Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

JELITA NIRBUNYI


Oleh: Faiza Fitria

        Pagi ini langit sedang mengabu enggan memamerkan kilau terangnya. Semilir angin tak lagi malu untuk berembus kencang menusuk pori kulit hingga ulu hati kami yang terasa sesak. Ibu, sosok yang menjadi telaga di tengah gersangnya cinta dari Bapak kini menemui Kekasih sejatinya yaitu Sang Ilahi. Kini, aku membayangkan esok yang dihiasi rasa haus selamanya sebab sang telaga kini telah surut. Berjalan seperempat abad lamanya, aku hidup hanya mengandalkan satu telaga kasih sayang saja yaitu Ibu, tak pernah kurasakan segar dan manisnya telaga kasih sayang Bapak yang hanya sudi mengalirkan sumbernya untuk saudariku seorang  yaitu Ning¹ Gendhis. 
        Tatapanku beralih pada ribuan butir tanah yang berjatuhan ke dalam liang pusara mengubur seluruh tubuh Ibu bersama amalnya dalam peristirahatan terakhirnya. Ulu hatiku terasa sesak kembali hingga membuatku beralih pada memori masa kritis Ibu beberapa waktu yang lalu. Kala itu, memori yang terputar adalah kisah tentang penyematan nama ‘Jelita’ untukku. Nama yang kupikir hanya sebuah hadiah cintaorang tuaku nyatanya adalah sebuah ‘pembebasan’ kesialan untukku. Sedari lahir stigma sial, buruk, dan celaka sudah disematkan oleh Bapak hanya karena aku memiliki weton²  ‘Pati³ ’ dalam perhitungan Jawa dan tiga hari sebelum kelahiranku juga bertepatan dengan hari kepergian Simbah Puteri⁴ . Oleh karena itu Bapak berpikir bahwa kelahiranku adalah nestapa dalam keluarga maka “ruwatan⁵” adalah jalan yang dipilih Bapak, dan nama Jelita itu adalah wujudnya. Aku tak habis pikir bahwa kelahiranku sudah terfitnah dengan praduga kejam dari sosok yang ditakdirkan sebagai Bapakku. Lantas, apa karena hal ini Bapak tidak pernah utuh menyayangiku?
        “Jelita, tolong ambilkan botol air di tasku untuk Bapak!” Ning Gendhis membuyarkan lamunan nostalgiaku dengan Ibu, lantas dengan sigap membuka tas Ning Gendhis yang kudekap sedari tadi.
        “Ini Ning.” Ning Gendhis menatapku sinis seperti biasanya dan aku hanya membalas tatapannya dengan pandangan tak peduli.
        Pemakaman Ibu telah usai menyisakan lantunan doa dari kami yang mengantar Ibu ke peristirahatan terakhirnya. Dalam salah satu bait doa aku berharap semoga telaga kasih sayang Ibu tetap mengalir dalam jiwa walau raga tak lagi hadir di sisiku.
        “Ta, cepat! Bapak sudah ingin pulang.” Lagi-lagi Ning Gendhis mengganggu kekhusyukanku merapal doa untuk Ibu.
        Aku hanya mengangguk sembari merapikan anak rambut ke sisi telinga. Belum purna satu jam pemakaman Ibu, hatiku sudah tersayat lagi menyaksikan keakraban Bapak dengan Ning Gendhis, mereka sama sekali tak menghiraukanku atau bahkan sekedar menoleh ke arahku. Ibu, apakah hari-hari esok akan menjadi nestapa yang tak berkesudahan?
        Kami bertiga beserta rombongan sudah sampai di rumah dan melanjutkan acara pemakaman Ibu dengan ramah tamah. Aku dan Ning Gendhis segera menyiapkan jamuan makan siang untuk para kerabat, tamu, dan para tetangga yang sudah membantu pemakaman Ibu.
        Saat sedang menyiapkan semua, Bapak memanggilku tergopoh-gopoh. “Jelita, ikut Bapak!” 
        Aku mengangguk sekilas dan mengikuti langkah Bapak ke ruang tamu.
        Kami duduk berdampingan, dan kulihat sudah ada seorang laki-laki seperti sedang menunggu hadirku, dan benar saja ia tersenyum ke arahku.
        “Jelita, perkenalkan ini Adi anaknya Pak Kades Jarwo. Bapak ingin menjodohkanmu dengan Nak Adi ini. Weton Nak Adi bagus loh jika digabung dengan milikmu. Kalau nikah sama Nak Adi, ini bakal jadi ruwat terakhir untukmu Ta.” Bapak seperti biasa tak punya malu dan ceplas-ceplos dalam mengungkapkan apapun.
        “Pak Min, jangan terburu-buru begitu. Lihatlah Pak, Jelita terlihat syok. Kami kan juga butuh pendekatan.” Adi menimpali omongan Bapak sembari tertawa angkuh, sedangkan aku hanya melongo dan mencoba meresapi ini semua. Mereka kemudian melanjutkan obrolan sembari sesekali menanyaiku secara basa-basi. Aku merasa terasing dan mataku mulai memanas menciptakan kelabu dalam otak. Tak lagi gerimis, namun hujan badai menghantam hariku ini. Tak ada satu hari pun yang kulewatkan tanpa kata ruwat dan stigma pembawa sial dari lisan Bapak, Ning Gendhis, dan para tetangga. Kemudian, aku pamit undur diri ke kamar pada Bapak dan Adi, dan tentu mereka tak peduli.
···
Hari ketujuh kepergian Ibu kini telah tiba, masih berat rasanya ditinggalkan oleh Ibu sang telaga kasih sayangku. Sejak kepergian Ibu, banyak tekanan dan stigma pembawa sial yang semakin sering kudapatkan dari lisan-lisan oknum tak berperikemanusiaan. Kian hari, Bapak semakin menekanku agar mau dijodohkan oleh Adi dengan alasan weton Adi itu bagus jika dijumlahkan dengan wetonku dan hal itu akan menghapus stigma ‘tersebut’.
        Hari ini, nasibku sedang kelabu. Ning Gendhis memintaku menuju ke toko kelontong Mak Warsih di seberang rumah. Seseorang menepuk pundakku “Jelita, apa yang hendak kamu beli di sini?”
Aku terperanjat ketika menemukan sosok Bayu berdiri di sampingku. Mengapa detak jantungku selalu tak berkompromi saat bertemu Bayu? Lantas aku menjawab “Mau beli beras Bay.” Jawabku singkat namun gugup.
Sosok gempal Mak Warsih muncul membawa beras dan hal ini menyelamatkanku dari salah tingkah ini. Aku segera membayar dan langsung berpamitan kepada Bayu tanpa berani menatapnya “Bay, Jelita pamit dulu.” Dan Ia hanya tersenyum mengangguk dan bagiku itu sudah lebih dari cukup.
Ketika aku beranjak, Bayu berdialog dengan Mak Warsih.
“Bay, sudahi rasamu pada Jelita!” Mak Warsih menegur lamunan Bayu.
“Kenapa Mak? Karena weton Jelita?” Bayu datar menimpali.
“Iya itu salah satunya, tapi Jelita hendak dijodohkan dengan Adi anaknya Pak Kades Jarwo untuk ngeruwat Jelita.”
“Mak, wetonku dan weton Jelita jika dihitung juga bagus kok!”
Gendheng⁶  kamu Bay.” Mak Warsih menyerapah.
“Sudah Mak, mana belanjaanku!”
“Ingat Bay, Jelita memang pembawa sial! Kami selaku para sesepuh desa sudah menyaksikan batapa banyak keburukan yang Jelita buat sejak lahir!”
“Mak, aku menaruh rasa dan harap ini hanya pada Ilahi bukan pada stigma buruk Jelita.”
···
        “Jelita, akhirnya kamu pulang juga. Penyakit Ginjal Bapak kambuh Ta. Bapak telat cuci darah.” Ning Gendhis mengusap air matanya sembari memegang erat tangan Bapak.
        “Uhuk… uhuk… Jelita.” Bapak menahan sakit dan memandangku dengan sayu. Aku mematung. Kepalaku berat. Tanpa bicara aku menghubungi rumah sakit terdekat. Sang Maha Cinta, Bapak seperti ini bukan sebab hamba kan? Aku tergugu dalam tangis memandang wajah pucat Bapak.
···
        Singkat cerita, tiga hari berlalu sejak kejadian hari itu. Aku dan Bapak menjalani operasi ginjal. Salah satu ginjalku harus didonorkan pada Bapak sebab menurut medis hanya ginjalku saja yang cocok untuk Bapak. Operasi ini berjalan lancar namun Bapak harus terbaring koma sedangkan aku hanya menjalani masa pemulihan. 
        Hari ketiga Bapak terbaring koma, pintu kamar inap Bapak terbuka dan tampaklah Ning Gendhis yang tergesa-gesa dan lantas berbisik kepadaku “Jelita, ada yang ingin menemuimu.”
        “Siapa Ning?” 
        Tak sempat Ning Gendhis menjawab, masuklah beberapa orang yang sudah tak asing lagi bagiku, mereka adalah para sesepuh desa, Pak Kades Jarwo, dan Adi. Mereka membawa semacam botol air dan bunga-bunga berwarna-warni ke dalam ruang inap.
        “Sugeng Injing⁷ Jelita, kita bertemu lagi.” Salah satu sesepuh desa menyapaku sembari duduk di sampingku.
        Aku mulai menangis dan ketakutan. Aku sudah tahu bahwa maksud kedatangan mereka adalah untuk meruwatku. Dalam gelapnya asa, aku secara spontan membuka gawai dan diam-diam mencuri kesempatan mengirim panggilan darurat ke Bayu. Lantas, aku terhenyak saat para sesepuh desa itu lancang memulai ritual dengan merapal sesuatu yang mereka sebut doa keselematan khusus untukku. Adi dan Pak Kades Jarwo juga ikut marapalkannya. Kulihat Ning Gendhis mengangguk mantap meyakinkanku bahwa situasi ini adalah yang terbaik bagiku.
        Ritual tersebut berjalan singkat, mereka sesekali meniup keningku, memaksaku menelan air ‘doa’ buatan mereka sembari menaburkan bunga di sekitarku. Adrenalinku meroket, aku ketakutan, dan aku merasa seperti korban ‘rudapaksa’ sebuah ritual yang mereka anggap ruwatan
        Ilahi dengan kebesarannya memberikan jalan untukku, Bayu datang menolongku dengan terengah-engah dan syok karena melihat seisi ruangan dipenuhi bunga-bunga dan ia lebih syok lagi melihatku menangis sesenggukan dan Ning Gendhis terlihat tenang. Tanpa banyak kata, Bayu berbisik “Jelita, mari kita pergi!”
Bayu menarik lenganku dengan kuat, dan kami berlari sekencang mungkin meninggalkan ruang inap yang menyisakan Ning Gendhis yang menganga tak percaya melihatku kabur bersama Bayu. Bahkan saking cepatnya laju lari kami, Ning Gendhis hanya bisa menyerapah sia-sia.
···
        Bayu menggiringku ke stasiun agar aku sementara bisa pergi sejauh mungkin dari Bapak dan stigma sial tersebut. Gemuruh dadaku tersamar dalam deritan rel, masinis tampak sigap memulai petualangannya. Kereta berjalan membawa ragaku dan meninggalkan jejak stigmaku. Aku menatap keluar jendela Bayu tersenyum nanar melepasku, namun sesuatu mengusiknya. Rupanya gawainya berdering hingga mengalihkan perhatiannya. Ia mengangkatnya lalu ia mendongak dan mendekat kepada jendelaku. Ia berkata dengan lirih, aku tak bisa mendengarnya. Lantas, Ia berteriak lantang “Jelita, Bapakmu kapundhut⁸ .” Kereta pun melaju cepat menyisakan tangis fatamorgana di wajahku.
···
         Namaku adalah Jelita, Bapak dan mereka berkata aku adalah pembawa sial bagi keluargaku, dan sampai Bapak menutup mata pun, masih saja stigma kesialan dan ruwatan menghantuiku, tapi aku tak bisa menyuarakan hatiku karena mereka memaksaku menjadi nirbunyi⁹. Jelita tak boleh bersuara dan Jelita harus selalu menerima.

Keterangan:
¹ Salah satu bentuk panggilan untuk wanita yang lebih tua atau dihormati di Jawa.
² Perhitungan kalender Jawa.
³ Bermakna kematian, weton ‘Pati’ ini sering dikaitkan dengan banyaknya keburukan dan kesialan.
⁴ Nenek.
⁵ Sebuah kebudayaan dari Jawa yang bertujuan melepaskan kutukan, malapetaka, atau kesialan dari diri seseorang.
⁶ Gila.
⁷ Selamat pagi.
⁸ Meninggal.
⁹ Tak bersuara.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar