Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TEMPAT PULANG

Oleh: Ghina Aulia Nurinsani

            Pagi ini sedikit berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Tak seperti biasa, namanya tak terlihat di bilah notifikasi. Ada apa? Apa mungkin paket data internetku habis? Tapi sepertinya belum seminggu sejak pembelian terakhir. Ah, mungkin whatsapp sedang eror atau mungkin dia masih tertidur. Aku bergelut dalam benak dan berusaha menghibur diri sendiri dengan menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baik yang sebenarnya aku sendiri pun ragu atas itu.

            Jemariku dengan lihai mengetik kalimat sapa untuknya, memastikan dia baik-baik saja.

            “Hai, Angga.” Pesan itu terkirim begitu saja, tandanya whatsapp sedang tidak ada masalah dan tentunya data internetku pun masih ada. Ku rasa kemungkinan yang kedua adalah penyebabnya.

            Hampir satu setengah jam setelah pesan itu terkirim, namun masih tak ada balasan apa pun. Aku mencoba menghubunginya via telepon, tapi nada tunggunya tak terdengar di sana. Apa mungkin telepon genggamnya kehabisan baterai? Ku coba ciptakan kemungkinan-kemungkinan baru demi mengurangi rasa gundah di dalam sanubari.

            Aku beranjak menuju jendela kamar yang terbuka, melihat pemandangan asri pedesaan, udara segar menyapa dan menyapu rambut yang terurai. Sedikit menenangkan pikiran dan hati yang sedang tak karuan.

***

            Bayangan tentang pertengkaran semalam kembali bermuara di pikiran. Wajah Angga yang merah karena menahan amarah kembali tersulut dalam angan-angan. Tangan yang biasanya menggenggam dengan penuh kelembutan, semalam terasa sangat berbeda dan disertai dengan remasan yang sedikit menyakitkan.

            “Ayara, aku cape. Kita selesaikan semuanya malam ini. Jangan sisakan masalah apa pun untuk esok hari. Aku muak dengan semua keributan yang sudah terjadi selama hubungan kita terjalin. Aku tak ingin ini terjadi lagi. Aku ingin kita selesai.” Angga menundukan pandangannya dan perlahan merenggangkan genggaman yang kemudian dilepasnya begitu saja.

            “Kenapa? Apa karena sikap egoisku?, tapi aku sudah berusaha menghilangkannya. Tolong beri aku sedikit lagi waktu untuk menuntaskan perubahan sikapku ini. Aku pasti akan berubah, aku yakin. Tolong yakinkan hatimu lagi tentang aku, ku mohon.” Suaraku terdengar agak serak setelah menangis sejak beberapa saat yang lalu.

            Tak lama setelah itu, penglihatanku gelap. Aku tak dapat mendengar apa-apa, aku pingsan. Aku baru saja siuman pagi tadi dan langsung mencari telepon genggam, berharap semua kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi buruk sialan.

***

            Aku kembali menuju tempat tidur dan meraih telepon genggam, berharap sudah ada balasan. Tapi nihil, tak ada notifikasi apa pun dari Angga. Apa kontakku diblokir olehnya? Pikiran sialan itu iseng menghampiri.

            Rasa sesak tiba-tiba menyeruak, mencengkram hati yang sedang gundah dan membuatnya makin kacau. Tanpa terasa netraku mulai buram tertutup air yang kemudian menetes dari sela-selanya. Aku menangis, lagi. Ada ribuan rasa yang menyesakkan dada, aku tidak suka itu, menyiksa.

            Di tengah tangisku, terdengar suara ketukan lembut dari balik pintu.

            “Ayara, Sayang, bagaimana? Sudah baikkan?” Suara Ibu terdengar beririangan dengan pintu kamar yang perlahan terbuka. Senyumnya merekah, tatapannya begitu sejuk dan membuat lukaku sedikit terobati.

            “Sarapan dulu yuk, ibu sudah buatkan sarapan untuk kamu. Ayo kita makan Bersama.” Ibu mengulurkan tangannya yang langsung disambut ramah oleh tanganku yang sedikit lemas.

            Kami berjalan bersama menuju meja makan yang  di beberapa sisinya sudah terisi oleh anggota keluarga yang lain. Tangan ibu merangkulku nyaman dan penuh kelembutan, menuntunku ke tempat duduk samping ayah.

            Ayah menanyai kabarku, yang kemudian dijawab oleh ibu “Ayara sudah jauh lebih membaik, Yah”.

            “Syukurlah jika memang begitu. Ya sudah sekarang Aya makan dulu ya, sayang. Jangan lupa minum vitamin dan jangan sampai pingsan lagi, Ayah tidak suka melihat anak Ayah rapuh seperti semalam.” Ucap Ayah dibarengi senyum lega.

            Ibu menyajikan makanan untukku, tak lupa minuman dan beberapa butir vitamin.

            Aku memakan makanan itu sambil sedikit merasa lega “Aku masih dan akan selalu punya mereka di saat butuh tempat pulang. Bagaimana pun aku dibenci oleh dunia, mereka lah yang selalu mendukung dan merangkulku.” Aku tersenyum haru dan melanjutkan sarapanku.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar