Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SALAHUDDIN WAHID: MENJADI PENULIS

Source Image: https://www.masrofiq.com/2020/02/mengenang-gus-sholah-profil-dan-biografi-gus-sholah.html

Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Salahuddin Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Sholah adalah putra KH Wahid Hasyim (1914-1953) dan cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari (1899-1947). Semenjak meninggalkan kegiatan-kegiatannya di perusahaan pada tahun 1998, Gus Sholah mempunyai banyak waktu luang. Kesempatan ini tidak beliau sia-siakan yakni dengan memperbanyak bacaan dari buku- buku. Gus Sholah di usia muda sudah gemar membaca buku, maka tak heran jika beliau telah memakai kacamata saat itu. Bahkan, semua anak Kiai Wahid sudah berkacamata sejak kecil.

Di saat yang bersamaan, sembari tekun membaca, perlahan-lahan Gus Sholah juga membiasakan diri untuk menulis. Sebelumnya beliau merasa hampir tidak akan pernah mampu menulis, beda seperti kakaknya, Gus Dur yang sejak kecil terbiasa menulis dan kelihatan dari bakatnya yang menonjol di bidang ini.

Di waktu kuliah dulu, Gus Sholah hanya sempat menulis sekali pada tahun 1964 di Majalah Djaja. Tulisannya ketika itu tentang Wanadri, organisasi pendaki gunung di mana Gus Sholah bergabung sejak tahun 1964. Kemudian, sekitar tahun 1993 sebagai Sekjen INKINDO, Gus Sholah menerbitkan majalah Konsultan di mana beliau menjadi pimpinan redaksinya.

Pada awalnya, Gus Sholah merasa tidak dilahirkan sebagai penulis. Tapi, benarkah untuk menjadi penulis perlu kepastian takdir? Tidak! Menulis adalah kebebasan. Menjadi penulis adalah pilihan. Siapapun bisa menjadi penulis,asal ia mampu menggerakkan pena, berani menuangkan fikiran dan mengukirnya ke dalam lembaran demi lembaran. Dari semangat inilah akhirnya Gus Sholah berusaha keras untuk bisa menulis. Tak perduli berapa kertas yang disobek setelah menuangkan ide-idenya, karena tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Gus Sholah.

Pertama-tama, beliau menulis di harian Republika, kemudian menulis di Kompas. Ternyata tulisan-tulisan ini tidak langsung dimuat. Hal ini tidak kemudian membuat Gus Sholah berhenti menulis, tetapi beliau kembali mencoba lagi dan mengirimkan tulisan-tulisannya hingga tulisan beliau muncul juga di harian nasional tersebut. Selain di kedua media di atas, tulisan-tulisannya juga muncul di berbagai media lain, baik di tingkat pusat maupun daerah, seperti Jawa Pos.

Tulisan-tulisan Gus Sholah banyak menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat dan bangsa, termasuk yang dihadapi NU komunitas di mana beliau menjadi bagian di dalamnya. Beberapa tulisannya tentang NU menggambarkan peran sertanya untuk turut melakukan upaya-upaya pencerdasan dan pendidikan politik, terutama bagi warga NU.

Pemikiran dan gagasan-gagasan Gus Sholah pun kerap berbeda dengan kakaknya, Gus Dur. Bahkan, beliau pernah berpolemik dengan Gus Dur tentang hubungan agama dan negara di harian Media Indonesia yang telah dibukukan oleh Forum Nahdliyyin Untuk Kajian Strategis, Jakarta dan diberi judul KH. A. Wahid Dalam Pandangan Dua Putranya. Dialog Gus Dur – Mas Sholah mengenai pandangan politik Keislaman Sang Ayah (1998).

Meski Gus Dur secara riil paling berpengaruh di kalangan nahdliyyin, namun Gus Sholah tidak serta merta mengikuti arus pemikiran Gus Dur. Dari Keluarga Kiai Wahid sendiri telah diajari hidup moderat, demokratis, bebas berpendapat dan saling menghargai perbedaan. Hal ini kemudian yang menjadi sebab perbedaan dari pemikiran-pemikiran kritis Gus Dur dan Gus Sholah. Tampaknya Gus Sholah ingin memunculkan pemikiran dan gagasan kritis yang dijadikan alternative pemikiran di tubuh NU. Bukankah adanya perbedaan itu lalu khazanah pemikiran semakin luas dan ka semakin luas dan kaya? Inilah rahmat adanya ikhtilaf, sekaligus menjadi bukti progesifitas pemikiran di kalangan warga NU yang akhir-akhir ini tidak bisa dipandang sebagai kaum trasionalis kuno dan konservatif. Selain itu, kedua kakak beradik ini berperan aktif dalam memajukan pola pikir dan wacana intelektual umat Islam, khususnya kaum nahdliyyin.

Bersambung….

 

Sumber : Taufiqurrahman. 2011. Kyai Manajer Biografi Singkat Salahuddin Wahid. Malang:
                 UIN-Maliki Press. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar