Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MUNGKIN INILAH KESAKSIANKU


Penulis: Bagus Isnu H

Berhari-hari yang lalu-lalang dalam dekapan singgasana para pejuang. Shagab berdiam diri—seorang diri dengan bekal pikiran dan hatinya tak sedetikpun dia berhenti untuk selalu menghalu, merencanakan, dan mengusahakan supaya keadaan nya dapat berkembang secara positif. Meskipun, hal baik tidak selalu didapatkan dengan cara yang ‘baik', dalam prosesnya akan tetap disodorkan dengan keadaan yang bersifat naluriah. Mungkin itu sudah menjadi kodratnya sebagai manusia tidak memiliki keistimewaan yang lebih, ada sifat lupa dan salah yang menjadi bekal dasar bagi manusia.

Dalam diamnya Shagab terkadang dia tak mampu mengendalikan diri, sehingga terperosot jauh kedalam diamnya yang tak gerak sedikitpun. Pikiran yang telah dikuasai, hingga lalai dalam amanat yang dipikulnya. Hati yang telah diluluhkan, hingga menjadi semacam roda yang tiada daya kalau tidak ada angin yang dapat mengokohkannya.

Siang dalam balutan mendung, setelah menunaikan ibadah rawatib, Shagab tak ambil pusing gerakan yang sistematis sesuai instruksi dari benak langkahnya menuju kamar dan mengambil satu buku yang belum diselesaikan. Ia lantas duduk diteras depan rumah juang, diatas kursi dan menghadap ke selatan. Dalam pandangannya yang terpaku pada buku, sesekali dia menatap langit dengan gumpalan awan hitam yang tak ada henti derai air kecil-kecil membasahi jalanan dan teras rumah juangku, suara rintihan dari pepohonan yang digoyangkan tiupan besar turut mengiri ketika derai air kecil-kecil membasahi.

Duduk didepan sendiri, sepertinya lebih mengasyikkan, imajinasi lebih liberal, pandangan lebih terfokus dan pikiran tetap dalam kontrol pribadi. Tidak ada yang mengajak ngobrol kecuali tokoh dalam novel, terasa seperti didongengi seakan sebuah perintah untuk beranjak segera tidur. Rasa jari-jemarinya telah banyak membalikkan satu persatu lembaran dari novel itu, hingga terasa, lantas Shagab menyudahi sementara membacanya, ia ingin istirahat didalam kamar dengan membawa segumpal alur janggal dari novel yang dibacanya.

Derai air kecil-kecil yang dikeluarkan dari gumpalan awan hitam terus saja berlanjut, meskipun sesekali daerai air kecil itu berhenti namun tidak mengubah gumpalan awan hitam itu untuk cabut, lantas hanya diam tak berkutik, sepertinya sudah menjadi tugasnya untuk sementara waktu tetap berada diatas kota Academic. Shagab tetap didalam kamar, hingga waktu untuk ibadah rawatib datang. Tapi ketika hendak melakukan jamaah ke masjid, derai air kecil-kecil sudah lebih dahulu mengguyur jalanan dan halaman teras rumah juangnya. Cukup dengan pikiran sederhana, dia melakukan ibadah rawatibnya didalam kamar, bersama beberapa sahabat karibnya. Dilakukan secara berjamaah.

Setelah wirdul lathif digemakan, suara rintikan diatap belum saja usai, menandakan bahwa gumpalan awan hitam masih tidak beranjak cabut dan tetap membasahi halaman dan jalanan. Sontak pikiran Shagab teringat sesuatu, apalagi kalau bukan kelalaiannya, dia meninggalkan buku novelnya didepan teras tepat diatas kursi yang tadi siang membopongnya. Dan naasnya novel itu terjamah oleh deraian air kecil-kecil, sebab tiupan itu dapat  mengantarkan ayakan air menuju teras rumah juangnya. Tapi tidaklah menjadi masalah besar bagi Shagab, sebab setiap bukunya itu selalu dibalut dengan samak plastik sebagaimana yang dari kecil diajari oleh Ibunya, untuk selalu merawat barang-barang kepemilikannya atau barang-barang yang dipinjamnya.

Melanjutkan untuk membaca adalah suatu keputusan yang harus dilakukan oleh Shagab, sebab apabila buku sudah dipegangnya dan sekelumit cerita sudah terekam dalam memori benaknya maka tidak ada pilihan selain menuntaskan bacaan itu! Ya, meskipun membutuhkan masa yang cukup. Dia membaca lagi dengan melanjutkan bab-bab yang belum masuk dalam memori benaknya, lembaran-lembaran yang belum dililit oleh jemarinya. Dengan kefokusan yang tingkat tinggi, sudah tidak ada lagi yang dapat mengganggu kekhusyukannya. Dan sesekali dia tetap menatap gumpalan awan hitam dengan deriannya yang terus berlanjut. Posisi yang tetap sama yang diambilnya seperti diwaktu siang, dipangkuan kursi yang menghadap ke selatan. 

Shagab melakukan dua aktifitas secara bersamaan, membaca dan menatap. Namun kecendrungannya lebih kearah membaca, menatap hanya menjadi pekerjaan yang sesekali saja, tidak berkali-kali ataupun terlalu fokus. Sebab, alur cerita yang disuguhkan dalam novel memang sangat menarik, dibawakan dengan maju-mundur, membawa pikirannya seolah seperti ditarik ulur, seperti tali dalam perlombaan tarik-tambang. Dengan waktu yang terus berjalan, namun gumpalan hitam tetap dalam sikapnya, juga Shagab, kefokusannya dalam membaca membuatnya jarang lagi menatap gumpalan awan hitam, entah lupa atau sudah benar-benar tergiur dari alur cerita dalam novelnya.

Tidak terasa, kisah dalam novel berbab-bab telah luluhkan, lantas dia mengulangi aktifitas seperti semula yang tadinya dia sempat meninggalkan satu pekerjaannya. Dia menatap gumpalan awan hitam, dengan tiupan yang sudah tidak ada lagi, dia merasa kaget dengan apa yang menjadi kesaksiannya saat itu! Bola matanya disodori sebuah kilauan cahaya yang melintang, namun tidak meninggalkan dari gumpalan awan hitam itu yang turut ikut pekat. Tapi hal ini sebuah ketakjuban yang ada, tidak disangka-sangka bahwa akan menemukan fenoma seperti. Yang disangka-sangka Shagab bahwa gumpalan awan hitam itu tidak akan ada yang dapat membelahnya meskipun setajam samurai Alucard, bahkan kesaksiannya ini semacam ulti ketiga dari Layla, yang kilatannya menembus bebatuan yang memagari. Cahaya itu benar-benar menenmbus gumpalan awan hitam, sorot mata Shagab tidak salah melihat, bahkan sesekali dia menatap novel yang sudah ditutupnya agar memastikan nyata atau tidak kesaksiannya ini.

Menatap tak ada henti, pikirannya benar-benar merekam setiap kejadian yang telah ada, bahkan kejadian dalam bacaannya pun turut ikut menghantui dalam pikirannya. Hatinya tetap ikut merasakan sesuatu dan sesuatu itu dipertanyakan ke pikiran, sesuatu apa yang telah aku rasakan? Lantas memori pikiran itu berusaha mengingat dengan betul, ihwal apakah yang menghantam kepada hati. Dia mengingat hari-harinya yang kemarin dilalui. Dia benar-benar memulai ingatan itu di hari awal, dengan menguras segala tenaganya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan hati yang ada, mencoba meng- cross check setiap lembaran memori yang ada.

#Hari Ahad (pertama)



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar