Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENGENAL AJISAKA DAN AKSARA JAWANYA



Moh. Rizal Khaqul Yaqin

Berbicara tentang Aksara Jawa, kita tidak akan jauh membahas salah satu tokoh yang dianggap kebanyakan masyarakat Jawa sebagai cikal bakal penemu Aksara Jawa yakni Ajisaka. Banyak versi sejarah atau ragam legenda yang mengisahkan tentang asal usul, tugas, kehidupan  Ajisaka di tanah Jawa. Ajisaka dianggap sebagai leluhur pembawa peradaban masyarakat Jawa Kuno atau Nusantara pada umumnya, legenda Ajisaka ini terus dipercayai dan diceritakan turun-temurun ke anak cucu sampai dengan sekarang.

Dari beragam legenda mengenai Ajisaka, sebenarnya sangat berpegaruh atas aspek sosial kebudayaan yang berkembang di masyarakat, termasuk pula aspek ideologis. Dari aspek antropologis, orang Jawa diyakini telah lama ada, bukti-bukti arkeologis prasejarah yang ditemukan di berbagai daerah Nusantara atau Jawa khususnya. Membicarakan mengenai asal-usul Jawa Kuno sebenarnya tidaklah mudah, perlu pemahaman dari berbagai aspek serta harus pula dipahami dengan kaca mata yang luas. Seperti halnya mengamati satu hal dari berbagai penjuru arah, setiap orang akan memiliki pandangan dan pemahaman yang berbeda-beda. Apalagi aspek yang akan diamati juga disandingkan dengan hal-hal lain misalnya kepercayaan spiritual, ini juga akan sangat mempengaruhi dari pandangan seseorang.

Orang Jawa kuno selalu menyatakan bahwa mereka adalah keturunan luhur dan mengawali peradaban di tanah Jawa. Salah satu pujangga besar budaya Jawa, Raden Ngabehi Ranggawarsita menuliskan dalam Serat Paramayoga bahwa Ajisaka-lah cikal bakal masyarakat Jawa. Salah satu cerita Ajisaka yang dibukukan adalah dalam cerita Serat Ajisaka yang ditulis oleh J. Kats, berisi tantang kondisi masyarakat Jawa kuno kala itu dipimpin oleh Dewata cengkar yang kejam, hingga segalanya berubah saat Ajisaka datang.

Salah satu kisah yang populer adalah ketika Jawa kala itu dipimpin oleh seorang Raja yang kejam terhadap rakyatnya, yakni Prabu Dewata Cengkar. Diceritakan bahwa rakyat wajib menyerahkan satu-persatu orang secara rutin untuk dipersembahkan kepada Raja untuk dijadikan sebagai santapan, karena Prabu Dewata Cengkar sendiri gemar memakan daging manusia. Jawa saat itu digambarkan diselimuti oleh kebodohan dan ajaran sesat. Kemudian Ajisaka datang untuk mengalahkan dan mengambil alih Kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Jadilah Ajisaka pemimpin Tanah Jawa yang disebut-sebut membawa peradaban baru di Tanah Jawa ke arah yang lebih baik.

Kisah lain diceritakan bahwa Ajisaka hadir dan diutus ke tanah Jawa sebagai Brahm,  guna menerangi Pulau Jawa, memberikan ilmu pengetahuan dan peradaban dengan cara memusnahkan kebodohan yang digambarkan oleh sosok Prabu Dewata Cengkar, karena itulah Ajisaka  identik pula dengan Aksara. Dengan Aksara terungkaplah ilmu pengetahuan yang dianggap tabu dan ekslusif, selain itu juga terdapat anggapan bahwa peradaban yang dianggap maju bisa dilihat dari segi aksaranya, atau bisa kita ibaratkan adalah dari segi baca serta tulis-menulis masyarakatnya.

Adapula cerita lain mengenai Ajisaka dengan Aksara Jawanya, yakni berasal dari masyarakat dusun Kramat, Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di sana terdapat dua makam berbeda, yang dikisahkan  adalah dua murid dari Ajisaka, mereka adalah Mbah Setuhu yang beragama Islam serta Mbah Setyo (Seco) yang beragama Hindu. Di antara keduanya terjadi pertarungan hingga berujung saling terbunuhnya kedua murid Ajisaka tersebut, yang sama-sama menjalankan amanat dan pesan dari gurunya. Akibat kematian kedua murid utusannya, Ajisaka lantas mengabadikan peristiwa tersebut dengan empat kalimat yang hingga saat ini kita kenal dengan Aksara.

Tetapi dalam perkembangannya, tidak sedikit pula sejarahwan menyangkal bahwa Ajisaka bukanlah pembahwa peradaban pertama di Pulau Jawa. Ini disandarkan kepada bukti-bukti yang menyataka bahwa masyarakat Jawa telah mengena peradaban maju bahkan sebelum kedatangan Ajisaka, untuk pendapat ini akan kita dibahas pada tulisan berikutnya.

Kembali ke Aksara Jawa, ternyata empat kalimat dalam Aksara Jawa mempunyai makna tersendiri selain menceritakan tentang kedua murid Ajisaka yang terbunuh, lagi-lagi pemaknaan atau maksud dan pesan dari Ajsara Jawa tergantung dari sejarah yang mengisahkan.




Berikut adalah makna umum dari setiap kalimat Aksara Jawa

Pertama adalah Ha Na Ca Ra Ka, atau dalam pelafalan Jawa adalah Ho No Co Ro Ko dalam bahasa Jawa artinya ono wong loro atau ada dua orang. Kedua, Do To So Wo Lo yang berati podo kerengan atau keduanya saling berkelahi. Selanjutnya adalah Po Do Jo Yo Nyo yang memiliki arti keduanya memiliki kekuatan yang seimbang. Terakhir adalah Mo Go Bo To Ngo yang berarti mergo dadi batang loro-orone, batang di sini adalah bahwa Jawa yang berarti mayat, sehingga dalam bahasa indonesia memiliki arti keduanya sampai meninggal artinya sama-sama menjadi mayat.

Dalam aspek nilai-nilai spiritual Aksara Jawa ini dapat dimaknai sebagai berikut,  yang pertama adalah Ha Na Ca Ra Ka atau dapat dibaca dengan “ono coroko” yang berarti “ada utusan”, maksudnya kita sebagai manusia yang lahir mempunyai tugas sebagai Khalifah atau pemimpin di muka bumi yakni dalam kaca mata Islam, atau secara umum kita diutus untuk saling menyebarkan kebaikan antar sesama mahluk hidup. Do To So Wo Lo dapat dibaca dengan “datan suwolo”, maksudnya tidak boleh menentang pendapat sang pencipta, pada kalimat sebelumnya menyangkut tugas manusia sebagai utusan yang mengemban tugas atau aturan-aturan dari Sang Pencipta maka akan sampai pada tataran Po Do Jo Yo Nyo . Po Do Jo Yo Nyo  dimaknai sama-sama jaya atau seimbang, maksudnya seimbang dari segi rohani dan jasad, termasuk pula dapat kita artikan simbang dari segi hubungan antar sesama mahluk serta hubungan mahluk dengan Tuhannya. Terakhir adalah Mo Go Bo To Ngo,  yakni menjadi bangkai atau mayat. Yakni ketika tugas manusia telah selesai dimuka bumi dengan itu berakhirlah kehidupan di dunia dan berganti kehidupan lain yang kekal.

Pemaknaan-pemaknaan empat kalimat dari Aksara Jawa tentu bisa beragam tergantung sejarah serta aspek-aspek yang menyertai dan mendasari, termasuk  kondisi pemberi makna itu sendiri.

Tulisan ini ditulis berdasarkan opini dan juga beberapa sumber digital baik berupa artikel maupun audio visual yang dapat ditemui dari beberapa platform yang tersedia. Jika terdapat kesalahan mengenai penyebutan sejarah dan yang lain, dengan kerendahan hati penulis mohon untuk pembenaranya. Terimakasih. 







Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar