Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERLUKAH SEORANG MUADZIN MEMPUNYAI WUDHU?



Oleh: Alvian Izzul Fikri

        Adzan merupakan salah satu syiar dari syiar-syiar islam, yaitu paggilan bagi orang-orang islam guna untuk mengiinformasikan bahwa sudah masuk waktu sholat. Dimana hukum mengumandangkan adzan adalah sunnah muakkad, serta juga terdapat banyak kemuliaan adzan yang datang dari hadist nabi SAW. 
        Kejadian yang biasa kita jumpai ketika berada di pondok pesantren maupun di masarakat adalah ketika sudah masuk waktu sholat, seorang muadzin lebih mendahulukan untuk mengumandangkan adzan tanpa memperhatikan, apakah ia masih mempunyai wudhu atau sudah batal?. Apakah boleh seorang muadzin mengumandangkan adzan dalam keadaan belum mempunyai wudhu?.
        Mayoritas ulama mewajibkan untuk bersuci bagi seorang muadzin, sebagaimana hadist  sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang artinya “Tidaklah seseorang dari kalian mengumandangkan dzan kecuali dalam keadaan suci”, walaupun hadist ini dhoif, mereka yang mewajibkan bersuci untuk seorang muazin adalah dengan mengqiyaskan hukum bersuci untuk sholat, maka hukum bersuci itu wajib bagi seorang muadzin (Biayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibu Rusyd dalam Bab Sholat Hal 102-103). 
        Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al Muhadzadzab yang ditulis oleh Abu Zakariya Muhyidin An-Nawawi As-Syafii disebutkan bahwa wajib hukumnya bagi seorang muadzin untuk bersuci, dan jikalau seorang muadzin itu berhadast, adzan dan iqomahnya sah akan tetapi makruh, sebagaimana pendapat Imam Malik. Dihukumi makruh bila mana seorang muadzin itu mengumandangkan adzan dalam keadaan berhadast kecil dan lebih makruh lagi apabila seorang muadzin itu berhadast besar.
        Perlukah kita selalu menyertai kebijaksanaan kita dalam beragama dalam menyikapi hukum atau ketetapan yang telah ditentukan oleh ulama kita. Dimana dalam menyikapi persoalan apakah seorang muadzin itu diwajibkan untuk bersuci?. Maka hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita harus menempatkan serta memberikan perhatian besar terhadap etika kita dalam hablum mina Allah, maka sudah menjadi sebuah keharusan bagi seorang muadzin untuk memperhatikan perkara ini. Wallahu Alam bis Showab

Source: https://services.iacad.gov.ae/SmartPortal/ar/fatwa/PublishedFatwa/Details/28566 
 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar