Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SANTRI PENJAGA WARISAN ULAMA


Oleh: Muhammad Rian Ferdian

        Secara etimologi, kata ‘ulama’ merupakan bentuk jama’ dari kata ‘alim’ yang berarti orang yang berpengetahuan atau ahli ilmu¹.  Sedangkan menurut terminologi, ulama adalah orang yang ahli atau dalam pengetahuan agama Islam².  Di Indonesia istilah ulama lebih diakrab dengan sebutan Kiyai. Menurut KH. Sahal Mahfudh, kiyai adalah julukan bagi orang yang ‘aalim allamah, berakhlak baik, memiliki pemahaman akan syariat, dan mampu beramal dengan ilmu-ilmunya. Maka dapat kita garis bawahi bahwasanya ulama atau kiyai adalah orang-orang yang menguasai ilmu agama secara mendalam, memiliki akhlak yang baik serta mampu mengamalkan ilmu-ilmunya tersebut. 
        Dalam hadits dijelaskan bahwasanya para ulama adalah pewaris dari para nabi. “Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), tidak juga dirham (perak), akan tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya , maka ia telah mengambil bagian yang banyak”³.  Ilmu yang terwariskan kepada para ulama inilah yang membuat kita saat ini bisa belajar tentang agama Islam, seperti ilmu tauhid, fiqih, akhlak, dan lain-lain.
  Sebagaimana telah kita ketahui bersama, diantara kebiasaannya para ulama adalah suka menulis. Para ulama, habaib, kiyai, guru kita itu memiliki kutub at-turats (kitab kuning) yang banyak. Di antara ulama Indonesia yang produktif dalam menulis kitab, yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani. Beliau merupakan Musannif (pengarang) dari puluhan-puluhan kitab fiqih, tasawuf, tauhid, dan tafsir. Di antara karya beliau yang masyhur dan dikaji di banyak pesantren dan kalangan masyarakat adalah kitab Kasyifatussaja Syarah Safinatuunaja, Nurudzholam syarah nadhom Aqidatul ‘Awam dan Nashaihu al-‘Ibad syarah al-Munabbahat ‘alaa al-Isti’dad li yaum al-Mi’ad. Selain tiga kitab tersebut, ada puluhan kitab lain lagi seperti Tafsir Maroh Labid li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, Qomi’u at-Thugyan syarah Mandhumah Syu’bul Iman, at-Tsimar al-Yani’ah syarah Riyadul Badi’ah, Nihayatu al-Zain syarah Qurratu al-‘Ain bi Muhimmah al-Din, Quwt al-Habib al-Gharib syarah Fath alQarib al-Mujib, Qomi’u at-Thugyan syarah Mandhumah Syu’bul Iman, dan lainnya.
        Maka dengan banyaknya karya-karya ulama yang tertuang dalam kitab-kitab yang ditulisnya, tugas kita sebagai santri hari ini adalah mempelajarinya. Untuk bisa mempelajari kitab kuning, seorang santri harus bisa membacanya terlebih dahulu. Modal utama untuk bisa membaca kitab kuning adalah dengan menguasai Ilmu Nahwu dan Shorof. Maka pesantren-pesantren di Indonesia harus memfasilitasi para santrinya untuk belajar Ilmu Nahwu dan Shorof dengan kitab-kitab rujukan yang telah ditulis oleh para ulama, seperti kitab Jurumiyah, Imrithy, Alfiyah ibn Malik, dan lainnya. Disiplin ilmu ini sangat penting untuk dipelajari di pesantren-pesantren agar para santri mampu membaca dan mempelajari kitab kuning.
        Dengan mempelajari kitab-kitab para ulama, berarti kita menjaga agar ilmunya para ulama yang kita kaji melalui kitabnya tetap terjaga dan akan senantiasa dipelajari oleh generasi penerus kita selanjutnya. Seandainya santri tak bisa membaca kitab-kitab warisan para ulama tersebut, tak mau berusaha mempelajarinya, maka bukan hal yang mustahil karya-karya ulama tersebut akan hilang ditelan zaman.
        Padahal salah satu prinsip dari seorang santri adalah Naib ‘anil-Masyayikh (penerus para guru). Hal ini adalah kaderisasi yang dilakukan oleh para ulama agar kelak para santri menjadi penerus estafet perjuangnya. Inilah mengapa ikatan batin para santri dengan kiyai atau guru-gurunya sangat kuat. Biasanya santri belum boleh pulang dari pesantren sebelum mumpuni dalam hal ilmu dan akhlaknya, agar kelak santri tersebut bisa meneruskan perjuangan sang guru. Sedangkan salah satu pemerolehan ilmu itu bisa didapat dengan cara mempelajari kitab-kitabnya para ulama.

Referensi:
¹A.W. Munawwir, Kamus Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap.(Surabaya: Penerbit Pustaka Progressif, (1997) hal. 966.
²Departemen Pendidikan Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 541.
³Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 3641.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar