Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KISAH NABI MUSA MEMAKAI CADAR



MUHAMMAD RIAN FERDIAN

Nabi Musa merupakan salah satu nabi dan rasul yang di utus oleh Allah untuk Bani Israil di Mesir. Nabi Musa juga termasuk ke dalam rasul ulul azmi yakni lima rasul berkedudukan tinggi di sisi Allah dan termasuk salah satu dari empat nabi yang yang dikaruniai kitab, yaitu kitab Taurat. Allah SWT memberikan beberapa mukzijat kepada Nabi Musa sebagai salah satu bukti kenabian dan kerasulannya. Di antara mukzijat Nabi Musa yaitu dapat mengubah tongkat menjadi ular, dapat membelah lautan ketika dikejar oleh tentara fir’aun, dapat mengeluarkan air dari batu dan lain-lain. 

Nabi Musa adalah seorang rasul bergelar Kalimullah karena diberi keistimewaan untuk dapat berdialog dengan Allah di Bukit Tursina. Kisah tersebut Allah abadikan dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 164. 

وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوسٰي تَكْلِيْمًا 

“Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung)”

Setelah diberi mukjizat yang luar biasa dapat berbincang dengan Allah SWT, selayaknya seorang kekasih yang sangat rindu ingin bertemu, lebih lanjut Nabi Musa juga ingin melihat dzat Allah secara langsung. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 143 “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. Akan tetapi permohonan Nabi Musa tersebut Allah Jawab melalui firmannya “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, namun lihatlah ke Gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku”. Maka tatkala Allah menampakan (keagungan-Nya) pada Gunung itu, seketika gunung itu pun hancur luluh dan Nabi Musa pun jatuh pingsan. 

Menurut sebagian Mufassir, yang ditampakkan itu adalah keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Sementara sebagian yang lain menafsirkan bahwa yang tampak itu adalah cahaya-Nya. Karena bagaimanapun juga, tampaknya Allah tidak akan seperti tampaknya makhluk. Tampaknya Allah tentu sesuai dengan sifat-sifatnya yang tak dapat diukur dengan akal manusia. 

Terdapat kisah menarik berkaitan dengan kisah Nabi Musa yang dapat berdialog langsung dengan Allah SWT. Dikisahkan bahwasanya Nabi Musa tidak ingin mendengar suara-suara makhluk dengan menutup kedua kupingnya setelah selesai bermunajat dengan Allah SWT. Karena setelah munajat tersebut suara-suara makhluk yang terdengar itu seperti suara binatang yang tidak enak didengar. Hal ini disebabkan karena Nabi Musa telah merasakan kenikmatan yang tak ada bandingannya yaitu mendengar indahnya kalamullah yang mana tak ada satu hal pun yang bisa menyerupainya. Akan tetapi kemudian Allah SWT memberi rasa lupa kepada Nabi Musa terhadap kenikmatan rasa ketika munajat tersebut, agar Nabi Musa tetap bersifat ramah dan menebar manfaat kepada manusia. 

Setelah munajat itu juga, wajah Nabi Musa menjadi bercahaya, sehingga ketika seseorang melihat wajah Nabi Musa, orang tersebut menjadi buta disebabkan cahaya yang amat bersinar dari wajah-Nya. Lalu Nabi Musa mengusap wajah orang yang menjadi buta tersebut, dengan izin Allah, penglihatan orang tersebut kembali menjadi normal. Maka setelah kejadian tersebut, Nabi Musa memakai cadar untuk menutupi wajah-Nya agar orang-orang yang melihat wajahnya tidak menjadi buta. Nabi Musa tetap menutup wajahnya dengan cadar hingga akhir hayatnya. 

Kisah Nabi Musa memakai cadar ini ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nurudholam syarah Aqidatul Awam.  


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar