dan perasaan saya bagaimana, namun yang pasti, saya terhibur oleh kata-katanya:

senang akan hilang, sedih akan letih,

luka dan air mata, tawa dan bahagia, hanya sementara,

jadi tak perlu berlebihan dalam menyikapi perasaan. (hlm. 151).

 

Membaca buku Ikhas Paling Serius menjadi sebuah usaha baru untuk menata hati, menjadi awal bertumbuh, dan mengantarkan kita pada sejatinya sebuah keikhlasan atas kehidupan yang sedang kita jalani. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar