Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MISTERI KUNCI MOTOR DAN POHON PEMBAWA PETAKA



Oleh Fitriatul Wilianti

Ba'da isya ditengah keheningan desa, aku dan beberapa teman nongkrong di salah satu teras samping rumah seperti biasanya. Saat itu kami hanya mengobrol dan membahas beberapa pembahasan ringan untuk mengisi keheningan. Desa kami memang dikenal dengan desa yang sepi, karena letaknya berada diatas pegunungan. Dan rumah-rumah yang tata letaknya cukup berjarak serta pepohanan-pepohonan besar. Kondisi yang seperti itu mendukung beberapa masyarakat dan anak-anak untuk tidur cepat setiap harinya. Oleh karena itu pada jam-jam setelah isya keadaan desa memang akan sangat sepi, warung-warung tutup dan kendaraan dijalanan sudah jarang terlihat lagi. Kala itu ditengah obrolan, aku diajak oleh salah satu temanku untuk pergi ke ATM desa pemukiman atas untuk menarik uang atas perintah orang tuanya (sebut saja namanya Zain). 

Saat itu sudah pukul 9 malam, dan aku mengiyakan ajakan Zain karena merasa kasihan jika ia berangkat sendiri mengingat jarak desa kami dengan desa pemukiman atas (desa sebagai pusat keramaian dan perbelanjaan warga dan satu-satunya desa pemilik mesin ATM) lumayan jauh. Kami harus melewati jalan dengan background hutan dengan panjang sekitar 2 KM. Ketika berangkat, aku tidak memikirkan apapun, hanya niat menemani Zain dengan meminjam sepeda motor salah satu teman yang lain karena diantara kami berdua tidak ada yg membawa motor karena jarak rumah dan tongkrongan cukup dekat. 

Kamipun mulai menyusuri jalan, betul saja seperti hari-hari sebelumnya, kondisi desa kami sangat sepi, tidak terdengar suara apapun, gelap dan sunyi. Hanya beberapa lampu yang menerangi jalan karena beberapa rumah cukup berjarak dan tidak semua rumah mempunyai lampu teras. Saat itu aku yang mengendarai sepeda motor dan Zain duduk dibelakang. Setelah beberapa menit memasuki wilayah hutan, Zain mulai membuka obrolan, sepertinya dia merasa sunyi karena tidak ada suara dariku dan untuk menghilangkan rasa takut.

Wan, kamu kedinginan ya gapake jaket?

Desa kami dan seluruh desa di kecamatan kami memang terkenal sangat dingin, karena letaknya yang berada dipuncak gunung. Betul saja jika Zain menanyakan kondisiku, badanku hanya menggunakan kaos lengan pendek saat itu, tapi aku tidak merasa dingin, karena sudah terbiasa dengan cuaca desa.

Tidak Yin, aku biasa-biasa saja, kamu kedinginan ya?

Lumayan, katanya.

Baru saja kami mengobrol, tepat di depan pohon besar disamping jalan. Motor kami berhenti. Saat itu aku berusaha bersikap normal, karena mungkin motornya kehabisan bensin atau tidak kuat melawati jalan yang nanjak. Beberapa kali kucoba menarik gas, akan tetapi tidak sedikitpun roda motor itu bergerak. Sampai beberapa detik kemudian Zain mengeluarkan suara.

Gimana ni Wan? Mana disini rada horor lagi, kemarin ada dua orang yang meninggal langsung ditempat ini. 

Sedikit ku menarik napas, dan berusaha tenang. Kata-kata yang diucapkan Zain cukup membuat nyali ini ciut, tapi aku berusaha tetap normal agar Zain tidak semakin takut, dan akupun masih mencoba menarik gas motor tanpa menyahut kata-katanya. Dua detik kemudian motornya pun tiba-tiba mati, aku mulai berpikir yang tidak-tidak, karena bukan hal yang aneh jika dikondisi itu aku merasa takut, mengingat banyaknya kejadian aneh yang menimpa beberapa orang ketika melewati jalan dibawah pohon besar itu. Apalagi beberapa hari lalu, seperti yang dikatakan Zain jalan itu telah menelan 2 korban jiwa, jalannya yang licin membuat motor dua anak SMA itu tergelincir dan meninggal ditempat. Memang betul mereka jatuh lantaran jalan yang licin karena habis diguyur hujan. Tetapi saat itu aku juga percaya beberapa omongan warga, bahwa pohon beringin samping jalan itu angker dan membawa petaka karena sudah beberapa orang yang meninggal ketika melewati jalan sejak beberapa puluh tahun lalu.

Selain itu banyak kejadian aneh yang dialami warga saat melewati jalan itu, ada yang dihalangi oleh ular besar, ada yang melihat kerbau yang sangat tinggi dan besar melebihi batas normal, mencium bau bangkai yang sangat busuk, dan beberapa sosok yang tidak jelas bentukannya berdiri dipinggir jalan. Mengingat itu semua, aku mulai merasa takut, didukung oleh desakan Zain yang saat itu hampir ingin kabur denganku tanpa membawa motor. 

Wan, ini jadinya gimana, aku takut banget sumpah, kita pulang aja yuk. Suasananya horor banget, gelap lagi, ayok kita lari aja, pulang, mana ga ada satu motorpun yang lewat lagi.

Untung saja saat itu aku masih berpikir jernih, Zain yang semakin berisik, membuatku sedikit menaikkan nada suara.

Diam dulu, ayok kita coba cek bensinnya, atau kamu coba telpon Beni (teman yang motornya kami pinjam), tanya motornya kenapa?.

Tapi aku gak punya pulsa ataupun kuota. Katanya.

Jawaban Zain membuat pikiranku kacau, dan semakin kacau ketika aku ingin mengambil kunci motor dan membuka jok tetapi tidak melihat kunci motor yang tergantung. Pikiran anehpun mulai bercampur di otakku. “Dimana kunci motor yang kami pakai, padahal tadi tergantung didepan, apakah kuncinya terjatuh atau bagaimana?”, rasa penasaran bercampur takut mulai tertumpuk. Akupun memberi tahu kondisi itu kepada Zain. Dan sesuai perkiraanku, Zain malah lebih kacau dan takut dariku. Dia semakin ketakutan dan hampir berlari, tapi aku tahan. Kucoba kembali berpikir jernih.

Lima detik kemudian, kuminta Zain menyalakan senter hp, dan mencari kunci motor yang jatuh disekitar itu. Tapi hasilnya nihil. Jalanan itu kosong, tidak ada 1 benda pun berada disekitarnya walaupun hanya bebatuan. Melihat Zain yang semakin ketakutan, kami memutuskan untuk pulang, dan tentu saja dengan motor yang kami bawa. Kami coba memutar balik motor itu, tanpa dihidupkan karena memang motornya tidak bisa nyala. Aku memintanya menghidupkan senter hp agar sedikit menerangi jalan dan kubonceng dia seperti sebelumnya. Walaupun situasi itu sangat mencekam menurut kami, tapi untung saja alam masih memihak. Karena desa yang akan kami datangi berada diatas gunung dan jalan yang kami lewati menanjak. Jadi untuk kembali, kami tidak perlu menyalakan motor, mengingat jalan yang menurun dan motor bisa digunakan tanpa dihidupkan dan dibantu sedikit dorongan kaki.

Dengan pikiran campur aduk, dan rasa takut yang sangat parah beberapa menit kemudian akhirnya kami memasuki desa. Perasaan takut mulai hilang, akupun mulai bicara, dan meminta Zain agar sambil memperhatikan jalan didepan dengan berharap kami menemukan kunci motor yang sepertinya terjatuh. Tetapi hasinya nihil kami tidak menemukan apapun selama menyusuri jalan dari tadi. 

Ditengah pedesaan, sebelum sampai tempat nongkrong kami sebelumnya, akupun berhenti dan berusaha menghidupkan motor kembali. Dengan perasaan kaget dan merinding, kutemukan kunci yang tergantung rapi seperti biasa (padahal ketika di cek sebelumnya kunci motor memang tidak pernah ada, walau sudah kucari berkali-kali). Situasi itu membuat pikiran semakin campur aduk, aku berusaha memecahkan beberapa pertanyaan, bagaimana mungkin kunci motor hilang beberapa saat dan kembali tergantung ketika kami pulang, tetapi aku sedikit lega karena kunci itu tergantung kembali dan kami tidak perlu lagi mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Beni mengenai dimana kunci motornya.

Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke tempat tongkrongan, dengan wajah pucat dan tubuh merinding, serta Zain yang mungkin hampir pingsan berdiri karena kejadian yang kami alami. Sepuluh menit kemudian kami sampai. Dan langsung menceritakan kejadian yang kami alami itu. Beberapa teman merespon dengan perasaan merinding, ditambah Beni yang ketakutan karena sebelumnya motornya itu tidak pernah mengalami kejadian mogok atau apapun, apalagi sebelumnya dia baru mengisi penuh tangki bensinnya. Tapi tidak jarang yang merespon normal karena mereka tau betapa angkernya pohon besar disamping jalan yang kami lewati tadi dan banyaknya kejadian horor yang menimpa warga ketika melewatinya. Kamipun melanjutkan obrolan dengan menceritakan misteri-misteri yang pernah  terjadi di pohon beringin besar samping jalan tadi dan mencoba memahami misteri kunci motor sebelumnya yang sampai saat ini masih belum terjawab.

Sekian.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar