Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENGAPA PENGACARA KOK MAU MEMBELA YANG SALAH?


Oleh : Erwin

        Masih ingatkah kalian dengan kasus kopi sianida? Masih ingatkah dengan sosok Jesika Kumalawongso yang terjerat kasus pembunuhan terhadap Wayan Mirna Sholihin?. Kasus ini  menjadi salah satu kasus terpanjang yang  sempat menghebohkan masyarakat Indonesia pada saat itu. Dalam kasus ini sebenarnya menurut pandangan umum serta bukti-bukti yang ada, semua mengarah ke Jessika Kumalawongso, namun terdakwa tetap tidak mau mengakuinya, bahkan pengacara terdakwa  sampai-sampai mendatangkan saksi ahli dari Australia untuk membela kliennya itu.  
        Tentu saja hal ini menimbulkan opini negatif di berbagai masyarakat, kok ada pengacara yang mau membela yang salah, apakah mereka tidak merasa bersalah ketika membela orang yang secara pandangan  umum dan bukti merupakan orang yang bersalah?. Apakah mereka tidak takut menjadi bulan bulanan netizen  karena  aksinya yang membela pelaku mati-matian?. Beberapa dari kita mungkin menjawab “ya iyalah kan mereka dibayar”. Pertanyaannya kemudian apa iya pengacara hanya menginginkan uang?. Serendah ituka profesi seorang Advokat/Pengacara? 
        Sebenarnya hal ini bukan sesuatu asing lagi di dunia persidangan, lalu apa sebenarnya alasan mereka tetap membela kliennya meskipun tersangka sudah ketahap terdakwa?
        Pertama, semua orang memiliki hak di dampingi oleh pengacara, pada setiap tingkat pemeriksaan persidangan, baik tersangka atau terdakwa  maupun penuntut umum pada dasarnya memiliki hak yang sama untuk didampingi oleh pengacara. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 pasal 54 dan Pasal 55 tentang Hukum Acara Pidana. Namun, meskipun demikian seorang advokat tetap bisa menolak membela klien jika itu bertentangan dengan hati nuraninya.
        Kedua, adanya Asas Praduga Tak Bersalah, maksudnya  seorang tersangka tidak bisa dikatakan bersalah atas tuduhan apapun kepadanya sebelum adanya keputusan hukum tetap yang dikeluarkan oleh hakim. Jadi ketika belum ada putusan tetap dari hakim, tersangka belum bisa disebut terpidana. Jika ada yang menuduhnya terpidana tanpa adanya bukti dan keputusan hakim tetap seperti di media sosial, disini masyarakat perlu hati-hati karena tersangka bisa menuntut balik dengan UU ITE, seperti yang terjadi pada kasus pelecehan seksual yang menimpa pegawai KPI yang malah dilaporkan balik oleh pelaku dengan alasan korban minim bukti. 
         Ketiga, bukanlah tugas mereka menentukan kesalahan dan terdakwa belum tentu bersalah, biasanya pengacara terdakwa tidak akan menanyakan apakah dia benar-benar bersalah, karena itu merupakan tugas penuntut umum.  Tugas pengacara disini adalah untuk membela kliennya dengan kemampuan terbaik mereka untuk membebaskan terdakwaa jika memang tidak terbukti melakukan apa yang dituduhkan atau setidaknya meringankan apa yang menjadi tuduhan pelaku. Karena lagi-lagi terdakwa belum tentu bersalah, kita pasti tidak ingin kasus Lawrence McKinney yang terjadi di luar negeri terulang kembali, dimana pada Oktober 1977 dia menjadi terpidana kasus pemerkosaan dan perampokan dan dijatuhi hukuman 115 tahun penjara. Tapi setelah 30 tahun dipenjara  dia malah terbukti tidak bersalah dan dibebaskan tepat pada tahun 2009. Bahkan ada yang lebih parah dimana terpidana dihukum mati di kursi listrik, namun beberapa hari kemudian dinyatakan tidak bersalah.
        Keempat, Melindungi Supremasi Hukum, yakni upaya menegakkan dan menempatkan hukum pada posisi tertinggi.  Ini mungkin  alasan yang paling utama mengapa pengacara membantu terdakwa, karena keadilan bagi penuntut umum pasti menginginkan terdakwa dihukum seberat-beratnya atas apa yang dilakukannya, sehingga akan mendatangkan pasal berlapis-lapis untuk menjerat terdakwa lebihh berat lagi. Nah disini pengacara terdakwa berperan agar terdakwa dihukum berdasarkan undan-undang yang memang dia langgar, bukan dengan undang-undnag yang tujuannya sekedar untuk memperberat lagi hukuman pelaku. Pengacara juga berperaan serta dalam  menbantu hakim untuk menemukan hukuman yang pas buat terdakwa. Karena jika mereka tidak melakukan itu maka polisi yang akan menentukanya sebagai hakim juri dan algojo. Karena semua bukti polisi akan diterima dan dapat diterima. Seperti kasus-kasus salah tangkap yang pernah dilakukan oleh penegak hukum yang berujuk pada penyiksaan orang-orang yang tidak bersalah namun dipaksa menjadi pelaku. Tetapi ketika memiliki pengacara yang membela terdakwa, maka keputusan apaka terdakwa bersalah atau tidak, keputusan berada pada persidangan yang ditentukan oleh hakim.
Pada dasarnya profesi Advokat/pengacara ada untuk membela hak-hak rakyat yang mungkin tertindas oleh keserakahan manusia. Advokat/pengacara merupakan profesi yang mulia, hanya saja beberapa orang yang mengisinya tidaklah mulia.

Source image: Gramedia.com

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar