Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BONEKA VALERIE


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 

        Di pusat kota, tepatnya di samping Gereja besar jalan San Louis, terhampar jajaran toko boneka yang beroperasi sejak dini hingga malam tiba. Bukan hanya boneka yang dijualnya, namun di sana juga terdapat bunga-bunga segar yang ditawarkannya kepada pengunjung Gereja saat hari Minggu tiba. Pada hari itu, sepanjang jalan San Louis akan diblokade total, sehingga pejalan kaki akan mendominasi untuk melakukan ibadah atau sekedar berjalan-jalan untuk menikmati akhir pekan.
        Aku berjalan tegap menyisir jalanan San Louis yang padat di hari Minggu. Sebenarnya aku akan kembali ke Indonesia siang ini, akan tetapi menghabiskan sisa waktu di Bandara bukan pilihan yang cukup indah, jadi aku membawa sekoper barang yang kuseret di belakangku untuk menyusuri Chicago. Aku melihat orang-orang berangsur masuk ke Gereja megah berpasang-pasangan. Mereka saling bertegur sapa, menghormati yang lebih tua dan menjaga etika layaknya yang diajarkan di dalam agama Islam. Sungguh sangat indah jika kebiasaan baik terus dibudidayakan. Saat aku masih menatap orang-orang yang berbondong ke dalam Gereja, tiba-tiba saja “Ckrekkkk..” 
        “dua dolar untuk fotomu yang manis ini” aku tidak menyesal memberinya enam dolar dengan tiga foto yang sangat mengesankan. Apa yang dikatakan oleh tukang foto itu memang benar bahwa aku terlihat cukup manis mengenakan jas silver yang terbuka. Aku menyukai foto ini. 
       “Tuan, bisakah kau mengunjungi toko kami?" 
        Sosok gadis cantik memegang tanganku, rambutnya ikal pirang diikat dua, namun tertutup oleh topi pantai lebar berhias bunga. Kulitnya yang putih cerah terlihat menawan berpadu dengan dress pendek putih yang membalut seluruh tubuhnya. 
        “Di mana tokomu?”
        “Aku bisa membawamu ke sana jika kau bersedia.”
        “Baiklah, kau boleh membawaku ke sana, tapi kau terlihat sangat pucat. Apakah kau belum makan pagi ini?” gadis itu hanya terdiam. Aku mencoba membujuknya untuk bersedia makan bersamaku.
        “Kenapa kau diam, mari makan bersamaku. Kau bisa mengambil lauk kesukaanmu tanpa harus membayar” kali ini ia menjawab,
        “Aku sudah makan. Ini bunga untukmu. Mari kita pergi ke tokoku !”
        “Baiklah !!”
        Akhirnya aku menurut mengikuti langkah gadis itu. Sepatu hitamnya yang berhak tinggi, menghasilkan suara nyaring di setiap langkahnya. Ia menarikku seperti seorang anak yang menarik tangan ayahnya. Tidak sedikit orang-orang melirik ke arah kami. Bagiku itu hal wajar, karena memang gadis mungil itu sangat cantik dan manis.
        Setelah berjalan sekitar sepuluh meteran, kami berdua berhenti di toko boneka yang sangat rapi. Gadis itu mempersilahkanku masuk dengan anggun nan ramah.
        “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” bukannya menjawab, gadis itu hanya menunduk tanpa sepatah kata.
        “Jika kau tidak ingin memberi tahu namamu, aku tidak akan menginjakkan kaki ke lantai tokomu" 
        “Namaku Susan, sekarang masuklah !”
        “Baiklah Susan, ini mungkin menjadi pertanyaan terakhirku”
        “Katakan saja !”
        “Dari mana kau mendapatkan setangkai White Rose ini?”
        “Aku mendapatkannya dari keranjangku” aku terkejut sejadi-jadinya. Bagaimana bisa mataku sedikitpun tidak menangkap keranjang besar berisi tumpukan White Roses yang semerbak di tangannya.  Tidak mungkin, pasti ada  yang aneh dengan gadis ini. Bahkan saat ia memberikan setangkai White Rose di tempat tukang foto tadi, ia sudah membuatku terkejut. Sedang kini, bahkan jumlahnya lebih banyak.
        “Dari mana kau mendapatkan sekeranjang White Roses itu? Padahal aku hanya melihat tanganmu kosong sejak kau datang menghampiriku”
        “Aku membawanya dari tadi, kau saja yang tidak mengetahuinya”
        “Tapi itu mustahil...”
        “Masuklah, kau terlalu banyak bertanya” ia memotong pembicaraanku.
        Alangkah terkesannya aku dengan toko boneka ini. Dinding yang dicat warna warni, boneka yang tersusun rapi serta lantainya yang bersih akan senantiasa membangun kedamaian hati bagi siapapun yang melihatnya. Berhadapan dengan pintu, pengunjung juga akan disambut dengan senyum anggun penjaga kasir dengan jam besar yang berdiri di belakangnya. Tepat di belakang jam itu, terdapat anak tangga yang akan membawa pengunjung ke lantai kedua. 
        Aku melihat-lihat seisi toko dan ini menjadi toko boneka terlengkap yang pernah kukunjungi. Mulai dari boneka karakter fantasi, boneka Berbie, Teddy Bear, Marrionate dan boneka dari luar negeri seperti Daruma, Karakuri, Akuaba dan masih banyak lagi.  Semuanya disusun rapi sesuai ukurannya.
        Tatkala aku hampir melewati seluruh lorong toko ini, langkahku terhenti di sudut belakang lantai dua. Sinar yang masuk cukup redup di sini, mungkin ini disetting agar lampu warna warni bekerja maksimal dalam memperkuat karakter boneka. 
        “Boneka ini seperti tidak asing bagiku, tapi...” gumamku lirih seraya mengingat sesuatu yang seperti pernah berada dekat di sebelahku. 
        “Susan, Di mana ia?” aku hampir melupakan gadis yang membawaku ke toko ini. Boneka itu benar-benar menyerupai Susan. Mulai dari dua ikatan di rambutnya, dress yang dipakainya, topi, sepatu, bahkan, boneka itu membawa sekeranjang White Roses di tangannya. Firasatku perlahan mulai tidak enak, bulu kudukku juga berdiri tak beraturan. 
         “Aaaaaa !!” aku berteriak, sebuah tangan menyentuhku dari belakang. Nafasku tersengal, ternyata itu adalah tangan pegawai toko yang menghampiriku saat melihat aku mematung di sudut toko sembari memegang boneka yang mirip dengan gadis pembawa White Roses itu. 
        “Ada apa, tuan? Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?”
        “Tidak ada, Nyonya. Aku hanya kaget saat melihat boneka ini” aku menyodorkan boneka itu, namun dengan cepat penjaga toko itu menjawab,         “letakkan kembali boneka itu lalu ikutlah aku ke bawa.”
        Seperti ada sesuatu yang aneh, tapi pikiranku mencoba untuk berdamai bahwa ini hanya toko boneka biasa, tempat pengunjung akan menemukan kesenangan saat melihat beraneka boneka yang lucu di dalamnya.
        “Sebelumnya apakah tuan pernah berjumpa dengan gadis yang menyerupai boneka itu?” penjaga kasir dan pegawai yang menemukanku di atas tadi menanyaiku secara serius di meja tamu seusai aku meneguk segelas air putih yang diberikannya. 
        “Iya benar, nyonya”
        “Apakah kau mendapatkan Rose darinya?” mereka bersahut-sahutan melontarkan pertanyaan mengalir kepadaku.
        “Benar sekali”
        “Rose warna apa yang kau terima?”
        “White Rose" mendengar warna bunga yang aku terima, raut tegang di kedua wajah gadis itu mendadak padam. Aku pun balik bertanya kepada mereka berdua.
        “Bagaimana anda bisa menebak sesuatu yang telah terjadi padaku?”
        Ia meneguk segelas air sebelum menjawab pertanyaanku, aku sedikit kebingungan tapi aku mencoba untuk tetap tenang.
        “Dulu di toko ini, terdapat gadis cantik yang bekerja menjadi penjaga toko boneka ini. Dia terbilang sebagai penjaga toko yang sangat mencintai toko ini, bahkan tak jarang ia tidur di sini. Namun naif, ia ditemukan sudah tidak bernyawa di toko ini saat pagi hari. Polisi mengklaim bahwa gadis itu menjadi korban kejahatan, sayangnya toko ini belum terpasang kamera pengintai seperti saat ini. Jadi pihak toko tidak bisa menemukan pembunuh dari gadis cantik itu”
        “Lalu, apakah gadis malang itu ada hubungannya dengan boneka yang kuambil di atas tadi?”
        “Benar, boneka itu adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap gadis itu karena dedikasinya yang setia dengan toko ini. Baju yang terakhir kali dikenakannya juga serupa dengan apa yang kau lihat dari boneka itu. Pemilik toko sengaja menambahkan sekeranjang White Roses di tangannya, karena memang di mata pemilik toko, gadis itu laksana setangkai White Rose yang indah dan menawan” 
        Pegawai toko menyambung ujaran,
        “Nama gadis itu adalah Valerie, jika ia memberitahumu dengan nama Susan itu bohong. Susan adalah nama boneka yang kau pegang di atas. Bersyukurlah anda mendapatkan White Rose darinya, itu berarti anda adalah orang yang baik hati. Tapi jika anda mendapatkan Black Rose maka hari ini akan menjadi hari yang menyebalkan di hidup anda”
        “Tapi, kenapa gadis itu mendatangiku?” 
        “Kami tidak tahu alasannya, akan tetapi, Valerie gemar mengajak pria seumuran anda yang berjalan sendiri untuk mengunjungi toko ini”
        Segelintir pengalaman yang sangat menakjubkan selama di Chicago. Tidak terbayang sebelumnya jika aku akan bertemu dengan arwah dari orang yang sudah meninggal. Valerie. Nama yang sangat manis seperti wajahnya. Namun sayangnya tak semanis nasib hidupnya.
        Aku melangkah keluar dari toko boneka itu seraya menenteng dua tas boneka. Setelah cukup jauh, aku kembali memutar kepala melihat toko boneka itu untuk terakhir kalinya. Aku terkejut, sosok gadis melambai dari atas toko itu dan memberi hormat kepadaku. Valerie, aku tahu itu kamu.

Source image: Outerbloom

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: