Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

INDONESIA DARURAT KASUS KEKERASAN PEREMPUAN: LAKI-LAKI PERUSAK MASA DEPAN PEREMPUAN


Fitriatul Wilianti

Kasus kekerasan seksual akhir-akhir ini semakin marak di Indonesia. Negara Indonesia yang katanya negara hukum, negara demokrasi, negara yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan bahkan tidak mampu menyelesaikan kasus kekerasan seksual yang semakin meningkat setiap tahunnya. Perempuan yang seharusnya sebagai pendamping laki-laki dan harus dilindungi bahkan sulit mendapatkan rasa aman dalam hidupnya. Semakin hari nafsu serta keserakahan laki-laki tidak bisa dihentikan. Banyaknya kasus kekerasan yang tidak hanya dilakukan secara fisik tetapi juga secara verbal, baik itu kasus penganiayaan, pelecehan dan yang paling marak akhir-akhir ini adalah kasus pemerkosaan. 

Ruang aman bagi perempuan semakin hari semakin sempit, kasus terbaru yaitu terjadi di lingkungan pendidikan yaitu di salah satu Pondok Pesantren di Bandung. Sekolah (terlebih pesantren) yang katanya sebagai lembaga pendidikan yang menanamkan nilai moral, akhlak dan menjunjung tinggi nilai agama ternyata juga terdapat predator seksualitas yang bersembunyi di balik kata guru. Parahnya lagi, pelaku adalah pengasuh pondok pesantren yang dihormati oleh seluruh santri. Korban pelecehan dan pemerkosaannya pun tidak hanya satu dua santri tetapi sampai belasan santri yang diperkosa hingga hamil. Tidak terbayang bagaimana trauma dan depresi yang dialami para korban karena kasus tersebut padahal mereka masih menginjak usia belasan tahun. 

Kasus predator seksual yang biasanya didengar di kampus-kampus yang pelakunya merupakan dosen-dosen atau para petinggi kampus sekarang semakin parah dan terjadi di sekolah/pesantren dan korbannya kebanyakan masih di bawah umur. Selain itu kasus kekerasan seksual lain juga terjadi terhadap mahasiswi yang mengakibatkan dirinya bunuh diri. Kasus pemerkosaan oleh pacar yang merupakan seorang polisi yang seharusnya memberikan perlindungan dan keamanan untuk masyarakat umum bahkan tidak bisa melindungi perempuan terdekatnya sampai merusak fisik dan psikisnya. Tidak hanya pemerkosaan, pelaku memaksa korban melakukan aborsi hingga cukup membuat korban depresi sampai bunuh diri. 

Selain itu masih banyak kasus-kasus kekerasan seksual lain yang terjadi di Indonesia. Beberapa minggu lalu penulis juga membaca beberapa berita mengenai kasus penganiayaan dan pemerkosaan anak SD yang berusia 13 tahun di Malang, Jawa Timur. Kasus lain juga terjadi di Padang Selatan yaitu dilakukan oleh satu keluarga dengan mencabuli dua orang anak di bawah umur di dalam rumah korban, pelaku yang merupakan satu keluarga yang terdiri dari enam orang di antaranya kakek, paman, kakak, serta sepupu dari korban sendiri. 

Beberapa korban kekerasan seksual di atas bukan hanya dari kalangan perempuan-perempuan dewasa (mereka yang pacaran), seorang istri, tetapi juga anak-anak di bawah umur juga menjadi korban kekerasan seksual. Mereka yang seharusnya bisa memperoleh masa depan yang cerah tiba-tiba dihancurkan masa depannya oleh hilangnya moral laki-laki. Jika ditanya, siapa yang patut disalahkan, apakah perempuan yang tidak bisa menjaga diri atau laki-laki yang minim akhlak dan tidak mampu mengontrol hawa nafsu?. Perempuan memang perlu dan dituntut untuk menjaga diri sendiri, menutup aurat, tidak keluyuran dan lain-lain. Tetapi dari kasus-kasus yang terjadi baru-baru ini pencegahan yang perempuan lakukan tetap tidak mampu mengalahkan hawa nafsu laki-laki.

Misalnya kasus yang terjadi di pondok pesantren, harus seperti apalagi santri menutup auratnya?, Apakah mereka perlu benar-benar membalut seluruh tubuh dengan berlapis-lapis kain sampai menutup muka atau bagaimana? Jika perempuan disalahkan karena mereka keluar rumah, bagaimana dengan kasus-kasus pemerkosaan yang terjadi di dalam rumah korban sendiri, apakah perempuan harus menyewa body guard khusus untuk menjaga dia tetap aman di lingkungannya sendiri. Semua masalah dan kasus di atas merupakan real kesalahan laki-laki. Laki-laki yang tidak mampu menahan hawa nafsu dan menundukkan pandangan. Laki-laki yang tidak mampu menjaga dan melindungi perempuan sebagai siswa, keluarga, anak, teman, atau pendamping hidup. 

Kasus-kasus di atas juga menjadi bukti jelas betapa daruratnya kekerasan seksual di Indonesia yang bahkan guru serta keluarga sendiri tidak mampu memberikan rasa aman bagi perempuan.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar