Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Studi Komparatif Antara Peribahasa Arab dan Peribahasa Indonesia

sumber : https://www.pinterpandai.com/wp-content/uploads/2017/12/Ungkapan-Bahasa-Latin.jpg


Astri Liyana Nurmala Sari


Abstrak

Peribahasa Arab disebut juga dengan matsal yaitu ungkapan pendek yang beredar di masyarakat yang berisi tentang pikiran yang bijak, tentang aspek kehidupan manusia yang berubah-ubah. Peribahasa juga merupakan kelompok kata atau kalimat yang tetap susunanya, biasanya mengiaskan maksud tertentu dan juga termasuk bidal, ungkapan, dan perumpamaan. Peribahasa juga merupakan gambaran dari nilai-nilai kebudayaan, yang bisa kita temui kemiripan makna Meskipun dengan ungkapan yang berbeda, perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor kebudayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkomparasikan antara pribahasa Arab dan Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dan termasuk jenis penelitian pustaka. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer, yakni literatur-literatur baik buku, jurnal, dan penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik baca dan catat.

Kata Kunci: Amtsal, peribahasa Arab, peribahasa Indonesia

Latar Belakang

Peribahasa pada hakikatnya ialah fenomena bahasa yang bersifat universal dan mengandung makna-makna universal dan hampir tiap bahasa memiliki tradisi peribahasa dalam sistem komunikasi. Akan tetapi, peribahasa yang ada pada sebuah negara tidak lah sama dengan peribahasa negara lain, sesuai dengan kondisi sosial, budaya, sejarah, serta geografis yang mempengaruhinya (Wardani dan Buana, 2012: 12)

Setiap negara mempunyai peribahasa tersendiri yang merupakan kekhasan suatu negara. Di negara Arab, istilah pribahasa ini dikenal dengan sebutan “matsal” atau “amtsal”. Amtsal merupakan cerminan dari nilail-nilai kebudayaan bahasa Arab yang hidup di tengah-tengah masyarakat setempat (Purweta, 2020). Amtsal atau pribahasa berupa ungkapan-ungkapan singkat dan padat dalam memberikan wejangan atau nasehat sebagai hasil perenungan yang tepat sudah menjadi tradisi masyarakat Arab pra-Islam (Makrifah, 2020: 218). 

Peribahasa juga merupakan cerminan dari nilai-nilai kebudayaan yang sangat mudah dijumpai manusia dengan kemiripan makna. Walaupun dengan ungkapan yang berbeda, perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor kebudayaan. Hal tersebut merupakan bukti bahwasannya makna sebuah kata terikat oleh lingkungan kultural dan ekologis pemakai bahasa tertentu (Hamidah, 2010: 2). Berdasarkan alasan inilah, peneliti bermaksud untuk mengidentifikasikan serta mengkomparasikan peribahasa Arab/amtsal dan peribahasa Indonesia.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, dan termasuk jenis penelitian pustaka. Adapun sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer. Sumber data primernya adalah literatur-literatur baik buku, jurnal, penelitian terdahulu, atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan peribahasa Arab/amtsal dan peribahasa Indonesia. Dan teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik baca dan catat. Kemudian data yang dihasilkan diolah dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) mengumpulkan semua data dari hasil baca dan catat yang terdapat dalam buku catatan (2) memilah, memilih dan mereduksi data dengan memetakannya ke dalam kebutuhan pokok penelitian, (3) menyajikan dan menganalisis data, (4) memeriksa kembali kesesuaian data yang dianalisis dengan hasil baca dan catat (5) menarik kesimpulan. 

Perbadingan Peribahasa Arab/Amtsal dengan Peribahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, peribahasa sering disebut dengan pepatah, yang secara istilah dimaknai sebagai kelompok kata yang memiliki susunan yang tetap dan mengandunng pengertian tertentu. Peribahasa juga merupakan perumpamaan, yaitu perbandingan makna yang jelas, karena ia di dahului oleh perkataan seolah-olah, ibarat, bak, seperti, laksana, macam, bagai, dan umpama (Wardani dan Buana, 2012: 12). 

Contoh dalam peribahasa berikut, “قبل الرم اء ثملأ الكنائن” artinya “isilah busur sebelum memanah” dalam peribahasa Indonesia, hal tersebut senada dengan “sedia payung sebelum hujan”. Kedua peribahasa tersebut memiliki pesan yang sama, yaitu segala sesuatu harus dipersiapkan dengan matang, sehingga dapat mengantisipasi sesuatu yang ttidak diinginkan. Akan tetapi, jika dilihat dari segi eksternal, kedua peribahasa tersebut dipengaruhi oleh unsur yang berbeda. Pemilihan kata yang digunakan dalam peribahasa Sangat dipengaruhi oleh tradisi berperang yang senantiasa membutuhkan berbagai persiapan termasuk senjata. Di antara senjata perang yang paling populer saat itu adalah panah tempat untuk menyimpan tanah dalam bahasa Arab disebut dengan kanain atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama busur. Pada peribahasa Indonesia unsur geografis atau alam sangat dominan mempengaruhi gaya bahasanya yaitu kata hujan yang identik dengan negara beriklim tropis. Berdasarkan hal tersebut dampak Perbedaan latar belakang lahirnya suatu berbahasa sesuai dengan kondisi yang mempengaruhinya meskipun peran pesan yang terkandung dalamnya sama (Wardani dan Buana, 2012: 12).

Peribahasa ialah tuturan tradisional yang mempunyai sifat tetap pada pemakaiannya, mengandung makna kiasan, dan tidak mengandung makna simile (Borgias, 1993, 363). Peribahasa Indonesia dapat diartikan tuturan atau ungkapan yang bersifat tetap pada pemakaiannya dan mengandung makna kiasan. Peribahasa sendiri sebagai satuan bahasa yang sifatnya tetap ataupun konstan baik berupa satuan frasa, satuan kalimat, ataupun satuan klausa. (Holila, 2013, h. 3).

peribahasa Arab disebut juga dengan amtsal. Kata Amtsal merupakan bentuk jamak dari kata matsal. Kata matsal, matsil, mitsl, ialah sama dengan syabah, syibh, syabih, baik lafadz maupun maknanya (al-Qattan, 2013: 401). Secara etimologi matsal memiliki arti contoh atau bandingan. Dengan demikian, apabila membandingkan ssuatu dengan yanng lain baik dari segi rupa, warna, rasa dan lain sebagainya. al-Zamakhsary dalam tafsir al-Kasysyaf mengisyaratkan, matsal memiliki dua makna, pertama: matsal pada hakikatnya berarti al-Mitsal dan An-nadhir yang berarti serupa atau sebanding/pasangan. Kedua, matsal termasuk isti’arah yaitu kata pinjaman yang berguna menunjuk terhadap keadaan sesuatu, sifat dan kisah, jika ketiganya dianggap penting dan memiliki keanehan (Nuryadien, 2017: 4).

Amtsal dalam tradisi sastra Arab pada dasarnya telah lahir sejak zaman Jahiliyah bahkan sebagaimana syair Ia juga tidak diketahui kapan kelahirannya. Namun dalam amtsal baik yang dihasilkan masa Jahiliyah maupun Islam banyak mengandung pesan-pesan moral meskipun terdapat perbedaan antara angsa jahiliyah dan Islam diantaranya adalah amtsal masa Jahiliyah biasanya lahir berdasarkan peristiwa yang terjadi di masyarakat, sedangkan pada masa Islam lebih didasari oleh prinsip prinsip ideologi Islam baik Alquran atau Hadis (Wardani dan Buana, 2012: 18).

Dalam buku “an-Nushush al-Adabiyyah” Karya Abdul Kudus Abu Sholih, beliau menjelaskan bahwa peribahasa Arab adalah ucapan dari orang arab (baik badui atau bukan) yang ringkas dan padat. Serta memiliki pengaruh bagi orang yang mendengar atau membacanya. Peribahasa Arab yang biasa di sebut  amtsal yang merupakan jamak dari kata matsal juga selalu memiliki kronologi dalam penciptaannya. (Muflihah, 2014: 202-205) Pada intinya, amtsal memiliki beberapa syarat, yaitu (1) ringkas, (2) diterima orang banyak , (3) baik kata-kata maupun isinya, (4) penyerupaan yang tepat, (5) tidak dapat diubah (harus di ucap sesuai asalnya). (Mahwiyah, 2014: 239-240).

Seperti contoh kalimat أَحَشَفاً و سوءَ كيلَةٍ alangkah keji dan buruknya timbangan ini. Hal ini di ucapkan oleh orang badui yang hendak membeli kurma di pasar. Saat di perjalanan dia melihat kurma yang matang dan masak di atas pohon. Akan tetapi saat dia membeli di pasar, dia mengetahui bahwa kurma yang di dapatnya adalah kurma busuk. Orang badui tersebut juga melihat bahwa si penjual mengurangi timbangan kurmanya. Maka dia pun menggerutu akan hal tersebut. (Muflihah, 2014).

Adapun perbedaan di antara kedua dapat dilihat pada tabel berikut:

Peribahasa Arab

Peribahasa Indonesia

Gaya bahasa: Isti’arah tamtsiliyah, tasybih tamtsil, isim tafdhil

Gaya bahasa: Majaz/kiasan

Peribahasa bukan sebuah pepatah

Peribahasa merupakan sebuah pepatah

Peribahasa mengandung perumpamaan

Peribahasa dianggap sebagai sebuah perumpamaan

Peribahasa Arab bukan merupakan sebuah pantun

Peribahasa dianggap sebagai salah satu jenis pantun


Adapun letak persamaan dari keduanya adalah, pertama, keduanya sama-sama berfungsi untuk mengkiaskan sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui bahasa kiasan. Kedua, keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar. Ketiga, kegunaanya termasuk dari salah satu bentuk keindahan bahasa ( Mufliha, 2014: 214).



Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa peribahasa Arab adalah perkataan orang Arab yang ringkas, padat, juga memiliki pengaruh pada jiwa seseorang yang membaca atau mendengarnya. Sedangkan peribahasa Indonesia adalah kata atau kalimat kiasan yang diung- kapkan seseorang untuk tujuan tertentu. Peribahasa Indonesia meliputi; ungkapan,pepatah, perumpamaan.

Perbedaan antara peribahasa Arab/Amtsal dan peribahasa indonesia terletak pada gaya bahasa. Gaya bahasa peribahasa Arab berupa isti’arah tamtsiliyah, tasybih tamtsil, isim tafdhil. Sedangkan gaya bahasa peribahasa Indonesia berupa majaz atau kiasan. Kemudian,  amtsal bukan merupakan sebuah pepatah, sedangkan peribahasa indonesia dianggap sebuah pepatah. Amtsal mengandung perumpamaan, sedangkana peribahas Indonesia dianggap sebagai perumpamaan. Amtsal bukan sebuah pantun, sedangkan peribahasa Indonesia dianggap sebagai pantun.

Adapun letak persamaan dari keduanya adalah, pertama, keduanya sama-sama berfungsi untuk mengkiaskan sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui bahasa kiasan. Kedua, keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar. Ketiga, kegunaanya termasuk dari salah satu bentuk keindahan bahasa.



Daftar Pustaka

Al-Qattan, M. K. 2013. Mabahits fi Ulumil Quran. Terj. Mudzakir. Studi Ilmu-Ilmu Quran. Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa.

Borgias, F. 1993. Bahasa dan Realitas Perubahan Sosial. Dalam basis, Oktober 1993 XLII, no. 10.

Hamidah, Siti. 2010. Peribahasa Arab Dalam Buku Bahasa Gaul Ikhwan Akhwat Pendekatan Penilaian Penerjemahan. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Holila, Anni Pulungan. 2013, Kajian Etnolinguistik Terhadap Peribahasa Dalam Bahasa Indonesia: Sebuah Tinjauan Pragmatik Force (Daya Pragmatik). Dalam Digital Repository UNIMED 13 April 2016, Vol. 2. No. 3.

Nuryadien, M. (2017). Metode Amtsal: Metode Al-Quran Membangun Karakter” Jurnal Al-Tarbawi Al-Haditsah. Vol.1 No.1. Cirebon : IAIN Syekh Nurjati. doi:10.24235/tarbawi.v1i1.1227

Makrifah, Nurul. 2020. Macam Dan Urgensi Amtsal Dalam al-Qur’an. Journal Of Islamic Studies. Vol. 7 (2). 

Muflihah. 2014. Peribahasa Di Dalam Bahasa Arab Studi Komparasi Peribahasa Arab dengan Peribahasa Indonesia.  jurnal pendidikan bahasa Arab IAIN sunan Kudus. Vol. 6 (2). 

Mahwiyat, Siti. 2014. Unsur-Unsur Budaya Dalam Amtsal Arabiyah. no.2 vol 4, jurnal pendidikan bahasa Arab dan kebahasaaraban. Vol. 4 (2)

Purweta, Humas. 2020. Mengenal Beberapa Amtsal/Matsal Yang Mirip Dengan Peribahasa Indonesia. Dalam website portal berita http://kemendikbud.go.id. Diakses pada tanggal 6 Januari 2020.

Wardani dan Buana, Cahya. 2012. Pengaruh Unsur-Unsur Ekstrinsik Terhadap Diksi Peribahasa Arab Dan Indonesia Analisis Sastra Banding. Lembaga Penelitian (LEMLIT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar