Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Samanhudi, Pelopor Pertanian Organik Banyuwangi- Menjaga Ekosistem dari Pestisida Kimia


Sumber :kaskus.id

Oleh : Ahmad Jaelani Yusri

Pertanian merupakan sektor perekonomian utama bagi masyarakat Singojuruh, Banyuwangi.  Berdasarkan data terakhir Balitbang Pertanian tahun 2020 menyatakan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor unggulan di Kabupaten Banyuwangi, dan kontribusinya terhadap PDB  sebesar 29,62 %. Tentunya, itu merupakan angka tertinggi diantara lapangan usaha lainnya di wilayah ini.

Berbicara mengenai meningkatnya produksi pertanian di Banyuwangi. Ada salah satu tokoh yang menyumbang inovasi dan menjadi penggerak para petani. Dia bernama Samanhudi, pelopor pertanian organik yang sukses berperan menggantikan peran pestisida kimia yang membahayakan lingkungan menjadi pestisida organik yang ramah lingkungan.

Pada hakikatnya sawah pupuk kimia sintetik itu hanya mencukupi kebutuhan hara tanaman sesaat dan celakanya penggunaan pupuk atau pestisida berbahan kimia akan menimbulkan kerusakan pada ekosistem setempat. Samanhudi menjelaskan apabila penggunaan pestisida kimia terlalu intens digunakan maka akan mengganggu ekosistem, contohnya apabila terdapat belalang yang mati akibat pestisida lalu dimakan oleh burung, burungpun ikut mati akibat keracunan, kemudian dimakan lagi oelh ular atau musang maka mereka semua akan mati keracunan pula. Belakangan disadari, pestisida yanng awalnya membantu petani justru menjadi musuh untuk ekosistem sekitarnya.

Oleh karena itu timbullah inisiatif dari Bapak Samanhudi memperkenalkan pertanian organik. Pertama-tama , petani harus meminimalisir kandungan zat kimia di dalam tanah. Salah satunya adalah memanfaatkan eceng gondok. Eceng gondok berfungsi sebagai fitoremediasi tanaman penyerap polutan yang efektif.  Karena akarnya itu berfungsi untuk menyerap klorin dan racun-racun yang akan masuk ke lahan organik. Kemudian indikator untuk mengetahui lahan subur atau tidak adalah melihat apakah ada rumput yang berakar panjang di sawah padi. 

Bertani organik bukanlah hal yang mudah oleh karena itu perlu ada jaminan yang diberikan pada petani, untuk hal ini mitra petani dipinjam bibit  dan pupuk organik hingga mereka dapat bertani dengan maksimal dan mencapai produksi yang optimal dan berkelanjutan. Disamping itu, dengan dibantu dengan alumni kampus negri yang berbeda, Samanhudi mendirikan unit usaha beras organik yang diberi nama Sirtanio Corporate Farming , usaha tani yang pengelolaanya dilaksanakan suatu lembaga agribisnis. Usaha ini menjadi wadah bagi produksi beras organik. Bahkan produksi beras tersebut banyak dikirim ke luar negeri seperti Italia, China bahkan Amerika.

“Kunci pertanian organik adalah keberlanjutan di lahannnya, ditanamannya” ujar Pak Samanhudi. Perlunya kontinyuitas dan konsisten sangat diperlukan untuk memajukan pertanian organik ini karena sulitnya memberi pemahaman kepada para petani diawal-awal masa pengenalan. Pada akhirnya semua itu berjalan dengan keyakinan dari Pak Samanhudi yang terus melakukan penyuluhan.

Saat ini 140 petani telah bergabung dalam usaha Sirtanio untuk menggarap sawah sekitar 80 hektar. Samanhudi berharap Sirtanio dapat menjadi motor penggerak pertanian di indonesia. Tujuannya hanya satu agar sistem pertanian berkelanjutan semakin meluas di Indonesia dan pada akhirnya ketahanan pangan dalam negeri dapat kembali terkelola.

Sumber : DW. Indonesia


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar