Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ULAMA NUSANTARA YANG MENDUNIA



MUHAMMAD RIAN FERDIAN

Pondok Pesantren adalah salah satu basis kekuatan kaderisasi estafet perjuangan umat Muslim di Indonesia yang tersebar luas di seluruh penjuru Nusantara. Para Santri ditempa dengan ilmu agama sebagai pijakan dan bekal untuk melanjutkan dakwah Islam di bumi Nusantara bahkan dunia. Tak sedikit ulama yang lahir dari rahim pesantren menjadi ulama yang dikenal di dunia Internasional karena rekam jejak dakwahnya yang tak hanya dirasakan manfaatnya di Nusantara, tapi juga di belahan dunia lainnya. Di antara ulama Internasional yang lahir dari rahim Pesantren adalah :

  1. Syaikh Nawawi al-Bantani 

Syaikh Nawawi al-Bantani merupakan salah seorang ulama Nusantara yang menjadi pengajar sekaligus imam di Masjidil Haram. Beliau lahir pada tahun 1230 H/1853 M di Tanara, Serang Banten dari pasangan Kiyai Umar dan Nyai Zubaidah. Beliau merupakan penulis kitab kuning (mushannif) dari Nusantara yang namanya paling terkenal di antara para mushannif  lainnya. Kitab-kitab beliau yang banyak dikaji di Pesantren-pesantren, misalnya Syarah Sullam at-Taufiq, Sullam al-Munajah Syarah Saffiinah as-Sholah, Kasyifatussaja Syarah Safiinatunnajah, dan lain-lain

Martin Van Bruinnesen, seorang antropolog asal belanda menginformasikan bahwasanya Syaikh Nawawi al-Bantani adalah salah satu dari tiga ulama besar asal Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Pendapat lain mengatakan ada 7 ulama asal Indonesia yuang mengajar di Masjidil Haram. Sekitar dua ratusan orang selalu hadir setiap kali Syaikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram. Kala itu Masjidil Haram menjadi tempat favorit untuk belajar di Tanah Suci. Tak hanya dari Indonesia, murid-murid Syaikh Nawawi juga banyak dari berbagai negara yang hadir untuk belajar langsung kepadanya. 

Kealiman Syaikh Nawawi al-Bantani dalam menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam,  beliau abadikan lewat tinta yang digoreskan dalam kitab-kitab karyanya. Dalam bidang Tafsir beliau menulis kitab Tafsir al-Munir. Dalam bidang fiqih, terdapat kitab Kasyifatussaja syarah Safinatuunaja, at-Tsimar al-Yani’ah syarah Riyadul Badi’ah, Nihayatu al-Zain syarah Qurratu al-‘Ain bi Muhimmah al-Din, Quwt al-Habib al-Gharib syarah Fath al-Qarib al-Mujib. Dalam bidang Teologi, Nurudzholam syarah nadhom Aqidatul ‘Awam, Dzariyyah al-Yaqin ‘ala Umm al-Barahin fi at-Tauhid, Qomi’u at-Thugyan syarah Mandhumah Syu’bul Iman  . Dalam bidang tasawuf, Nashaihu al-‘Ibad syarah al-Manbahatu ‘alaa al-Isti’dad li yaum al-Mi’ad. Dan masih banyak lagi kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani.

Banyak ulama asal Nusantara yang pernah belajar kepada Syaikh Nawawi al-Bantani. Di antara mereka adalah Syaikhana Kholil Bangkalan, ulama kharismatik yang menjadi guru hampir seluruh pendiri pesantren ternama di tanah Jawa. Kemudian KH. Hasyim Asy’ari yang menjadi pendiri Pesantren Tebuireng sekaligus pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama. Lalu ada juga Syaikh Mahfuzh at-Termasi, KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyyah, KH. Asy’ari Bawean yang sekaligus menjadi menantu Syaikh Nawawi dengan menikahi putri beliau yang bernama Mariam, dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang bukan hanya dari Nusantara tapi juga dari beberapa negara lain seperti Syaikh Abdussattar al-Dahlawi, seorang ulama asal Delhi, India. 


  1. Syaikh Mahfuzh al-Turmusi

Termas merupakan nama sebuah kampung di wilayah Pacitan, Jawa Timur. Dari kampung yang mungkin tidak populer di telinga kita lahir seorang ulama besar berkaliber internasional bernama Syaikh Mahfuzh al-Turmusi. Kemudian kata “tremas” diarabkan oleh Syaikh Mahfuzh menjadi “al-Turmusi” yang artinya berasal dari Tremas. 

 Syaikh Mahfuzh al-Turmusi lahir pada 1285 Hijriyah atau 1842 Masehi. Nama asli beliau adalah Muhammad Mahfuzh. Beliau termasuk dari tujuh ulama asal Nusantara yang diperbolehkan mengajar di Masjidil Haram. Meskipun tidak pernah pulang kembali ke Tremas, peran Syaikh Mahfuzh dalam perkembangan jumlah santri di Pesantrren Tremas tidak bisa dilepaskan, nama beliau telah lama menjadi pembicaraan para santri. Mereka mengidolakan sosok beliau, oleh karenanya mereka berkeinginan belajar di tempat kelahiran beliau dan berharap jug bisa belajar langsung dengan beliau di Tanah Suci. Maka nama Syaikh Mahfuzh menjadi semacam magnet yang menjadi daya tarik para santri untuk belajar di Pesantren Tremas. 

Syaikh Mahfuzh merupakan ulama yang produktif dalam menulis. Di antara karya beliau adalah Al-Minhah al-Khairiyyah fi Arba’in Haditsan min Ahadits Khair al-Bariiyah yang membahas 40 hadits Nabi. Hal yang membedakan kumpulan 40 hadits karya Syaikh Mahfuzh dengan yang lainnya adalah kekuatan sanadnya. Dalam kitab tersebut ada 22 hadits yang disebut tsulatsiyyah al-Bukhari. Maksudnya, hadits yang antara perawi hingga Nabi hanya melewati tiga perawi. Beliau menerima tsulatisyyah al-Bukhari ini dari gurunya yang bernama Syaikh al-Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha’. 


  1. Syaikh Ihsan Al-Jamfasi

Syikh Ihsan Al-Jamfasi sedikit berbeda dengan ulama Nusantara yang namanya mendunia disebabkan karena salah satunya mengajar di Masjidil Haram. Syaikh Ihsan Jampes tidak tinggal atau mengajar di  Mekkah, tapi beliau tinggal di Kediri, Jawa Timur. Kendati begitu, tak membuat nama Syaikh Ihsan Jampes tak dikenal dunia. Beliau menulis kitab Siraj at-Thalibin yang merupakan syarh dari kitab Minhaj al-‘Abidin karya Imam al-Ghazali yang diterbitkan oleh sejumlah penerbit di Timur Tengah dan menjadi ”bacaan wajib” para mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo yang ingin mendalami pemikiran tasawuf Imam al-Ghazali. 

KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pertama kali mengenal kitab Siraj at-Thalibin ketika beliau masih kuliah di Universitas Baghdad Irak pada tahun 1967-1970. Ketika itu Gus Dur sedang masuk ke perpustakaan yang terdapat ribuan koleksi buku di dalamnya. Di perpustakaan itu Gus Dur menemukan kitab Siraj at-Thalibin  karya Syaikh Ihsan di antara deretan ribuan koleksi kitab. Pada tahun 1981, Gus Dur berkesempatan untuk berkunjung ke Prancis. Di sana Gus Dur bertemu bertemu orang-orang yang mengagumi pemikiran Imam al-Ghazali dan memuji kitab Siraj at-Thalibin sebagai salah satu kitab terbaik yang menerangkan pemikiran tokoh bergelar Hujjatul Islam tersebut. 

Ketua umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj juga memiliki pengalaman menarik tentang kitab Siraj at-Thalibin karya Syaikh Ihsan Jampes. Suatu ketika Kang Said berkesampatan mengunjungi negara di kawasan Afrika Utara, negeri yang banyak dihuni orang Arab. Ketika acara yang dihadiri Kang Said selesai, beliau menggunakan kesempatan waktu yang ada untuk jalan-jalan. Kang Said melihat ada kerumunan di sebuah Mushola, karena penasaran, beliaupun akhirnya mendekati kerumunan tersebut. Ternyata itu adalah kerumunan orang-orang yang sedang mendengarkan pengajian tasawuf dengan kitab Siraj at-Thalibin sebagai bahan kajiannya. 



DAFTAR PUSTAKA : 

M. Solahudin, 5 ULAMA INTERNASIONAL DARI PESANTREN, (Nous Pustaka Utama, 2004)


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar