Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PROBE DAN HUTAN KALIMANTAN


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 

“Hutan Kalimantan adalah rumah bagi makhluk Tuhan, tempat tinggal abadi dan tidak akan dihancurkan”

        Demikianlah janji besar yang tersiratkan dari pribumi penghuni hutan Kalimantan. Namaku Probe dan malam ini adalah perayaan pesta purnama di desaku, desa yang tumbuh dan bergerak di tengah-tengah rimbunnya hutan Kalimantan. Kami adalah bangsa elf, yang saling hidup berdampingan meski terdiri dari beragam macam. Mayoritas dari kami adalah Lioasalvar, elf  yang tidak dapat bertahan hidup di dalam kelam kegelapan, menyanjung cahaya bulan purnama dan merayakannya dengan pesta. Desa kami sangat subur, terlihat jelas dari lebatnya pepohonan hutan Kalimantan yang tidak pernah pudar hijaunya.
        “Menarilah Probe, mari kita nikmati pesta ini” ujar Silva, ia menarikku dan mengajakku untuk menari bersama. Entahlah, aku tidak cukup tertarik dengan pesta kali ini. Bukan karena perayaannya yang tak seru, namun otakku malam ini hanya dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran akan sebuah mimpi. Mimpi yang ku alami di malam sebelum malam ini. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya, tapi lagi dan lagi, aku tak bisa. 
       “Duarr” terdengar ledakan yang membuat seisi pesta tunggang langgang. Berteriak seraya bertabrakan. Semuanya berhamburan.
        “Sringg, duarr” ternyata ledakan itu masih terdengar. Namun yang kedua diiringi suara hunusan benda semacam pedang.
        “Sring, duarr” hingga ketiga kalinya aku memutuskan lari menghampiri Ayah di istana keagungan. 
        Saat aku tiba di sana, ternyata seluruh pemimpin elf dan petinggi istana telah berkumpul bersama Ayah. Semua menatapku dengan wajah penuh keharuan.  “Ayah, kau mendengar suara itu kan?”, tidak ada jawaban, hanya saja ayah berjalan menghampiri lantas memelukku dengan sangat dalam.
        “Hanya ada satu cara agar desa ini selamat, seorang putera mahkota harus rela dikorbankan” bisiknya pelan. 
        “Aku siap Ayah, aku siap untuk melawan manusia keji yang hendak menghancurkan hutan Kallimantan. Katakan Ayah, apa yang harus aku lakukan”
        “Kau harus menjadi seorang manusia”, tatapanku kosong, aku terkejut mendengar keputusan Ayah. Mimpi pahitku di malam itu menjadi kenyataan. Bagaimana aku bisa menjadi seorang manusia sedang aku sangat membenci mereka. Manusia itu rakus, kejam dan gemar menebar hal tercela. Aku mencoba menawar Ayah untuk mencari cara lain, “Tidak bisa Probe, hanya itu satu-satunya cara”.
        “Apakah menjadi manusia itu menyakitkan Ayah?” Ayah menatapku lekat-lekat. Ia bercerita untuk menguatkanku. Dulu Ayah juga pernah berada sama di posisiku. Dimana Ayah harus melawan manusia yang sedang berperang gerilya di hutan Kalimantan. Ayah membantu pasukan Indonesia untuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Dengan begitu, pasukan Indonesia akan segera meninggalkan hutan Kalimantan. Ayah berhasil mempertahankan desa bangsa elf. 
        Pikiranku masih tidak tenang, jika dulu Ayah menjadi manusia untuk membantunya. Lantas, kini aku harus menjadi manusia untuk melawannya. Apakah aku akan berhasil seperti Ayah? 
        “Ayah, bagaimana jika aku melawan mereka dengan wujudku tetap menjadi sesosok elf?” 
        “Tidak Probe, manusia itu tidak bisa melihat keberadaan kita jika menjadi elf dan itu membuat sihir kita akan sia-sia”
        Aku terdiam, memejamkan mata untuk mengumpulkan ketekadan.
        “Aku akan menemanimu, Probe” aku mendengar suara Silva, dan benar, ia berjalan tegap ke arahku. Sungguh dia adalah kawan setiaku. Aku mendapatkan seberkas kekuatan dari dia. Senyumnya seakan menamparku agar tidak tumbuh menjadi elf yang pengecut, terlebih aku adalah seorang putra mahkota. 
        “Silva bisa menemanimu, namun ia tidak bisa menjadi manusia. Hanya kau Probe. Silva akan menemanimu dengan wujudnya sebagai Rusa”. Aku menerjap mata Silva, tidak ada sedikit pun ketakutan dalam sorot matanya. 
        “Ingat janji bangsa elf terhadap desa ini Probe, ingatlah !! “Hutan Kalimantan adalah rumah bagi makhluk Tuhan, tempat tinggal abadi dan tidak akan dihancurkan”, mendengar ujaran Silva, aku semakin yakin bahwa aku bisa menaklukkan mimpi burukku itu. Aku bisa menjadi putra mahkota bangsa elf yang dapat diandalkan. 
        Silva menggenggam tanganku erat-erat, kami berdua berdiri berhadapan dengan mata yang saling terpejam. “Kau siap Probe?”
        “Aku siap”
        Tatkala membuka mata, tidak ada lagi tangan yang ku genggam. Tubuh Silva berubah menjadi seekor Rusa dan aku menjadi makhluk Tuhan yang paling serakah. Kami berdua berada di malam yang gulita. Aku mendengar suara alat-alat besar yang menggerogoti hutan Kalimantan. Sontak Silva berlari menuju sumber kebisingan itu. Ada banyak manusia saat kami tiba. Aku dan Silva mengintai dari balik pohon berbatang besar. Beberapa mengoprasikan alat berat, beberapa menarik batang-batang besar dan beberapa lagi duduk tenang di dekat api unggun yang sengaja dinyalakan. Ternyata suara ledakan yang terdengar di pesta itu berasal dari pohon besar yang berjatuhan ke tanah.
        Sebenarnya aku bingung, bagaimana bisa aku menggagalkan pengeksploitasian ini. Wujudku hanya menjadi anak kecil.  sedang mereka bertubuh besar mengerikkan sembari menggenggam benda tajam yang sekali putar akan melemparkanku ke luar hutan.
        “Kau hancurkan saja mesin besar itu dengan sihirmu, biar temanmu yang memancing perhatian mereka” seekor tupai kecil hinggap di kepalaku. Ia bisa berbicara, pun dengan Silva yang ku kira tidak bisa berbicara.
        “Mengapa kau diam saja Silva” ucapku ketus
        “Lah kau tidak menanyaiku Probe” jawabnya. Sialan, ia benar-benar bisa berbicara.
        Di tengah kami mengatur rencana, tiba-tiba suara hentakan kaki berlari mendekati kami. Saat ku balikkan badan aku terperanjat tidak percaya. Sekawanan Rusa datang dengan jumlah yang besar. Satu dari mereka berjalan mendekati Silva, “Kami semua akan membantumu”. 
        “Kami juga” ada suara menyahut dari atas, dan benar, puluhan tupai memenuhi dahan pohon besar di atasku. Aku tersenyum girang. Ternyata bukan hanya bangsa elf yang mempertahankan rumahnya, ternyata hewan pun akan marah jika tempat tinggalnya dihancurkan tanpa ada pertanggung jawaban.
        “Dalam hitungan ketiga, Silva dan kawanan Rusa mengobrak-abrikkan manusia-manusia itu, tupai menggigiti kabel agar pencahayaan mereka terputus. Saat itu, aku akan menghancurkan alat berat mereka. Satu...dua...seranggg !!”
        Aku melihat wajah manusia itu gelagapan, tentunya mereka belum ada persiapan untuk melawan Rusa-Rusa besar penghuni hutan Kalimantan. Manusia-manusia itu melawan dengan apapun yang ada di dekatnya, ada yang menggunakan ranting pohon besar, kapak, obor dan lain sebagainya. Dari atas, Tupai-Tupai terus menggerogoti kabel dengan cepat. Tidak butuh lama mereka memadamkan pencahayaan. Ketika kegelapan menyelimuti sekitar, aku berlari mendekati alat besar.
        “Duarrrr...Duarr...Duarrr” alat besar itu meledak dan hancur oleh kekuatan sihirku. Manusia-manusia itu berlari tunggang langgang keluar hutan. Saat itu, wujudku kembali menjadi elf. Sepertinya aku berhasil menyelesaikan misi besar ini. Namun aku teringat akan Silva, dimana dia? Ada banyak Rusa terbunuh dan aku berharap tidak ada Silva di antara mereka. 
        “Silvaaaaa, kau dimana?” aku berteriak di tengah kegelapan berulang kali. Hasilnya kosong. Tidak ada jawaban dari Silva. Apakah ia telah kembali ke desa?. Tiba-tiba hembusan angin malam menerpaku, aku melihat sebuah cahaya dari tubuh seekor Rusa. Tanpa berpikir lama, aku tahu itu adalah Silva. Benar saja, saat aku menyentuhnya tubuhnya kembali menjadi elf, tapi tubuhnya sudah tidak lagi bernyawa. Silva terbunuh oleh kapak yang tergeletak di sampingnya. Kini tubuh Silva perlahan melebur, terbawa angin menuju tempat keabadian.  Aku menyesal sedalam-dalamnya. Jika saja saat itu aku tidak melibatkan Silva dalam misi ini, mungkin akhirnya tidak akan sepahit ini. Desa suci para elf terselamatkan, namun tidak dengan Silva. 
        Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ulah para manusia itu, sedikit pun mereka tidak menunjukkan nilai kepedulian terhadap negerinya. Mereka dengan seenaknya menghancurkan negerinya tanpa rasa bersalah, sedang kami berusaha untuk melindungi negeri kita dengan sekuatnya. Indonesia kini butuh pemuda yang peduli terhadap sesama, peduli akan lingkungan dan alam sekitarnya. Demi kemaslahatan hidup kelak bagi anak turunya.







Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar