Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

EDELWEISS : MIMPI YANG SIA-SIA (PART-2)

cc0797d666e42bf1b7464c41964d91ad.jpg (673×976) (pinimg.com)

Oleh: Syifaul Fajriyah

Tok tok tok...

Bergegas ayah pergi menuju pintu, seakan tau siapa yang akan datang. Tanpa salam dan hanya panggilan untuk tuan rumah saja yang terdengar dari balik pintu. Aneh bukan? Katanya muslim tapi hampir tidak pernah aku melihat aktivitas kemuslimannya. Bahkan mengucap Assalamualaikum saja tidak pernah sama sekali.

"Mana Nok Adel?" tanya Kakek berparas tampan kepada ayah

"Didalam eyang, silahkan masuk.." Jawab ayah

Sofa yang pagi tadi ku tata dengan rapih menjadi singgahan Eyang Mada. Dengan wajah yang entah bagaimana aku menggambarkannya. Aneh dan membuat bulu kuduk merinding. Aku yang semula hanya berdiri tegak diruang dapur, tiba-tiba harus keluar menyapa tamu karena panggilan Ayah. Membosankan dan memuakkan itulah ekspresi yang keluar dari wajahku. Berbeda dengan Bunda, walau ia sangat membeci Kakek Muda ini. Bunda dengan senyumannya pun menyuguhi kopi hitam kepada Tamu.

"Nok sini duduk samping Eyang.." Tangan yang tanpa keriput itu menepuk-nepuk kursi di sampingnya..

Mataku seketika menatap Ayah dan Bunda. Mengisyaratkan aku menolak tawarannya. Namun, mata melotot ayah membuat penolakan itu menjadi persetujuan. Dengan restu ayah, aku pun menarik badanku yang tak mau beranjak ini ke sofa yang ada di sebelah Eyang.

Percakapan kami awalnya baik-baik saja seperti pada umumnya. Menanyai kabar, keadaan, dan ya hal-hal kecil. Hingga muncullah pertanyaan usia, yang membuat wawancara setelah itu tidak baik-baik saja. Bahkan Bunda yang awalnya masih bisa tersenyum, mulai menunjukkan wajah aslinya. Tapi ayah yang mendengar itu malah gembira tiada terkira. Aku yang menjadi topik perbincangan hanya bisa terdiam, menahan marah dan tangis. Kakek itu mengatakan, akan menjadikanku Biyung Ancala Jaya pada usia 21 Tahun. Dan sebelum menginjak usia tersebut, aku dilarang meninggalkan desa ini dan menyukai orang lain.

Biyung Ancala Jaya adalah jabatan tertinggi di Desa Ancala setalah Eyang Mada. Mungkin bisa dikiaskan sebagai istri dari ketua sesepuh. Ayah memang bangga, tetapi Bunda murka. Senyumannya berubah menjadi amarah. Bagaimana tidak, anak perempuan semata wayangnya harus menjadi istri dari pria yang umurnya berjarak hampir 10 windu. Selain itu, bunda juga menginginkan aku untuk bebas mengejar cita-cita. 

"Maaf Eyang, bukan bermaksud membantah perkataan ketua sesepuh desa ini. Tapi, apa eyang tidak memikirkannya dulu sebelum memutuskan? Anak saya yang berumur 21 tahun harus menikahi pria paruh baya bahkan seperti buyutnya sendiri. Maaf, tapi ini tidak benar."

 

Dengan santainya, Kakek Muda itu hanya membalas dengan senyuman. Sontak tangan ayah mulai meremas tangan bunda. Dan menggeretnya kedalam ruangan. Aku yang semula duduk pun berdiri meninggalkan Eyang sendiri. Ayah berniat mengunci bunda di kamarnya, tapi perkataanku membuatnya mengurungkan niat. Dengan syarat, jaga perilaku dan ucapan. Keadaan semakin ricuh dan Ketua Tetuah itu beranjak pulang. Ayah memutuskan untuk tidur di ruangan semedinya, dengan ditemani sebongkah batu yang ia puja puja. Bunda tidur disampingku dengan pelukan erat dan air mata yang coba ia sembunyikan. Aku yang masih terjaga berpura-pura memejamkan mata.

Beberapa bulan berlalu..

Hari ini usiaku sudah menginjak 18 tahun. Masa sekolah menengah akhir akan segera berlalu. Cerita semalam membuatku pupus semangat untuk mengejar cita-cita. Menjadi seorang hakim adalah harapanku sejak dulu. Namun sayang, karena nama inilah segalanya terhambat. Tepukan bunda menghentikan lamunanku. Perempuan dengan hijab di kepalanya itu mulai duduk disampingku dan mengajak ku berbicara empat mata. Ia mulai menanyai perihal mimpiku.

"Adel mau jadi hakim kan? Coba cerita sama Bunda, kalau jadi hakim nanti kamu mau apa?"

Pertanyaan itu menimbulkan jawaban yang menggebu-gebu. Bunda memang tidak tau bagaimana hakim bekerja. Sebab, bunda tidak pernah sekolah dan hanya sibuk di ladang atas gunung. Visi dan misiku ketika menjadi seorang hakim mulai ku lontarkan. Bahkan sempat nama Eyang Mada ku ulang-ulang. Bukan membahas semalam, hanya ingin membalaskan apa yang telah ia perbuat melalui pandangan hukum. Bunda adalah pendengar dan pemberi saran yang baik. Setelah panjang lebar bercerita, Bunda memintaku untuk pergi merantau meraih mimpi.

Bersambung...



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar