Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KUALITAS IBADAH



Oleh: Baedt Giri Mukhodda Billah


Semua yang ada pada alam semesta ini tidak lain dan tidak bukan adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. dan tugas kita sebagai makhluk Allah ialah mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Maka dari itu semuanya akan lebih indah ketika sesuai pada tempatnya, contoh saja batu diciptakan dengan job desk¬-nya batu, dan tidak melakukan angin seperti terbang, memberi kesejukan, dan lain-lain yang itu termasuk menyalahi perintah yang diberikan oleh Allah Ta’ala. 
Bicara soal perintah Allah, kita sebagai umat islam hendak mentaati perintah Allah dengan menegakkan rukun Islam dan rukun iman sekaligus meneladani ajaran Rasulullah ﷺ yang memberikan teladan selama hidup beliau. Dengan begitu manusia telah melaksanakan apa yang diperintah oleh Allah dan rasulnya. Akan tetapi realita yang dihadapi tidak semudah goyangan lidah. Banyak juga yang lalai akan tugas-tugas yang telah diberikan, salah penyakitnya adalah tinggi hati. 
Beberapa orang yang dari umat muslim banyak terjerumus dengan ujian tersebut. Ketika seseorang banyak beribadah melebihi ibadah orang-orang yang ada disekitarnya, orang tersebut biasanya cenderung akan terjerumus dengan tinggi hati, dikarenakan anggapan dirinya lebih dekat dengan Allah dan rasulnya. Mereka melupakan ajaran rasulullah ﷺ agar rendah hati kepada setiap makhluk ciptaan Allah. Dalam pembahasan Ibadah Allah lebih memandang kulaitas ibadah seseorang dari pada kuantitas ibadah tersebut. Dengan begitu bisa saja sholat seorang mualaf yang baru saja masuk Islam akan lebih berkualitas jika dibandang orang muslim yang dari lahir sudah Islam akan tetapi ia melakukan sholat karena takut dimarahi orang tua yang segera memukulnya ketika tidak segera melakukakannya. Maka dari sebagai umat muslim sangat dianjurkan bagi agar lebih sering memperbaharui niat ibadah kita kepada Allah ta’ala. 
Berbicara soal perbuatan ibadah ada satu cerita yang dihimpun pada kitab an-Nawaadir yang disusun oleh Ahmad Syhabuddin bin Salamah al-Qalyubi. Diceritakan pada saat itu ada seseorang bernama Dzan Nun al-Mishry bersama putri kecilnya sedang pergi ke laut untuk mengkap ikan, ia langsung menebar jaring nya ke laut. Tak lama kemudian putri kecilnya melihat seekor ikan tertangkap pada jaring yang ditebar oleh ayahnya dan langsung menarik jaring tersebut. Ketika jaring tersebut ditarik si putri kecil, ia melihat mulut dari ikan tersebut berkelumit seakaan sedang bedzikir. Seketika itu juga si putri kecil melepaskan kembali ikan tersebut kedalam lautan. Dengan spontan ayah nya marah dan berkata : “kenapa kau membuang rejeki kita ?”. maka si putri kecil menjawab : “ sesungguhnya aku tidak ridho memakan makhluk Allah yang sedang berdzikir kepadanya”. Kemudian ayahnya menjawab : “terus, apa yang harus kita lakukan ?”. kemudian sang putri menjawab : “kita hanya perlu bertawakkal kepada Allah, karena Allah maha pemberi bahkan kepada orang yang tidak beriman kepadanya”. Kemudian mereka menghentikan perburuannya dan pulang dengan tawakkal kepada Allah. Hingga waktu sore tiba mereka berdua belum memperoleh apa-apa, sampai tiba waktu menjelang isya’. Mereka dikejutkan oleh meja makan yang full dengan makan lengkap turun dari langit oleh Allah Ta’ala. kejadian itu berlanjut setiap hari dengan malam-malam berikutnya, kurang lebih dengan jangka waktu 12 tahun. Dan Dzan Nun al-Mishry mengira itu adalah balasan dari amal ibadah nya selama ini, mulai dari sholat, puasa, hingga ibadah-ibadahnya yang lain. Maka suatu ketika si putri kecilnya meninggal dunia dan meja yang full makanan itu berhenti turun kepadanya sepeninggal putrinya tersebut. Dengan begitu Dzan Nun al-Mishry baru menyadari bahwasannya meja yang full makanan itu turun bukan disebabkan dari amal ibadahnya, akan tetapi dari perbuatan putri kecilnya sewaktu menyelamatkan ikan dilaut dan menyuruhnya agar bertawakkal kepada Allah ta’ala. wallahu a’alam.
Maka dari itu ketika kalian menunaikan ibadah, harus dengan niat yang benar-benar tulus. Beserta kepercayan tinggi atas kekuasaan Allah ta’ala, seperti yang disebutkan pada hadis Qudsi yang diriwayatkan al-Bukhori :”sesungguhnya aku sesuai yang disangka oleh hamba-ku”. Dengan begitu ibadahmu menjadi lebih berkualitas. 

Refrensi :
1. Kitab an-Nawadir
2. https://stohttps://store.line.me/stickershop/product/1348/pt-BRre.line.me/stickershop/product/1348/pt-BR
 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar