Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pemikiran Tokoh Hasan al-Banna


Rafi’ Alra

Hasan al-Banna lahir pada tahun 1906 di Mahmudiyah, provinsi al-Buhaira, Mesir. Beliau berasal dari keturunan keluarga yang terpandang serta taat akan beragama. Ayahnya bernama Syeikh Ahmad bin Abd al-Rahman al-Sa’ati, merupakan orang yang alim pada bidang ilmu agama. Ayahnya mengajar dan berdakwah pada masanya dan juga bekerja sebagai tukang jam, oleh karena itulah ayahnya mendapat gelar al-Sa’ati.

Hasan al-Banna sejak kecil sudah didik oleh ayahnya dengan serius tentang berbagai ilmu keagamaan, seperti ilmu Al-Qur’an, hadits dan fiqih. Ia belajar di sekolah pemerintah dan di masjid. Salah seorang guru yang berperan dalam membentuk kepribadian dan intelektualnya adalah Syaikh Mahmud Zahra. Sekolah pemerintah yang diikutinya sampai perguruan tinggi di Universitas Darul-Ulum, tamat pada tahun 1927 M (Rosmaladewi, 2015: 77).

Hasan al-Banna disebut-sebut sebagai neo-salafy dengan pemikiran tiga pandangan dasarnya. Pertama, Islam merupakan sebuah sistem komprehensif yang mampu berkembang sendiri. Kedua, Islam memancar dari dua sumber fundamental yakni Al-Qur’an dan Hadits. Ketiga, Islam berlaku untuk segala waktu dan tempat. Untuk mengembangkan konsepnya tersebut, beliau  mulai langkahnya dengan konsep tarbiyah nafsiyah (pembinaan jiwa) dengan cara pendidikan Alquran sambil bersandar kepada Hadits (Rosmaladewi, 2015: 78).

Hasan al-Banna lebih mendukung status logis dari preposisi pendidikan dan sekaligus menyusun suatu perubahan moralitas Islam yang komprehensif. Karena menurutnya, sejarah panjang kehidupan manusia membuktikan betapa banyaknya generasi yang hancur akibat lemahnya pendidikan iman dan moral yang diberikan kepada anak. Dalam pandangan beliau, keutamaan Islam bagi umat manusia dengan memberikan metode yang tepat dan sempurna bagi pendidikan rohani, pendidikan generasi, pembentukan umat, dan pembangunan budaya yang artinya bagaimana agar pembentukan generasi rabbani masa depan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai iman dan akhlak. Pembentukan generasi rabbani direduksi dari teks-teks al-Qur’an dan al-Hadis memerlukan tanggung jawab mutlak yang satu sama lain mempunyai kaitan yang sangat erat.

Hasan al-Banna juga merupakan seorang pemikir politik, pemikirannya yang berkaitan dengan politik terbagi dalam tiga kelompok pikiran (Azhar, 1997: 121-124).

  1. Reformasi sosial dengan asas kaidah

Hasan al-Banna meyakini benar bahwa sesungguhnya perubahan sosial dan perbaikannya harus dimulai dengan apa yang terdapat dalam diri. Dengan argumentasi surat al-Ra'd: 11 konsep ini menawarkan satu model perubahan sosial dengan fase awal terpusat dari pribadi. Selanjutnya perubahan pada keluarga dan selanjutnya menuju kepada masyarakat secara kaffah.

  1. Tidak adanya pemisahan antara agama dan negara

Menurut Hasan al-Banna, negara tidak dapat berpisah dengan agama, yaitu Umara sebagai pelaku utama dalam pemerintahan wajib berkolaborasi dengan ulama. Pemerintahan akan kuat apabila peran ulama diposisikan pada kedudukan yang sesuai. Ulama menjadi tempat untuk mempertimbangkan semua kebijakan yang berkenaan dengan kemaslahatan umat Islam. Kehancuran sebuah pemerintahan menurutnya adalah karena ulama dimarjinalkan dalam posisi yang lemah dan hanya sebagai tameng sebuah keputusan.

  1. Syariat Islam sebagai undang-undang tertinggi dalam pemerintahan Islam

Islam sebagai agama paripurna, mempunyai tataran nilai hukum yang wajib diikuti semua umat Islam. Oleh karenanya kedudukan syariat Islam sebagai dustur al-a’la dalam pemerintahan Islam mutlak.

Sedikit kutipan menarik dari kata-kata mengenai pemikiran Hasan al-Banna mengenai negara sebagai berikut, “Kebangkitan suatu bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi, dibalik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.” (Hasan al-Banna: Risalah Ila Ayyi Syain Nad u an-Nas)


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar