Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KITA TETAP TEMAN


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 

        Bagiku, ini masih terlalu pagi untuk melihat dua kantung mata yang telah basah hingga ke ujung pipi. Aku memanggilnya pelan seraya menepuk pundaknya, “Nin, kau kenapa?”. Sepertinya lukanya amat parah, hingga sedikit pun ia enggan membalikkan wajahnya, “ini bukan soal pria itu lagi kan ?”
        Ia pernah bercerita kepadaku, belum cukup lama, sekitar tiga bulanan kiranya. Betapa sangat dicintainya pria muda itu, terlebih tatkala mengenakan hem kotak-kotak lalu dilipat hingga siku. Rambutnya sedikit panjang terurai, ia pernah menggerainya saat duduk di taman kota- bersama temannya dan aku melihatnya dari dalam bus kota. Pria itu kerap datang pergi ke rumah kostku dan rupanya ia adalah kekasih sahabatku, Nindy.
        Hampir genap dua tahun aku dan Nindy tinggal di kost ini, dengan rentetan banyak kisah tentunya. Kami berdua juga mengenyam pendidikan di universitas yang sama, hanya saja prodi kami yang berbeda. Selama itu aku dan Nindy selalu hidup berdampingan, saling berbagi tawa, menenangkan jika ada yang terluka dan saling menguatkan jika hampir putus asa. Bayanganku dulu kebersamaan itu akan berjalan selamanya. Akan tetapi aku salah. Seketika semua raib saat badai tak diundang datang tiba-tiba.
        Saat itu malam minggu, aku sudah menduga bahwa pria itu akan datang kemari. Tujuannya tidak ada duanya, yaitu menjemput Nindy lalu mengajaknya keliling kota berdua. Saat itu aku membaca novel di dalam kamar menghadap jendela. “Nin..aku udah sampai” suara pria itu memecahkan konsentrasiku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan melihatnya dari balik jendela. Sambil menggenggam ponselnya, matanya tidak berhenti menerjapi sudut rumah ini. Hingga pada akhirnya, mata kami jatuh di garis pandang yang searah. Aku menutup gorden kamarku rapat-rapat.
        Esoknya, “Hai, aku Darma. Kamu temannya Nindy ya?” sebuah pesan singkat masuk. Terbesit untuk menanyakan kejanggalan ini kepada Nindy. Tapi, sebuah pesan masuk kedua kalinyalah yang menarikku untuk terduduk kembali. “Gak usah nanya Nindy, dia sendiri kok yang ngasih kontakmu” aku urung. 
        Sehari, dua hari hingga pagi ini Darma masih terus saja menghubungiku. Kupikir Nindy benar-benar telah mengetahui hal ini, namun kata-kata Darma ternyata tidak bisa dipercaya. Bodohnya lagi, hatiku telah tertawan tanpa memikirkan Nindy. Meski Darma pernah berkata bahwa ia telah putus dengan Nindy sebulan setelah kami saling berikirim pesan, tetap saja Nindy tidak akan terima jika ia tahu bahwa kami berdua sudah saling berhubungan.
        “Nin, kau berkemas?” tumpukan kotak kardus menarik perhatianku untuk membuka dialog dengannya, meski aku tahu Nindy tidak akan menjawabnya. Ia masih terdiam menjauhkan wajah dariku. “Mengapa kau tak memanggilku, Nin ? Aku bisa membantumu mengemasi bajumu. Aku juga bisa menghubungi mobil bak langganan untuk mengangkut barang-barangmu. Aku juga bisa...”
        “Cukup, Hil” Nindy membentakku dengan suara tinggi. Untuk kedua kalinya suara tinggi Nindy seperti saat bertengkar dengan Darma tempo hari kini terdengar kembali. Tempramennya yang lembut dan baik hati, membuatku merasa bersalah telah menjadikannya seperti ini. Aku khawatir jika alasan Nindy pergi dari kost ini adalah aku. Aku merebut Darma, kekasih hati yang dicintainya.
**
        Malam yang menyakitkan aku menyebutnya. Nindy, sahabatku satu-satunya, kini ia pergi entah dimana. Aku mencoba untuk menghubunginya melalui whatssapp, namun ia lebih dahulu memblokirnya. “Kau dimana Nin? Maafkan aku!!” pikiranku benar-benar kalut malam ini. Langkahku berat, namun aku memaksanya untuk masuk ke kamar Nindy. Berharap ada suatu benda atau surat sebagai tanda perpisahan darinya. 
        Empat puluh lima menit aku menggeledah bekas kamar Nindy. Aku tidak menemukan apa-apa dan itu membuatku semakin kacau. Tidak ada pilihan lagi, aku memutuskan untuk menghubungi Darma. Bersamaan degan jariku yang hendak mengetik nama Darma, mataku tiba-tiba menyorot sebuah benda tepat di bawah tempat sampah. Letaknya di pojok pintu, butuh tiga langkah untuk bisa mengambilnya. 
        “Bungkus tespek?” gumamku lirih. “Kok bisa di kamar Nindy?” saat aku membuka tutup tempat sampah itu, aku terperanjat, sebatang tespek bergaris dua merah tergeletak di atas tumpukan sampah. Aku mencoba menenangkan pikiranku untuk tidak berburuk sangka. Namun saat aku hendak keluar dari kamar, derap langkah kaki menyambutku. 
        “Hilda tidak ada di kamarnya, kost ini benar-benar sepi. Cepat kau cari tespek itu sebelum seseorang menemukannya lebih dulu” aku kenal suara itu, Nindy. Ia ternyata kembali dan mencariku. Aku bergegas menyambutnya, tapi urung. Sebuah ujaran menyahut suara Nindy kemudian. “Kalau sampai tespek itu jatuh di tangan teman-temanmu lalu mereka tahu kalau kamu hamil. Aku tidak perduli.” Aku juga mengenal suara berat itu. Ada apa ini? Nindy kembali bersama Darma. 
        Daun pintu terbuka, tanganku masih menggenggam tespek itu. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari pelupuk mataku, tapi aku tak bisa mengeluarkannya. Dadaku naik turun. Dua pasang mata itu terus saja menatapku tanpa sepatah kata. Aku menghela nafas  mengumpulkan kekuatan untuk berujar,
        “Nin ? Kau hamil?”
Gadis berkulit putih itu hanya tertunduk. Keringatnya mengucur deras di wajahnya, entah karena gugup atau kelelahan setelah berlari menaiki anak tangga kost untuk menyelamatkan harga dirinya. Sayangnya usahanya gagal, sesuatu yang dicarinya dan sesuatu yang harusnya menjadi rahasia besar dalam hidupnya telah berada di tangan temannya. Tanpa sedikit pun melihatku, Nindy memelukku dengan sangat erat. Tangisnya pecah bersamaan dengan tangisku. Tidak ada luapan perasaan yang lain kecuali kekecewaan. Mutiara putih itu kini telah ternoda. Aku gagal menjaganya. 
        “Tolong Hil ! Kau bisa rahasiakan ini semua kan? Kumohon !” Darma angkat bicara, wajahnya pasi, berukir penyesalan yang sangat membara. 
        “Plakkk !!” tanganku mengayun kencang. “Kau sungguh pria cacat moral, bagaimana bisa kau memilih mendekatiku dan meninggalkan Nindy dengan keadaan seperti ini. Dasar pria biadab” hampir saja ayunan tanganku yang kedua terjadi, untungnya tangan Nindy lebih cepat melerainya.
        “Dia tidak salah Hil, aku sendiri yang menyuruhnya untuk mendekatimu”
        “Lalu kenapa kau lakukan itu Nin? Kenapa?” 
        “Kupikir dengan dia mendekatimu kau bisa melupakan aku” jawabnya dengan suara yang melirih. Sungguh aku tidak habis pikir dengan jalan yang dipilih Nindy, “Maksudmu, dengan datangnya Darma ke hati aku, dia bisa memantra semuanya hingga aku lupa dengan keadaanmu sehingga aku tidak curiga bahwa kau sedang hamil?” 
        Tidak ada jawaban dari keduanya, aku terus melanjutkan cerocosku sendirian, “Dengar ya Nin ! Saat ini hatiku benar-benar telah tertawan oleh Darma. Tapi sebesar apa pun rasa cinta yang membelenggu di hatiku, itu tidak akan bisa mengalahkan kasih sayang dari sahabatku” kami berdua saling memeluk, sedang Darma memilih duduk di atas ranjang. Menenggelamkan seluruh wajahnya di balik telapak tangannya. 
        “Aku ini sahabatmu Nin ! Aku tetap sahabatmu bagaimanapun kondisimu.” 
        “Maafkan aku hil ! Pikiranku benar-benar kosong saat itu”




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar