Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dawuh Prof. M. Quraisy Shihab Tentang Isra’ Mi’raj




Oleh : Hany

Bulan rajab sangat identik dengan peringatan isra’ mi’raj yang sangar popular sekali di kalangan masyarakat kita bahwa isra’ mi’raj itu terjadi pada tanggal 27 Rajab. Namun, tanggal ini tidak disepakati oleh seluruh ulama bahwa peristiwa tersebut terjadi di tanggal tersebut. Terdapat sejarah yang mengatakan bahwa ada beberapa ulama berbeda pendapat mengenai kapan terjadinya isra’ mi’raj itu sendiri.

Ada yang mengatakan bulan rabiul awal sewaktu nabi dilantik sebagai nabi tahun itu. Ada pula yang mengatakan bulan Ramadhan. Ada yang mengatakan tahun ke-10 hijriah, ada yang mengatakan setahun sebelum nabi hijrah, macam-macam pendapat. itu sebabnya ada suatu kelompok yang mengatakan bahwa tidak perlu diperingati isra’ mi’raj, apa dasarnya memperingati, sama seperti hal nya perayaan maulud nabi.

Kita memang bisa berbeda pendapat mengenai kapan terjadinya isra’ mi’raj, bahkan ada pendapat yang berkata “itu kan yang popular isra, mi’raj”. Itu memberi kesan bahwa sebenarnya satu peristiwa yang mempunyai dua sisi. Ada isra’ dari masjidil haram ke masjidil aqsha. Dari situ ulama juga berbeda pendapat. Tapi yang pasti peristiwa itu telah terjadi. Seperti yang terdapat dalam Qs. Al-Isra’ ayat 1 :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Ada hal yang menarik mengenai uraian surat dalam al-quran ini, ternyata pada satu surat dalam al quran terdapat muqoddimah pada surat sebelumnya, seperti halnya surat al – isra’ ini terdapat muqoddimah yang tertulis pada surat an nahl (surat ke-16). Dalam uraian tentang isra’ terdapat penekanan menyangkut hal itu. Dengan melihat an nahl bisa mendekatkan kita pada pemahaman mengenai isra’.

Terdapat ulama yang memberikan contoh pendekatan mengenai isra’, dicontohkan seekor lalat dan manusia yang naik pesawat. Katanya ada seekor lalat yang masuk ke pesawat bersama manusia tersebut. Pesawat dengan tujuan Jakarta-Malang. sampai pesawatnya kembali lagi ke Jakarta. Hingga ada celah barulah lalat itu keluar dan menghampiri kawan lalat yang lain. Dan bercerita bahwa ia habis dari malang bolak balik. Akan tetapi, kawan lalat yang lain tidak percaya. Karena lalat tidak mempunyai kekuatan terbang sebegitu jauhnya. Lalat tersbeut bukan terbang, tapi ia diterbangkan oleh pesawat. Namun tidak ada yang percaya.

 

Begitupula nabi Muhammad, beliau tidak mengatakan saya pergi kesana. akan tetapi, أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ

(Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya). Dijelaskan pula dalam Qs. Al-Isra’ ayat 107 :

قُلْ ءَامِنُوا۟ بِهِۦٓ أَوْ لَا تُؤْمِنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ مِن قَبْلِهِۦٓ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud”.

Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir, bahwa sifat dan ciri-ciri Al-Qur'an diatas adalah berimanlah kamu kepadanya, yakni Al-Qur'an, atau tidak usah beriman, itu sama saja bagi Allah. Jika engkau beriman, engkau mendapat manfaat dari keimananmu. Dan jika engkau ingkar, engkau juga yang mendapat kerugian. Tidak ada manfaat sedikit pun bagi Allah dari keimanan kamu, dan tidak ada pula mudarat bagi Allah dari keingkaran kamu.

Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, yakni ulama ahli kitab yang beriman kepada nabi Muhammad, mereka diberi pengetahuan tentang wahyu Allah sebelum turunnya Al-Qur'an, apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, yakni menjatuhkan wajahnya untuk bersujud mengakui kebesaran Allah dan kebenaran firman-Nya. Dan dalam kondisi bersujud mereka berkata, mahasuci tuhan kami dari segala kekurangan dan ketidaksempurnaan; sungguh, janji tuhan kami bahwa dia akan menurunkan wahyu dan mengutus rasul-Nya pasti dipenuhi, dan telah dipenuhi janji itu dengan diutusnya nabi Muhammad dan diturunkannya Al-Qur'an.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar