Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

An-Na’im dan Konstruksi Hukum Keluarga Islam





Ahmad Maulana S


Abdullahi Ahmed An Na’im lahir di sebuah desa al Maqawir yang terletak di tepi barat Nil pada 6 April 1946. An Na’im menyelesaikan pendidikan dasar sampai perguruan tingginya (S1) di Sudan. Ia mendapat gelar sarjananya di bidang hukum publik pada tahun 1970 di Fakultas Hukum Universitas Khorrotum. An Na’im melanjutkan studi S-2 nya di Universitas Cambridge, Inggris. Di Universitas inilah an Na’im memperoleh gelar LL.B dan Diploma di Fakultas Kriminolodi, tahun 1973. Sedangkan S-3 nya diselesaikan di Universitas Edinburg, Skotlandia. Ia berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1976. 

Selain sebagai akademikus, an Na’im juga tergolong sebagai aktivis. Hal ini terbukti dengan bergabungnya an Na’im ke organisasi The Republican Brotherhood ketika masih menjadi mahasiswa di Sudan. Organisasi tersebut didirikan oleh Mahmoud Mohamed Taha sebagai partai republik di tengah-tengah perjuangan nasionalis Sudan pada akhir perang dunia II. Hubungan yang terjalin antara an Na’im dan Taha melalui yang intens selama berkarir telah menimbulkan kekaguman yang luar biasa dalam diri an Na’im. Hal itu terbukti dengan kukuhnya an Na’im dalam melanjutkan pemikiran sang guru, termasuk teori nasakh yang dimaksudkan oleh Taha sebagai konsep evolusi syari’ah. 

An Na’im melakukan secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis terkait konsep ijtihad tradisional. Secara ontologis, an Na’im mengakui teks Alquran yang bersifat qat’i dilalah dan dzanny dilalah. Namun dalam rumusannya berbeda dengan apa yang telah disebutkan oleh ulama ushul pada umumnya. Bagi an Na’im teks qat’i dilalah adalah teks yang universal atau teks yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan, sedangkan teks dzanny dilalah adalah teks yang memiliki arti jelas dan rinci atau teks yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan. 

Adapun terkait tawaran epistemologi, an Na’im menjadikan teks yang universal atau tkes qat’i dilalah sebagai sumber justifikasinya. Sehingga, ketika berbicara tentang kewarisan maka konsep keadilannya adalah berdasarkan teks qat’i dilalah dalam arti teks yang mengandaikan adanya kesetaraan tanpa deskriminasi. 

Sedangkan tawaran aksiologis, an Na’im berupaya membangun hukum Islam untuk tujuan kesesuaian dengan teks yang universal dalam Alquran dan sunnah tetapi dengan aksentuasi pada pemeliharaan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini berbeda dengan rumusan hukum yang dirumuskan oleh ulama tradisional yang bertujuan untuk menyesuaikan dengan totalitas teks yang rinci dan jelas dalam Alquran dan sunnah sebagai representasi untuk mengetahui maqashid syariah. 

Kaitanya dengan hukum keluarga, an Na’im adalah salah satu pemikir yang telah melakukan upaya dekonstruksi terhadap hukum keluarga. Ia melakukan perombakan terhadap aturan hukum keluarga yang telah ditetapkan sebagai persoalan yang dianggap suci. An Na’im merinci aturan-aturan yang dianggap telah menimbulkan deskriminasi terhadap kelompok dzimmi maupun terhadap perempuan secara umum. Deskriminasi terhadap kelompok dzimmi, misalnya seorang laki-laki muslim boleh mengawini perempuan ahli kitab (kristen atau Yahudi), tetapi sebaliknya, laki-laki ahli kitab tidak diperbolehkan mengawini perempuan muslim. Begitu juga dalam hal warisan. Terhadap dua persoalan ini, an Na’im mengajukan rumusan hukum bahwa laki-laki muslim boleh menikahi perempuan ahli kitab, dan juga sebaliknya. Perbedaan agama bagi an Na’im tidak lagi menjadi penghalang dalam hal perkawinan maupun kewarisan.









Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar