Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GURUNYA PARA GURU: KH. CHAMZAWI


Oleh: Fitriatul Wilianti

        KH. Chamzawi yang biasa dipanggil Abah oleh anak-anaknya dan Yai oleh santri dan mahasiswa-mahasiswanya adalah salah satu ulama, kyai, guru juga dosen terkenal dikalangan kampus kota Malang. Beliau adalah rais syiriah pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang.
        KH. Chamzawi lahir pada tanggal 8 Agustus 1951 di Sulang Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Beliau menikah dengan seorang gadis bernama Sri Wahyuni yang kemudian dikaruniai 5 orang anak, 4 orang putra dan 1 putri. Selama membangun keluarga, beliau adalah seorang ayah yang sangat dikagumi dan disegani oleh anak-anaknya karena selain menjadi orang tua beliau adalah sebagai guru,pembimbing keluarga dan masyarakat sekitarnya. Beliau pernah menempuh pendidikan di Rembang (1964) kemudian pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri hingga tahun 1973. Dan melanjutkan pendidikan di Fakultas tarbiyah IAIN Surabaya cabang malang (sekarang menjadi UIN Malang) lulus tahun 1981 dan melanjutkan pendidikan S2 si Universitas Islam Malang sampai tahun 2006.
        KH. Chamzawi telah mengabdi di dunia pendidikan sejak tahun 1984, saat itu di bulan maret beliau mulai diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan departemen agama (Kementrian agama). Sejak dahulu beliau sudah menjadi dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (dulu sebagai Fakultas tarbiyah IAIN Surabaya cabang Malang). Dan sebelum-sebelumnya pernah menjadi dosen di Universitas Islam Malang juga pada beberapa lembaga pendidikan di Gondanglegi. Sampai sekarang, selama hidup beliau adalah suri tauladan bagi keluarganya, salah satu ajaran beliau yang selalu di contoh oleh anak-anaknya adalah kebiasaan melaksanakan solat berjamaah di masjid sesibuk apapun beliau, karena dengan solat di Mesjid kita dapat memperoleh berbagai macam kenikmatan. Keseharian beliau selain sebagai dosen di kampus juga sebagai pengajar di mesjid-mesjid, akan tetapi ditengah kesibukannya beliau tetap memprioritaskan dakwah untuk mendidik kelurga dan anak-anaknya.
        Alim, berwibawa, tawadhu, bersahaja dan selalu istiqomah adalah kesan pertama setiap orang ketika bertemu beliau, baik dari santri-santrinya, serta mahasiswa-mahasiswa juga sangat mengagumi kepribadian beliau. Begitu juga dengan penulis, kesan awal yang dirasakan penulis saat kali pertama bertemu beliau adalah ketika di ruangan kelas sebagai dosen yang mengajar mata kuliah ilmu Nahwu III pada siang hari Ba’da dzuhur. Ketika sebagian besar mahasiswanya loyo dan mengantuk diwaktu siang beliau tetap istiqomah mengajar dengan penuh semangat setelah dilaksananya solat dzuhur walaupun kurang ada antusias dari mahasiswa termasuk dari penulis sendiri. Usia beliau yang sudah menginjak sepuh (68 tahun) dengan fisik yang tidak lagi gagah tidak menyurutkan semangat beliau untuk selalu sabar dalam mendidik mahasiswa-mahasiswanya.
        Kemudian kekaguman selanjutnya juga dirasakan penulis ketika beliau sedang mengajar via online diawal-awal masa pandemi 2020, beliau mengajar menggunakan rekaman video kemudian dibagikan melalui youtube untuk dtonton mahasiswa-mahasiswanya. Dari hal itu, dapat dilihat betapa semangatnya beliau menyebarluaskan ilmu pengetahuan walaupun hanya divideokan lewat Hp dan belum tentu benar-benar disimak dengan baik oleh mahasiswa-mahasiswanya. Padahal jika berkaca dengan dosen-dosen muda lainnya, tidak jarang dari beliau-beliau yang tidak terlalu totalitas dalam mengajar, beberapa dosen ada yang jarang masuk via online di masa awal pandemi bahkan ada yang tidak masuk sama sekali padahal usia beliau-beliau masih terbilang muda dibandingkan dengan Yai Chamzawi yang sudah sepuh. Walaupun tampaknya yang merekamkan video beliau ketika mengajar kala itu adalah orang lain karena usia yang tidak mendukung untuk mengerti teknologi.
        Dari kesan-kesan yang penulis alami selama diajar beliau diatas, memberitahukan penulis betapa mulianya KH chamzawi. Bahkan sudah tidak ada kata-kata lagi yang mampu menggambarkan kealiman dan keistiqomahan beliau. Beliau adalah contoh tauladan bagi guru dan dosen-dosen masa depan, karena dilihat dari banyaknya opini-opini alumni santri beliau, pengalaman pribadi dari penulis ketika diajar juga buku tentang penggambaran sifat dan keteladanan beliau yang disampaikan lewat kekaguman dan cinta orang-orang terdekatnya yang berjudul SANTRI DAN KIAI yang baru penulis baca.

Sumber Rujukan: Amrullah, Abdul Malik Karim. Dkk. 2016. Santri dan Kiai percikan pemikiran dan kesaksian melepas masa pengabdian KH. Chamzawi. Yogyakarta: Lentera Kreasindo.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar