Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PEDATI-PEDATI YANG MENUJU KOTA


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Musim panen bulan ini terbilang riuh meriah,setelah tujuh bulan sebelumnya para petani dibuat kecewa dengan hasil panennya.Berbeda dengan bulan ini, senyum mereka terukir selebar-lebarnya. pada masa panen ini, padi dan pala masak bersamaan. Melihat hal itu, para petani sangatberantusias untuk pergi ke hutan ataupun sawah. Sangat jarang bagi dua hasil bumi bisa dipanen di bulan yang sama. Setelah dipanen, mereka bergotong royong mengangkat hasil panennya dari desa ke kota.Namun tidak semua, hanya Pala saja yang dijualnya. Padi disimpan di lumbung sebagai bahan makanan setiap harinya.

Letak desa kami sangat jauh dari kota, ditambah medan yang dilaluinya juga terbilang tidak mudah. Inilah yang menyebabkan proses penjualan menjadi sangat lama. Biasanya para petani akan membuat rombongan-rombongan dalam mengantarkan pala ke kota. Seperti pagi ini, aku membantu menyiapkan pedati dan beberapa bekal untuk dibawa Bapak pergi ke kota. Sebenarnya aku kurang yakin akan perjalanan Bapak ke sana, karena biasanya dalam satu rombongan terdiri dari dua puluh petani lengkap dengan pedatinya. Namun di rombongan bapak, hanya ada lima petani saja, bahkan jumlah itu tidak mencapai setengahnya. Mereka semua adalah  petani yang tertinggal dalam prosespemanenan pala.

“Pak, apakah Ardan boleh ikut?”bapak mengangkat karung terakhir ke atas tumpukan karung lain di dalam pedati, ia lalu mengelus rambutku pelan.

“Bersiaplah ! Asal ibumu mengizinkan” bergegas aku berlari masuk ke rumah menghampiri ibu meski aku tahu ia tidak akan pernah setuju dengan niatku ini.

“Bagaimana jika nanti kau kelelahan dan kedinginan, apa tidak akan merepotkan bapakmu?”

“Aku bisa mengenakan jaket kebal yang bapak belikan di pasar malam. Ayolah buuu !! Aku ini satu-satunya anak jantan ibu, jika aku hanya berdiam di rumah saja, lalu bagaimana nasib Ardan saat dewasa nanti?” aku terus menyeret topik-topik menakutkan untuk meluluhkan hati ibu. Namun tetap saja, ibu bersikeras teguh dengan pilihannya.

“Kata Guruku, pengalaman adalah guru terbaik dalam menjalani hidup. Aku tidak bisa membayangkan, nasib bapak yang semakin menua, sedang anaknya ini tidak ada pengalaman dalam berkelana ke kota, menyedihkan bukan?”

Ibuku benar-benar sangat keras kepala, meski aku tahu ini semua juga demi kebaikanku. Tapi bagaimanapun juga, setidaknya akuharus pernah mencicip rasanya berkelana ke kota sebelum tumbuh dewasa, karena hampir semua kawanku pernah merasakannya. ‘tok...tok...tok’ bapak mengetuk pintuku untuk berpamitan namun aku memilih enggan untuk menjawabnya.

“Biarkan saja dia ikut bu, toh dia juga tidak terlalu kecil lagi”

“Tidak pakk !aku tidak ingin mengulang pahitnya kehilangan sosok buah hati lagi”

Mereka berdua berdebat kecil, namun lagi dan lagi bapak tidak bisa menjawab ibu. Kepergian Abangku, Aris, ternyata menyisakan kepedihan mendalam di hati ibu. Abang Aris meninggal saat ikut Bapak pergi ke kota dan itu membuat ibuku trauma karena hanya aku satu-satunya buah hati yang masih tersisa.

Aku mengintip dari balik jendela kamarku, bapak dan petani lainnya bersiap dengan pedatinya masing-masing. Bersamaan dengan itu, alangkah terkejutnya aku melihat anak kecil berlari seraya menangis menghampiri rombongan bapak, dia adalah Ahmad, temanku. Ia merengek untuk ikut dengan bapaknya. Tapi dia gagal, karena kakak perempuannya menariknya dengan sangat kencang. Melihat hal itu, tumbuhlah keinginan dari dalam diriku untuk menyusun sebuah rencana, dan rencana itu adalah...

“Kau cepat sedikit lah, nanti kita ketahuan”

“Sudahlah dan, ini sudah setengah jalan. Jadi, sekalipun kita ketahuan mereka juga tidak bakal menyuruh kita untuk kembali ke desa”apa yang dibilang Ahmad benar, hari pun juga semakin gelap. Aku tidak membawa perlengkapan untuk tidur, pun dengan dia. Kami memutuskan untuk keluar dari hutan dan mengejar rombongan bapak di depan.

“Ardan tunggu !!”

“Ada apa?”

“Kau lihat itu!! Terlihat seperti sebuah helikopter”

“Yaaa aku melihatnya, siapa mereka?”

“Terlihat seperti kawanan bandit” aku dan Ahmad saling tatap. Wajah Ahmad pucat pasi. Ketakutan perlahan menyelimuti.

Satu per satu orang-orang bermata saga meninggalkan helikopter itu. Aku menarik tangan Ahmad dan membawanya ke arah helikopter. Ahmad sedikit berteriak kaget, namun dengan cepat aku menutup mulutnya.

“Apa yang ingin kau lakukan dan? Lepaskan tanganku ! Kau membuatku kaget”

“Rusak saja mesin-mesin di helikopter ini, rusak saja semua agar tidak bisa beroprasi lagi”

“Kau sudah gila !! Bagaimana jika para bandit itu kembali dan menangkap kita” ujar Ahmad sembari berjalan menjauhi helikopter itu.

“Sudahlah, aku akan melakukannya sendiri"

Mulanya Ahmad hanya memandangiku dari jauh, namun semakin lama, ia merasa iba dan memutuskan untuk masuk ke dalam helikopter untuk membantuku. Aku memutus semua kabel-kebel di dalamnya, berharap helikopter ini tidak dapat terbang lagi.

“Ayo kita pergi !!”

Tidak lama setelahnya, para bandit itu datang dengan karung-karung di pundaknya. Lalu mereka meletakkannya di bagian belakang helikopter. Aku dan Ahmad masih mengintai dari balik belukar.

“Tolong kembalikan hasil panen kami Tuan !!” seorang pria berlari kecil berusaha menghalangi langkah bandit-bandit itu.

“Menyingkirlah !!” tubuhnya yang lebih besar dan kekar membuat bandit tersebut dengan mudah mendorong dan menendang pria malang itu. Ia hanya bisa tertunduk pasrah melihat hasil panennya dirampas paksa oleh orang-orang kejam yang tidak dikenalnya.

Dari jauh, datang gerombolan petani lain menghampiri para bandit. Kali ini aku mengenal satu dari mereka, dan dia adalah bapakku. Aku melihatnya menangis sesenggukan. Jumlahnya yang hanya sedikit, membuat bapak dan petani lainnya pasrah. Tidak terbayang betapa hancur hatinya saat seluruh hasil panennya direnggut habis. Mereka juga tidak bisa melawan, karena para bandit itu memegang senjata api. Baling-baling helikopter itu berputar semakin cepat dan membawa terbang hasil panen bapak dan petani lainnya.

“Apakah kita gagal?” aku berbisik pada Ahmad

“Sepertinya iya, helikopter itu ternyata masih bisa beroperasi” jawabnya lirih

Saat keadaan sudah benar-benar hening dan para bandit itu telah pergi, aku dan Ahmad menghampiri bapak dan keempat petani lainnya. Aku memeluk bapak dalam-dalam pun dengan Ahmad memeluk bapaknya.

“Kau disini Ardan?”

“Iya pak, aku dan Ahmad membuntuti bapak”

“Lalu bagaimana dengan ibumu, nak?” aku tertegun lalu menangis di pelukan bapak

“Maafkan aku pak !! Aku benar-benar ingin pergi berkelana dengan bapak”

“Tak apa, sekarang kau sudah tahu kan, kenapa ibumu bersikeras melarangmu ikut”

“Iya bapak, maafkan aku”

“Sudahlah, ikhlaskan semuanya. Mari kita balik !!”

Tiba di desa, kami dikejutkan dengan berita besar. Tidak biasanya desa kami didatangi mobil-mobil polisi dan pengawal berseragam seirama. Pantas saja saat perjalanan pulang tadi kami banyak berpapasan dengan mobil-mobil polisi yang mengarah ke desa kami. Ternyata ada helikopter jatuh dan mereka datang untuk mengevakuasinya. Mendengar hal itu, aku dan Ahmad saling tatap dan hampir bersamaan kami berujar,

“Berhasil”

 

 Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar