Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERKAWINAN ANAK: IDEALKAH?


Oleh: Ahmad Maulana S

Pada banyak budaya pernikahan anak di usia muda adalah sesuatu yang diidealkan, semakin muda maka semakin bergengsi. Sedangkan dibeberapa daerah di Indonesia, fenomena yang marak terjadi adalah perkawinan anak karena kehamilan di luar nikah “sudah berisi” dan hal ini bukan sesuatu yang diidealkan.

            Bagi orang Jawa mengenal “bibit, bebet, dan bobot” sebagi filosofi dalam mencari pasangan hidup. Bibit berkaitan dengan keturunan atau keluarga yang baik-baik; bebet berhubungan dengan status sosial, terutama kesiapan finansial; dan bobot berasosiasi dengan kualitas yang berupa akhlak, agama, pendidikan, dan sebagainya. Akan tetapi ketika kehamilan di luar nikah terjadi, filosofi bibit, bebet, dan bobot terpaksa diabaikan, yang penting dinikahkan karena tidak ada “ruang” untuk memilih, dan hal ini yang akan mempermalukan kedua  belah pihak keluarga.

Mayoritas orang tua pasti menginginkan anaknya menikah di usia yang sudah matang, idealnya 24 tahun setelah menamatkan studi di tingkat perguruan tinggi. Pada usia tersebut sudah dinyatakan legal menurut Undang-undang nomor 16 tahun 2016 yang mengatur tentang perkawinan, selain itu di usia tersebut kondisi emosional individu sudah terhitung stabil sehingga di usia tersebut seseorang akan lebih bijak dalam menghadapi sebuah konflik termasuk konflik keluarga.

Menurut hemat penulis, pernikahan anak adalah hal yang tidak diharapkan, apalagi diidealkan, bahkan hal tersebut dapat mempermalukan keluarga kedua belah pihak apabila pernikahan anak yang terjadi disebabkan karena hamil di luar nikah atau yang populer disebut Marriage By Accident. Kehamilan di luar nikah bahkan diasosiakan dengan karma. Ada sebuah frasa yang selalu disebut para orang-orang tua: “sopo seng tandur dekne seng panen, ojo nandur yen ora gelem manen”. Mereka percaya bahwa kehamilan di luar nikah adalah “hasil panen” dari apa yang telah dilakukan oleh bapak atau ibu di masa lalunya. Folklor ini diulang setiap ada kejadian kehamilan di luar nikah di kampung. Banyak orang tua yang menasehati anaknya dengan menyatakan: “pokoe ojo macem-macem karo wong wedok nek urung wayahe, mbesok anak opo putumu seng bakal ngerasakne”. Hal ini menunjukkan bagaimana orang tua selalu berupaya untuk menasehati dan memperingati anak-anak mereka (terutama laki-laki) agar selalu berhati-hati dalam bertindak dengan lawan jenis (perempuan) karena semua yang tealh dilakukannya cepat atau lambat akan mendapat balasannya.

Kehamilan di luar nikah juga dianggap sebagai “aib kampung” dan diasosiasikan dengan gagal panen. Kegagalan yang dipercaya sebagai akibat dari adanya kehamilan di luar nikah ini dianggap akan berdampak hingga 40 rumah dari rumah perempuan yang hamil di luar nikah. 




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar