Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Ada Pilihan Ada Konsekuensi



Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah

Duduk di tengah keramaian orang lalu lalang menjadi pilihan untuk mendefinisikan
nikmat kota sebrang. Padahal, di kota asal pun tak jarang tempat ramai. Sepanjang jalan yang
dipadeti oleh toko-toko tua, lampu-lampu gantung berwarna hijau dengan mode klasik khas serta
bangku tempat duduk ini pun ber- mode klasik. Saat tiba, langit masih memberi cahaya. Selang
dua puluh kemudian mulai gelap. Lampu gantung itu siap menerangi para pelintas. Mungkin
menurut kebanyakan orang disana khususnya kaum wanita berpendapat “seharusnya tuh kalo
lagi ke kota orang gini apalagi ke wisatanya itu cari-cari sesuatu yang beda buat di bawa
pulang”. Berbeda.

Tempat itu tak pernah sepi. Seakan-akan sudah tak butuh lagi pada angka penanda waktu.
Cukup menimbang tenaga masih kuat atau tidak. Sudah menjadi kewajiban sibuk mencari icon
pas untuk dikenang “oh, dulu aku pernah ke tempat ini”. Sedang naik andong cekrek, naik bentor
cekrek, yang lebih baru saat ini naik scooter cekrek. Disamping bahagia, raut sedih pun hadir
dalam satu adegan. Terlihat dari para pencari nafkah yang sedang menunggu harapan. Mereka
yang mengandalkan tubuh sebagai penyanggah untuk menaruh barang dagangan.

Tepat di depan pandangan sebrang jalan terlihat dua orang laki-laki berdiri mengenakan
seragam, semacam pakaian adat yang dibuat dengan gaya bodyguard zaman kolonial. Sepatu
hitam mengkilat yang ikatannya sampai betis, baju garis-garis hitam putih dengan sedikit warna
cokelat lengkap dengan rompi hitam. Menggunakan topi mode koboy dengan hiasan bulu-bulu
burung dan membawa tongkat panjang. Tugasnya tidak banyak hanya berdiri di depan teras
pusat pembelanjaan seperti patung. Kakinya menjadi tumpuan, menompa badan dan atribut yang
dipakai.

Selain itu, ada petugas lain sama-sama menggunakan rompi tapi tugasnya berbeda.
Mondar mandir dari ujung kiri ke kanan dari depan belakang sudah menjadi rutinitas. Apalagi
kalau pengunjung melonjak bisa ribuan kali mereka jalan dalam poros yang sama. Terkadang
banyak yang mengeluh tentang kinerja profesi itu di bagai tempat. Hanya duduk saja, saat mau
pergi baru datang. Jangankan memarkirkan motor untuk basa-basi “mau kearah mana mba?”
dibantu saja tidak. Tapi ingin mendapat jatah sebagai penguasa tempat.

Semua adegan itu menjawab kata bijak “Semua pilihan itu pasti ada konsekuensinya”.

Tepat setelah isya keramaian itu belum berhenti. Namun waktu sudah menunjukkan
untuk kembali ke bis rombongan. Kembali.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar