Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Baharuddin Lopa Santri dalam Wujud Pendekar Hukum Indonesia: Kisah Jaksa yang sederhana (Bagian 1)


sumber foto: kompasiana.com
Erwin

Entah mendapat pesan dari arah mana, pada malam tanggal 3 Juli 2001, Presiden Abdurrahman Wahid tersentak. Beliau mengunci diri di dalam kamarnya di Istana Negara dalam keadaan menangis tersedu-sedu tanpa ada yang tahu apa penyebabnya. Hujan deras disertai kilat dan  sambaran petir seolah-olah langit ikut sedih bersama dengan cucu Hadratussyaikh Hasyim Asyari itu. Setelah tangisan beliau agak reda, Gus Dur berkata pelan, “Malam ini, salah satu tiang langit bumi Indonesia telah runtuh!”.

Tak ada yang paham apa maksud dari perkataan Gus Dur, sampai sebuah telepon genggam berdering pukul 11 malam dari kedutaan besar RI di Riyadh, Arab Saudi. Sebuah berita duka yang sangat berat diterima oleh masyarakat Indonesia saat itu. Berita duka terdengar dari penelpon tersebut yang  pada akhirnya menggenapi penglihatan Gus Dur. Kemudian berlanjut dengan penyampaian duka beliau ke seluruh penjuru tanah air. Sang penegak keadilan  telah dipanggil oleh Tuhan yang Maha Adil. Sang Jaksa Agung telah dipanggil oleh dzat yang paling Agung. Dialah Baharuddin Lopa yang dikabarkan telah dipanggil oleh Sang Pencipta. 

Peristiwa di atas setidaknya memberikan gambaran bahwa Baharuddin Lopa bukanlah orang sembarangan. Tidak mengherankan  jika di dalam Tajuk Rencana KOMPAS edisi 5 Juli 2001, penulis bersumpah  bahwa seorang penelpon menyampaikan dukacita kepada Baharuddin Lopa sampai berujar “Cahaya ditengah gelap gulitanya penegak hukum itu telah padam”.  Bahkan satu hari sebelum itu, kantor berita Associated Press Amerika Serikat memberitakan, “Indonesia’s Anti-Corruption Crusader has Died”.


Siapa Baharuddin Lopa

Lopa atau Barlop, begitulah ia dipanggil, lahir pada 27 Agustus 1935 di Pambusuang, Polewali mandar, Sulawesi Selatan (saat ini Sulawesi Barat). Lopa lahir dari keluarga terpandang di daerahnya,  kakek beliau yang bernama Mandawari  merupakan seorang Raja Balanipa, salah satu raja yang dikenal sederhana yang sifatnya inilah yang kemudian menurun pada diri Lopa. 

Salah satu pelopor berdirinya Provinsi Sulawesi Barat ini merupakan seorang yang ambisius dalam mengarungi pendidikannya. Ia memulai pendidikannya dibangku sekolah di SD Tinambung, SMP di Majene, serta SMA di Makassar. Lopa kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar pada tahun 1962. Lalu melanjutkan S2 di Universitas Diponegoro pada tahun 1982.

Melihat dari latar belakang pendidikan beliau, pada dasarnya beliau   lulusan pendidikan formal, bukan pondok pesantren, namun disini penulis menempatkan beliau sebagai santri, karena Lopa lahir ditengah-tengah tradisi Islam yang kuat dan keluarga yang tergolong religius. Beliau memondokkan diri dikampung halamannya dengan mengaji nahwu dan kitab-kitab klasik kepada ulama-ulama dikampungnya. 

Pambusuang (nama kampung kelahiran Lopa) merupakan salah satu tempat lahirnya ulama-ulama besar di Sulawesi, salah satunya Annangguru KH. Muhammad Thahir. Tradisi Pengajian kitab-kitab klasik yang  sangat terjaga di Pambusuang membuat para santri menjadikannya sebagai salah satu kiblat pengajian kitab kuning di Sulawesi ketika libur pondoik telah tiba bahkan sampai saat ini. Jadi, secara sosiologis kampung Lopa sangat mendukung untuk terciptanya integrasi kepribadian, moral dan akhlak yang beliau tunjukkan.

Karir Lopa bermula ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Hasanuddin Makassar, di mana saat itu Lopa telah diamanahkan menjadi Jaksa pada Kejaksaan Tinggi(KEJATI) Negeri Makassar. Kemudian di usianya yang 25 tahun, Lopa dilantik menjadi Bupati Majene. Setelah dua tahun menjabat, Lopa lantas banyak memegang jabatan jaksa di sejumlah wilayah seperti Ternate, Aceh, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta, Menteri Kehakiman dan HAM, Kedutaan Basar Arab Saudi untuk Indonesia, hingga menjadi seorang Jaksa Agung. 


Kesederhanaan Baharuddin Lopa

Dibalik aksinya yang pemberani di ranah kejaksaan, beliau adalah sosok pejabat yang sederhana. Selain itu, Lopa memegang prinsip kuat menghindari perkara yang syubhat agar terhindar dari perkara yang haram. Lopa pernah berwasiat “Kunci hidup bersih adalah kesederhanaan. Dengan itu kita bisa terhindar dari pemberiaan tak halal. Sekali terpancing untuk melakukan penyelewengan maka sulit menegakkan keadilan”. 

Dengan prinsip hidupnya yang kuat, Lopa pernah menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa Makassar pasca menghadiri acara di Makassar. Kala itu Lopa ingin merokok, namun lupa membawa korek. Lopa pun meminjam korek api mahasiswa yang ada di sana. Akan tetapi beliau lupa mengembalikannya dan baru teringat saat berada di Jakarta. Orang-orang sampai dibuat heran olehnya. Bagaimana mungkin  Lopa sampai tak bisa tidur gara-gara korek api. Korek pun dititipkan ajudan Lopa ke koleganya dan Lopa sempat berkata kepada koleganya yang akan ke Makassar “Jangan sampai gara-gara korek api ini saya masuk neraka”.

Salah satu bukti lain perwujudan prinsip Lopa yang anti barang syubhat adalah enggan menggunakan fasilitas negara demi kepentingan pribadi. Telepon dinas yang ada di rumahnya hanya digunakan untuk keperluan dinas dan selalu dikunci setelah itu, agar tidak digunakan seenaknya oleh keluarganya. Lopa sampai membeli satu telepon koin untuk keperluan pribadi dan keluarganya. 

Tak lupa Prinsip ini pun pun juga di wariskan kepada keluarganya agar keluarganya tidak menggunakan fasilitas negara yang dititipkan padanya. Lopa tak pernah membawa Istrinya ikut kendaraan dinas ketika berangkat bekerja karena mobil dinas hanya untuk keperluan dinas. Anaknya pun yang tak diizinkan pula ikut mobil dinas, padahal kantor Lopa dan sekolah anaknya memiliki jalur yang sama. Lopa berkata kepada anaknya “Kau naik angkutan umum saja, biar tau bagaimana hidup susah”. Hal serupa juga dirasakan oleh anak sulung Lopa ketika hendak meminjam kursi di Kejati Makassar untuk keperluan acara kampusnya. Lopa berkata “Kau lihat tulisan di kursi itu, itu milik Kejati, bukan milik Fakultas Hukum UNHAS.” 

Diceritakan pula pada suatu hari Lopa hendak menghadiri undangan pernikahan bersama istrinya Indrawulan pada hari Ahad. Sebagai pejabat besar pada saat itu, pihak keluarga yang mengundang telah mempersiapkan penyambutan untuk Lopa yang digadang-gadang akan datang dengan mobil dinasnya. Akan tetapi, suara Lopa tiba-tiba  terdengar di dalam pesta pernikahan. Ternyata Lopa naik angkot (pete-pete) ke acara tersebut sehingga tidak diketahui kedatangannya. Lopa berkata “ini hari libur. Haram hukumnya memakai kendaraan dinas.”

Prinsip anti Barang syubhat Baharuddin Lopa ini terinspirasi dari kisah nyata yang ada dikampung halaman Lopa. Berdarkan Keterangan yang di sampaikan Salawani dan Annangguru K.H. Syahid Rasyid, diceritakan bahwa salah seorang alim ulama bernama Annangguru Hawu pada suatu hari setelah kembali dari menagkap ikan beliau mengadakan pengajian di Masjid. Namun hari itu beliau sangat sulit memahami isi kitab kuning yang sedang di kaji, tidak seperti biasanya. Beliau pun bertanya-tanya apa yang salah dengan hari ini?. Beliau kemudian kembali ke rumah dan bertanya kepada istrinya “apakah ikan yang saya tangkap tadi sudah dimasak?”. Setelah dijawab iya, beliau bertanya lagi “dari mana kamu mendapatkan jeruk nipis untuk ikan itu?”. Istrinya mengatakan bahwa ia memungutnya di jalan saat selesai mandi di sungai. Annanguru Hawu pun langsung menyadari bahwa itulah penyebabnya. Jeruk itu sesuatu yang syubhat. Sehingga istrinya diminta segera meminta kehalalan jeruk itu kepada pemiliknya.  Setelah itu beliau kembali mengkaji kitab di masjid, dan beliau dengan mudah bisa menjelaskan isi kitab sebelumnya.

 Prinsip Lopa yang lain adalah enggan menerima pemberian karena berpotensi akan dikaitkan suatu hari di ranah hukum. Lopa pernah  mengatakan “Saya tidak perlu diberi hadiah, saya punya gaji, yang perlu diberi hadiah adalah rakyat yang susah”. Lopa pernah marah ketika kembali ke rumahnya dan mendapati sebuah hadiah parsel yang salah satunya telah dibuka. Kata Lopa “Siapa yang menyentuh barang ini?” salah satu anak Lopa pun mengakui. Sang anak kemudian disuruh membeli barang yang sama, lalu kemudian dikembalikan kepada pengirim hadiah.

Diceritakan pula bahwa setelah tabungan Lopa dirasa cukup untuk membeli mobil, beliau pergi untuk membeli mobil di Pare-pare. Pengusaha mobil yang ditemui saat itu bernama Jusuf  Kalla menawari Lopa mobil yang biasanya dipakai pejabat seharga 100 juta. Lopa pun mengatakan bahwa itu terlalu mahal dan meminta mobil yang murah saja. Jusuf Kalla kemudian menawarinya mobil seharga 30 juta.  Meski begitu, Lopa tetap menganggap masih mahal hanya untuk sebuah kendaraan. Lopa lalu melakukan negosiasi agar diberi harga yang pas. Jusuf  Kalla kemudian berniat memberikannya saja mobil itu kepada Lopa. Namun, Lopa menolak keras, lopa meminta agar diperlakukan seperti pembeli pada umumnya. Akhirnya disepakati mobil itu seharga 25 juta dan dibayar secara berangsur. Para pegawai pun dibuat heran karena Lopa selalu datang secara  rutin membayar angsuran per bulan dan tak pernah telat.

Tak lupa prinsip keadilan tanpa pandang bulu pun melekat pada diri seorang Baharuddin Lopa. Namun  Lopa tak pernah bekerja sendirian, ada ulama yang berdiri di belakangnya. Diceritakan bahwa setiap kali ia kembali ke kampung halamannya. Beliau akan mengundang para ulama (Annangguru) dikampung halamannya. Hal tersebut dilakukan guna untuk membahas langkah apa yang akan dilakukan setelah kembali ke Kejaksaan. Lopa tak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan. 

Prinsip Lopa ini terinspirasi dari kisah terkenal dari leluhurnya. Di mana seorang anak kepala adat telah melakukan pembunuhan. Berdasarkan aturan adat, Hukuman mati akan dijatuhkan ketika ketujuh petinggi adat setuju. Ke enam petinggi setuju untuk membebaskannya saja. Akan tetapi, kepala adat yakni ibunya sendiri tidak setuju dan ingin memberikan hukuman kepada anaknya karena anaknya telah melakukan tindakan pembunuhan. Maka pelaku tersebut pun pada akhirnya dieksekusi. Sebuah cerita yang tak kalah menarik dari kisah Ratu Sima yang memotong kaki anaknya sendiri. 


Next bagian 2: Sepak terjang Jaksa Baharuddin Lopa Melawan Koruptor Kelas Kakap


Daftar Pustaka


Alif We Onggang “Lopa Yang Tak Terlupa” (Gramedia Pustaka Utama)


Salma S. “Prinsip-prinsip Baharuddin Lopa dalam Penegakan Hukum” diakses 

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://jppi.ddipolman.ac.id/index.php/jppi/article/download/33/3/%23:~:text%3DMenurut%2520Baharuddin%2520Lopa%252C%2520dalam%2520menjalankan,%252C%2520jujur%252C%2520ikhlas%2520dan%2520berani.&ved=2ahUKEwjHsMGhkOT0AhVn63MBHQRkCUkQFnoECBYQBg&usg=AOvVaw2ZJ0JF8PxmIMURApKBnE0m


 Criss Wibisana. “Kepergian baharuddin Lopa Saat Membongkar Kasus Korupsi Besar” diakses di https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://amp.tirto.id/kepergian-baharuddin-lopa-saat-membongkar-kasus-korupsi-besar-ghlu&ved=2ahUKEwiKl4jdkOT0AhXkmeYKHSHbC0kQFnoECH4QAQ&usg=AOvVaw2yuA0HM1VFG_9ATKdnKhSM


“Baharuddin lopa, Legenda Pendekar Hukum Yang Jujur dan Sederhana”. Diakses di https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://revolusimental.go.id/kabar-revolusi-mental/detail-berita-dan-artikel%3Furl%3Dbaharuddin-lopa-legenda-pendekar-hukum-yang-jujur-dan-sederhana&ved=2ahUKEwiKl4jdkOT0AhXkmeYKHSHbC0kQFnoECE4QAQ&usg=AOvVaw2nOh3YA6tlyko8uYTtqJvh


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar