Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KESABARAN IMAM HANBALI DALAM MENGHADAPI UJIAN

Source Image : imam-hanbali-ilustrasi-_120308115923-270.jpg (805×375) (republika.co.id)


Oleh: Izzat Imaniya

Nama lengkap Imam Hanbali adalah Ahmad bin Hanbal, beliau lahir dikota Bagdad pada bulan Rabiul Awwal taun 164 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 780 Masehi. Ayah Imam Hanbali adalah seorang komandan pasukan pada masa pemerintahan Bani Abbasyiah, beliau  bernama Muhammad Syabani. Sedangkan ibu Imam Hanbali merupakan sosok wanita cantik dan terkemuka di tengang kalangan kaumnya yakni Bani Amir, beliau bernama Shafiyah binti Maimunah. Imam Hanbali menjadi seorang anak yatim ketika beliau berusia tiga tahun. Belia melanjutkan kehidupan bersama sang ibu dengan penuh perjuangan. Kota bagdad yang merupakan tana kelahiran Imam Hanbali merupakan pusat ilmu pengetauan, di kota ini terdapat banyak orang alim dan juga cendekiawan muslim, maka tidak heran jika banyak orang-orang bedatangan dari penjuru daerah Arab untuk menuntut ilmu di kota ini. Di kota ini, Imam Hanbali mempelajari Al-Qur’an disebua madrasah, akan tetapi sepulang dari madrasah Imam Hanbali juga belajar pengetauan Agama Islam kepada ibu tercinta.

Kehidupan ekonomi Imam Hanbali bersama sang ibu sering mengalami kepedihan, sehingga ketika beranjak remaja Imam Hanbali bekerja kepada tukang tenun. Terkadang upah yang beliau dapatkan dari tukang tenun tida cukup untuk memenuhi kebutuhannya bersama sang ibu, sehingga Imam Hanbali harus pergi ke hutan untuk memungut buah-buahan yang jatuh dan masih bisa dimakan. Kehidupan ekonomi yang rendah tidak menjadikan Imam Hanbali memiliki semangat yang rendah juga dalam menuntut ilmu. Beliau sangat rajin dalam menuntut ilmu, selain rajin dalam menuntut ilmu beliau juga rajin dalam bekerja, berperilau yang sopan terhadap guru dan juga teman-temannya. Sehingga Imam Hanbali sangat terkenal sebagai anak yang terpuji.  Beliau menyukai pelajaran hadist, maka setelah selesai menghafal 30 juz Al-Qur’an beliau memperdalami Hadist Nabi. Imam Hanbali belajar hadist kepada Imam Abu Yusuf yang merupakan Ulama hadist terkenal di kota Bagdad. Ketika memasuki usia 20 tahun, Imam Hanbali meminta izin kepada sang Ibu untuk menuntut ilmu di negri Yaman. Kesriusan Imam Hanbali dalam menuntut ilmu dibuktikan dengan kesabarannya dalam melaukan perjalanan berminggu-minggu dengan melewati bukit-bukit dan gurun pasir agar bisa sampai ke negri Yaman. Setela beberapa waktu di negri Yaman, Imam Hanbali melanjutkan perjalannnya ke kota Makkah. Di tana suci inilah Imam Hanbali belajar ilmu hadist kepada Imam Syafi’i. Imam Hanbai tida pernah berhenti melakukan perjalanannya untuk menuntut ilmu, setelah dari kota Makkah beliau menuju kota Madinah dan belajar kepada Imam Maliki, setela itu, untuk kedua kainya beliau mendatangi negri Yaman untuk belajar ilmun hadist kepada Imam Abdurraziq bin Hamman.

Ternyata perjalanan Imam Hanbali untuk mengembara ilmu tidak berhenti sampai disitu, beliau melanjutkan perjalanannya ke Khurasan, Persia, dan tempat lainnya selama bertahun-tahun untuk belajar dari satu ulama menuju ulama lainnya. Suatu saat seorang teman pernah melontarkan pertanyaan kepada Imam Hanbali, “Hai Hanbali, sampai kapan engkau mengembara untuk mencari ilmu ?” kemudian Imam Hanbali dengan singkat menjawab “sampai akhir hidupku”. Setelah bertaun-tahun mengebara ilmu, Imam Hanbali kembali pulang menemui ibunya di kota Bagdad. Imam Hanbai selau mengamalkan ilmu yang beliau miliki, sehingga beliau terkenal sebagai ulama muda dengan pengetauan agama yang luas. Seja saat itu, kehidupan Imam Hanbali bersama sang ibu menjadi lebih baik. Ibunya sangat bahagia ketika harapannya tercapai bisa mendidik Imam Hanbali menjadi orang yang berilmu. Imam Hanbali mengajarkan ilmunya di masjid jami’ Bagdad. Adapun murid beliau yang menjadi perawi hadist terkenal diantaranya adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah.

Menjadi seorang yatim seja usia tiga tahun menjadikan Imam Hanbai sangat dekat dengan ibunya. Beliau memahami keputusan ibunya untuk tida menika lagi karena ingin mendidiknya secara maksimal. Sehingga Imam Hanbali mengabdikan dirinya kepada sang ibu dengan semaksimal mungkin. Setelah sang ibu meninggal dunia, Imam Hanbali batu melaksanakan pernikaha disaat beliau berusia 40 tahun. Dari pernikahan tersebut Imam Hanbali dikaruniai 5 orang putra dan seorang putri. Suatu saat, Imam Hanbali menerima surat dari Imam Syafi’I, dalam surat tersebut Imam Syafi’i berceritabbahwa beliau mimpi bertemu Rasulullah. Dalam mimpi tersebut Rasulullah memberitahukan bahwa Imam Hanbali akan mendapatkan ujian yang cukup berat dari Allah. Kemudian Imam syafi’i memberikan nasihat kepada Imam Hanbali agar sabar dalam mengadapi ujian yang akan menimpanya, karena ujian tersebut akan meninggikan dan memuliakan derajat Imam Hanbali dihadapan Allah sampai hari kiamat datang. Allah menunjukkan kebenaran mimpi yang dialami Imam Syafi’i mengenai ujian yang akan menimpa Imam Hanbali. Di kota Bagdad terdapat seorang ulama yang bernama Basyar Marisy, dia menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dengan tegas Imam Hanbali menyanggah pernyataan tersebut dengan mengatakan “barang siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah mahluk, makai a harus mendapatkan hukuman”. Basyar Marisy sangat marah mendengar perkataan Imam Hanbali tersebut, ia mengadu kepada Khalifah Al-Ma’mun yang tidak memiliki pemahaman agama. Maka sang kahlifa memerintahkan agar Imam Hanbai diberikan hukuman berupa cambukan dan dipenjara.

Imam Hanbali sangat sabar dalam menghadapi ujian tersebut, beliau selalu ingat nasihat dari Imam Syafi’i agar bersabar daam menghadapi ujian ini. Imam Hanbali yang tertahan dibalik jeruji besi tetap memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin. Selama dua tahun didalam penjara beliau mengajar kepada tahanan lainnya. Setelah bebas dari tahanan jeruji besi, Imam Hanbali sering mengalami sakit-sakitan. Badannya semain lemah karena terdapat bekas siksaan dipenjara. Akan tetapi Imam Hanbali sabara dalam menjalani takdir Allah, beliau tetap semangat mengamalkan ilmunya dengan mengajari murid-muridnya. Sehingga pada saat berusia 77 tahun, Imam Hanbali mengalami sakit parah. Dan tepat pada hari Jum’at tanggal 12 Rabiul Awwal 241 Hujriah Imam Hanbali meningga dunia. Kepergiannya tentu menimbulkan kesedihan, ribuan kaum muslim mengantarjan menazahnya menuju pemakaman. Bukan hanya kaum muslim yang berduka dengan kepergian Imam Hanbali, kaum Yahudi dan kaum Majusyi juga merasakan duka yang sama.

 

 

Sumber: Rahadian, H.F.(2012). Seri Empat Imam Mazhab. Imam Hanbali Ulama Pembela Kebenaran. Solo: Tiga Ananda.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar