Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PURNAMA PERTAMA

sumber : wattpad.com

Oleh : Puan Nadir

Perkenalkan, namaku Ayara Sarasvati, mahasiswi baru di salah satu universitas ternama di Jogjakarta.  Aku dilahirkan dalam keluarga yang sangat berpendidikan, bagaimana tidak; kakek, nenek, ayah, ibu, bahkan tetanggaku semuanya berprofesi sebagai guru.  Tak heran jika aku mempunyai otak yang bisa dibilang cukup encer. Dan berkat otakku yang mulia ini, aku dapat masuk ke universitas yang aku dambakan sejak dalam kandungan, dan itu pun dengan beasiswa penuh saat masuk hingga lulus nanti. Dan karena beasiswa itu, aku tentunya menjadi kebanggaan keluarga dan juga anak kesayangan orang tua.

Dalam perjumpaan kita pada hari ini, aku ingin menceritakan padamu tentang pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di kampus tadi pagi. Oh iya, aku tak keberatan jika kau ingin mengambil sedikit kudapan dan secangkir kopi, anggap saja kita sedang mengobrol di depan teras rumah, fana merah jambu. Tapi sebentar, aku ingin menekan enter terlebih dahulu.

Baiklah, seperti yang aku katakan tadi, hari ini adalah hari pertamaku memasuki area kampus. Dari kejauhan terlihat banyak pemuda-pemudi mengenakan jas almamater berwarna transparan. Cantik, tampan, dan berwibawa. Jas almamater itulah yang hingga pagi tadi sangat ingin aku kenakan.

Saat berada dalam antrean pengambilan jas almamater, aku menjumpai seorang lelaki berkulit sawo matang. Wajahnya tampan, senyumnya menawan. Lelaki itu berhasil membuatku terpaku dan sedikit enggan untuk berlalu. Hingga seorang gadis menepuk pundakku seraya berkata "Kamu Ayara kan?", lamunanku terpecahkan, duniaku kembali pada tempatnya. 

"Eum, iya aku Ayara. Ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku heran kala itu.

"Aku Sasa", perempuan berambut sebahu itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah. "Aku kemarin liat profil kamu di antara penerima beasiswa lainnya", jelasnya.

Kami pun menunggu antrean bersama. Tak lama dari perkenalan tadi, namaku dipanggil petugas pembagi jas almamater.

...

Semua mahasiswa baru digiring ke lapangan, katanya sih akan ada pengumuman. Benar saja, setelah menunggu lama di bawah terik matahari, akhirnya seorang lelaki jangkung menaiki podium lalu berbicara menggunakan pengeras suara yang telah disiapkan sebelumnya.

"Selamat siang, selamat datang di kampus kebanggaan kita semua. Perkenalkan, nama saya Anggara Bestari, saya sebagai ketua pelaksana penerimaan mahasiswa baru tahun ini akan memaparkan beberapa hal yang tentunya perlu adik-adik semua ketahui." Lelaki itu pun memaparkan semua hal dengan sangat jelas dan santai, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa nyaman memerhatikan.

Di tengah pemaparan tersebut, sekumpulan mahasiswi malah membuat forum sendiri yang membicarakan sang pembicara di depan.

"Astaga, kak Bestari ternyata benar-benar tampan ya.", sekelompok itu tak ada hentinya mengagumi ketampanan lelaki di depan sana yang bahkan aku belum mampu memerhatikannya karena beberapa detik setelah lelaki itu menaiki podium seorang perempuan tinggi menutupi pandanganku ke depan. Ya, aku si 18 tahun yang pendek.

Setelah tubuhku hampir basah kuyup oleh keringat, akhirnya semua pemaparan selesai disampaikan dan kami dipersilakan bubar. Aku masih bersama Sasa, ternyata dia memiliki pribadi yang baik dan juga menyenangkan. Dan tanpa diduga sebelumnya, ternyata kami mendiami kost yang sama, bahkan kamar kami pun bersebelahan. Kami pun pulang bersama.

...

Kalian perlu tau jika sore ini aku dan Sasa resmi menjadi teman sekamar. Selain agar lebih hemat, kami juga sama-sama kesulitan untuk tidur sendiri; penakut.

"Aya, benar barang bawaan kamu cuma segitu?" Tanya Sasa menunjuk koper kecil yang tergeletak di lantai.

"Iya, memang apa masalahnya?, lagi pula aku tidak suka dibuat kerepotan di kereta kalau bawa barang sebanyak itu." Jawabku santai sembari menunjuk barang bawaan Sasa yang jumlahnya hampir tiga kali lipat dari barang bawaanku. Sasa yang mendengar jawabanku sontak tertawa ringan.

            Kami baru selesai membereskan barang masing-masing. Rasanya tubuh ini sangat lelah dan merindukan kenyamanan kasur, aku segera merebahkan tubuhku di ranjang sebelah kiri yang sekarang sudah menjadi wilayah kekuasaanku. Sangat nyaman. Netraku memandangi langit-langit ruangan dan menemukan wajah lelaki kulit sawo matang. Pesonanya enggan pergi dari pandangan dan angan, membuatku jatuh melayang.

Hai Tuan si sawo matang

Mengapa engkau selalu datang

Menghampiri dan tak mau hilang

Menjadikanku budak dalam khayalan

Tuan manis yang ku rindukan

Hamba harap tuan akan senang

Berjalan dalam angan

Menari bersama bayangan

Tuan, sepertinya aku jatuh cinta tadi siang

             Sungguh ini gila, tapi entah kenapa bisa. Iya, sepertinya aku benar-benar gila dan jatuh cinta. Aku tak mengerti kenapa bisa, belum pernah terjadi sebelumnya, aku malu mengatakan kalau rasa ini pertama kali hinggap dalam dada. Ah ibu! Anakmu kasmaran!

            Tak terasa hari mulai larut, aku ingin lanjut berkhayal dan kau tak boleh ikut. Perjumpaan kita aku cukupkan sekian. Selamat malam dan selamat istirahat, kawan. Akan aku ceritakan kejadian esok hari padamu jika aku sempat. Sampai jumpa!.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar