Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SALAHUDDIN WAHID: MENJADI PENULIS (2)




Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah


Gus Sholah tidak hanya menulis di media massa, tetapi juga menulis di beberapa buku. Adapun karya-karyanya yang telah dibukukan antara lain: Negeri di Balik Kabut Sejarah (November, 2001), Mendengar Suara Rakyat (September, 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi: Jihad Akbar Bangsa Indonesia (Nopember, 2003), Ikut Membangun Demokrasi: Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (Nopember, 2004) dan Menggagas NU Masa Depan (2010). 

Melihat dari buah karya tulisan Gus Sholah yang berhasil diterbitkan berupa buku-buku, menunjukkan bahwa beliau sedikit banyak telah meneladani sang kakek, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari yang produktif dalam menulis buku. Beberapa karya pendiri NU tersebut yang hingga kini bisa ditelusuri antara lain: (1) al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ihwan, (2) Mukaddimah al-Qanuun al-Asasy li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, (3) Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah, (4) Muwaidz, (5) Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, (6) Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, (7) al-Tanbihat al-Wajibah liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat, (8) Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat al-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah, (9) Ziyadat Ta’liqat ala Mandzumah as-Syekh Abdullah bin Yasin al-Fasuruani, (10) Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah, (11) al-Durrah al-Muntasyirah fi Masa’il Tis’a ‘Asyarah, (12) al-Risalah fi al-‘Aqaid, (13) Al-Risalah fi al-Tasawwuf, dan (14)  Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim fima Yahtaju ilaihi al-Muta’alim fi Ahwal Ta’limihi wama Yatawaqqaf ‘alaihi al-Muallim fi Maqat Ta’limihi.

Selain kitab-kitab di atas, masih ada beberapa manuskrip karya KH. Hasyim Asy’ari yang hingga kini belum diterbitkan antara lain: (1) Hasyiyah ‘ala Fath al-Rahman al-Wali Ruslan li Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari, (2) al-Risalah al-Tawhidiyah, (3) al-Qala’id fi Bayan man Yajib min al-‘Aqaid, (4) al-Risalah al-Jama’ah, (5) Tamyiz al-Haqq min al-Bathil, (6) al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus, dan (7) Manasik Shughra.

Dari sederet judul buku dan manuskrip di atas, tidak heran jika Gus Sholah benar-benar berhasil meneladani Hadratus Syekh sebagai penulis. Mengingat hanya Gus Sholah dan Gus Ilm (Hasyim Wahid) menurut pengamatan Ali Yahya yang bisa menyelesaikan karya tulis berupa buku dan berhasil diterbitkan. Almarhum ayahnya, Kiai Wahid dulu juga dikenal sebagai penulis produktif yang menghasilkan artikel berbobot. Hingga kini, tulisan-tulisan beliau masih eksis dan membuat kagum para pembacanya. Namun, sangat disayangkan karena tokoh besar yang memiliki gagasan orisinil dan pemikiran progresif ini, hingga tutup usia di tahun 1953 (dalam usia 39 tahun) belum sempat menulis buku.

Hal yang serupa dengan sang ibu, Nyai Sholichah Wahid Hasyim pun tidak meninggalkan karya tulis dalam bentuk buku, sekalipun pengalamannya di berbagai organisasi massa, politik, dan sebagainya diketahui sangat luas dan berlangsung puluhan tahun. Karenanya, patut disayangkan, dari rekam jejak pengalaman dan pengabdiannya yang begitu lama tidak sempat diabadikan dalam sebuah buku. 

Begitu pun dengan Gus Dur. Menurut Ali Yahya, mantan Presiden RI ke-4 itu juga belum pernah menulis sebuah buku secara khusus. Artinya, beliau belum pernah menghasilkan karya dengan tema tertentu yang sengaja dipersiapkan dan ditulis secara utuh dalam sebuah buku. Sejauh ini, karya beliau hanya kumpulan artikel yang dibukukan. Padahal, tidak ada yang meragukan kemampuan Gus Dur sebagai penulis papan atas. Artikel-artikel yang ditulisnya sarat dengan analisa-analisa tajam, pemikiran yang jauh ke depan, dan prediksi yang seringkali terbukti meskipun awalnya tak difikirkan orang. Sejak kecil Gus Dur piawai dalam hal menulis dan secara konsisten terus menulis dengan tema yang beragam. Tetapi itulah, hingga akhir hayatnya belum lahir sebuah buku dari tinta ajaibnya.

Sebuah hal yang unik dari penggalan cerita pengalaman saudara-saudara Gus Dur di atas. Tampaknya belum ada gairah untuk menulis buku sekalipun pengalaman dan kapasitas intelektual mereka yang lebih dari cukup. Melihat realitas itu, wajar jika Gus Sholah yang cukup beruntung menjadi pelopor di keluarganya dalam hal menulis buku. Meskipun beliau sedikit terlambat tampil dalam dunia pena. Produktivitasnya dalam menulis buku dan artikel, terbilang stabil. 

Jika dibandingkan dengan artikel penulis lain, artikel Gus Sholah mempunyai ciri-ciri tulisan yang mudah dicerna, lugas, komunikatif, tidak bertele-tele, dan tidak sembarangan dalam menampilkan data dan fakta. 

Siapa yang banyak membaca, sebenarnya ia bisa menulis. Jika ia masih belum juga dapat menghasilkan karya tulis, hal itu bukan karena ia tidak bisa menulis, tapi disebabkan ia sendiri belum atau tidak mau menuangkan hasil bacaannya ke dalam bentuk tulisan. Kuncinya, orang yang rajin membaca, akan sangat mudah dan cepat menjadi penulis. Wa allahu a’lam bisshowab..


Sumber : Taufiqurrahman. 2011. Kyai Manajer Biografi Singkat Salahuddin Wahid. Malang:
                UIN-Maliki Press. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar