Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ANTARA FISIKA KUANTUM DAN ISRA MIRAJ

sumber gambar :throughco.com

Oleh : Ahmad Jaelani Yusri

            Di dalam ranah keilmuan modern, kita mengenal sebuah ilmu yang mempelajari sesuatu yang abstrak dan yang tidak bisa dipecahkan oleh ilmu fisika biasa atau fisika klasik. Ilmu itu adalah Fisika Kuantum. Fisika kuantum sendiri mencakup pembahasan sistem kerja alam mikroskopik yang tentunya sangat berbeda dengan sistem alam makroskopik. Kecepatan mobil, aliran sungai, temperatur udara, massa suatu benda mungkin bisa kita tentukan atau kita ukur dengan akurat dengan hitungan fisika klasik tapi itu semua tidak berlaku dalam dunia kuantum alias dunia mikroskopik. Alam mikroskopik berkebalikan dengan alam makroskopik.

            Kita tau bahwa semua material di dunia tersusun dari atom-atom yang sangat kecil dan tidak terlihat. Sedangkan atom sendiri tersusun dari elektron, proton dan juga neutron. Proton dan neutron berada di pusat inti atom dan elektron mengelilingi mereka. Bisa diibaratkan susunan atom bagaikan miniatur sistem tata surya. Elektron adalah komponen atom yang cukup penting. Dia dapat berpindah lintasan ke lintasan lainnya karena perilaku eksitasi (loncat dari orbital  energi tinggi ke energi rendah). Sehingga letak suatu elektron dalam atom tidak dapat diketahui secara pasti.

            Termasuk cahaya, sesuatu  yang masih dalam ruang lingkup fisika kuantum. Cahaya adalah elemen penting dalam kehidupan. Cahaya adalah salah satu jenis gelombang elektromagnetik karena dapat merambat di ruang hampa udara. Cahaya memiliki panjang gelombang sekitar 380-750 nm. Selain itu cahaya memiliki kecepatan yang sangat tinggi yaitu 3x 10^-8 m/s.

Lalu apa hubungannya semua itu dengan peristiwa Isra’ Mi’raj ?.

            Baginda Nabi Besar Muhammad SAW adalah manusia terpilih yang diberi anugerah untuk menyampaikan risalah kenabian bagi umat manusia. Beliau secara langsung ‘diundang’ oleh Sang Pemilik Alam Semesta untuk menerima perintah sholat untuk umatnya. Peristiwa ini sendiri tertuang dan diabadikan dalam surah ke-17 di dalam Al-Qur’an, yaitu Surat al-Isra.

            Mengkaji peristiwa  Isra Mi’raj adalah mengkaji keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Isra yang bermakna perjalanan malam adalah peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW berangkat dari Ka’bah Mekah ke Baitul Maqdis di Yerusalem. Sedangkan jarak dari Mekah ke Yerussalem sekitar 1239 kilometer yang pada masanya normal ditempuh dengan perjalanan kuda atau unta sekitar sebulan. Namun, Nabi Muhammad SAW atas izin Allah mencapainya hanya dalam waktu semalam menggunakan buraq. Sementara Mikraj adalah peristiwa naiknya Nabi Muhammad SAW dari Baitul Maqdis di Yerussalem ke Sidratul Muntaha melewati langit ke tujuh.

            Rasio akal manusia pada zaman itu akan sulit menerima dan mencerna peristiwa yang dialami oleh Nabi karena terlalu singkatnya  waktu perjalanan. Hanya iman yang kuat dan rasa taqwa yang diperlukan untuk meyakini itu semua. Namun seiring berjalannya peradaban semua itu akan bisa dimengerti dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.

            Penulis belum bisa mengambil kesimpulan antara kedua benang merah ini, antara nilai spiritualisme dan juga sains ilmiah alam kuantum. Tapi semua itu justru menambah khazanah ilmu dan wawasan kita akan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas alam semesta beserta sistemnya yang diciptakan-Nya.

            Material yang tidak terlihat seperti atom, alam kuantum yang abstrak serta  kecepatan cahaya   itu dapat kita yakini eksistensinya. Lalu bagaimana dengan peristiwa Isra Miraj yang sudah yang sudah jelas dalam Al-Qur’an ?

            Pada akhirnya kita tau bahwa bukti kekuasaan Allah mampu melampaui segalanya, melampaui ruang dan waktu, mampu menembus antar dimensi yang tak dapat kita jangkau sebagai hambanya yang serba kekurangan.

            Sebagaimana Surat Ar-Rahman ayat 33 berbunyi:



يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ -٣٣

Artinya: "Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)."




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar