Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CEMARA YANG TUMBANG

Oleh Syifaul Fajriyah

            Panggil aku Elyn. Sedikit kisah yang akan kusampaikan dalam tulisan tak bernyawa ini. Sebuah kisah tentang cemaraku yang sudah tak kokoh lagi. Cemara yang kucoba pupuki dan terus sirami, tumbang seketika hanya karena sesosok ulat yang menjelma di pohon kami.

            Pagi itu seperti biasa, beranjak dari tidur aku bergegas mandi dan berlulur ria. Berdandan untuk menyejukkan pagi seorang lelaki yang akan membuka mata. Ku panggil dia Mas Bagas. Setelah dia terbangun, rutinitas yang kita lakukan selayaknya pasangan. Ku ingatkan untuk segera bangun dan bersiap mencari cuan. Tak perlu aku memasak, mencuci, menyapu, dan lain sebagainya karena ada Bi Nera yang membantuku mengurus rumah besar ini. Tapi kalau Mas Bagas merengek, apalah daya aku harus terjun langsung memanjakannya dengan masakanku yang katanya khas dan lezat.

            Tiga tahun menjalin hubungan yang dikata sebagai penyempurna agama. Tapi aku merasa, hubungan ini masih belum sempurna. Orang menyebutku pejuang 2 garis biru. Segala upaya telah ku lakukan bersama Mas, tapi jika Allah tidak berkata "Kun Fayakun" apalah daya aku sebagai manusia biasa. Walau gunjingan dari keluarga datang menerpa, Mas Bagas tetap disampingku dan membela.

            Pekan depan, Aku dan Mas berencana menemui salah seorang dokter kandungan dengan tag name "Nina Wijaya Kusuma". Sebut saja dia Dok Nin. Dokter muda dengan bakat yang luar biasa. Dia adalah rekomendasi dari temanku yang juga pejuang 2 garis biru. Hari H sudah tiba, ku sapa perempuan muda nan cantik itu. Ku kenalkan diriku sebagai teman dari salah satu pasiennya. Begitu cerianya dia membalas segala ocehanku.

            Medis mengatakan bahwa kandungaku lemah. Dan aku bersama Mas Bagas memutuskan untuk program bayi tabung. Untuk mencapai apa yang kita impikan, aku memutuskan untuk berhenti dari perusahaan penerbitan. Agar problem nantinya tidak terjadi pada kandunganku. Tiap bulan, treatment yang Dok Nin lakukan padaku sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Bayi tabung yang ku impikan akan benar-benar terwujud. Tinggal menunggu hasil lab yang akan menunjukkan negatif atau positif. Dan sepertinya Allah telah mengucapkan mantra ajaibnya. Lampiran kertas menunjukkan kata yang diberi efek tebal yaitu "positif". Sontak Mas Bagas memelukku dan mencium keningku. Tutur kata lembutnya tersirat padaku.

"Terimakasih sudah mau berjuang. Kita jadi ayah bunda sayang"

            Dok Nin yang berdiri tepat didepanku, seketika ku dekap dan ku ucapkan terimakasih. Interaksi antara kita sudah seperti kakak beradik. Dia adalah anak rantauan yang berbeda pulau, Bali dan Jakarta bukan jarak yang dekat. Aku iba dengannya karena jauh dari keluarga. Sedangkan aku, jauh dari papa mama baru saat menikah ini. Hampir setiap hari, ku minta dia berkunjung ke rumah untuk makan dan bercengkrama bersama. Bahkan setelah aku dinyatakan positif, Dok Nin berinisiatif untuk tinggal di komplek yang sama denganku. Katanya, kontrak rumah yang dulu sudah habis.

            Setelah hidup sebagai anak tunggal yang kesepian, aku merasa tenang dengan kehadiran Nina. Bahkan tak jarang aku memintanya untuk menginap dirumah karena masih banyak ruang kosong. Dan terkadang aku merasa kesepian karena Mas Bagas sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya. Namun sayangnya, kupu-kupu indah yang ku bawa ke rumah ternyata adalah ulat yang rakus.

Bersambung...



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar