Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sang Lima


Source: https://pin.it/ANMy2B5

                                                                  Oleh Faiza Fitria

Partikel debu terus mengudara menjelang shubuh. Beberapa ayam pejantan mulai berkokok dan saling bersahutan. Hembusan angin masih saja berkelana dan membuatku merapatkan jaket pemberian Kang Badri. Langkah kakiku terseok menahan perih karena menginjak beling di dekat rumah kardus mereka. Mentari dan rembulan memainkan perannya hingga sampailah aku pada detik ini yaitu kepulanganku ke rumah. Aku harus mengambil keputusan secepat mungkin dan menyelamatkan mereka.

Aku memasuki kamar Mak dengan rasa letih dan kantuk yang membuncah pada ragaku ini. Aku enggan beristirahat di kamarku sendiri, bagiku lebih nyaman meringkuk sekejap dan dipeluk Mak seerat mungkin sebelum kita sholat shubuh berjamaah, lantas setelah itu aku akan bilang semuanya kepada Mak tentang anak-anak pejuang rumah kardus di tempat pembuangan sampah kota yang sudah seminggu ini aku kunjungi bersama Kang Badri, Rio, dan Lina.

●●●

Setelah sholat shubuh terjadilah percakapn di antara aku dan Mak.

“Ris…Kakimu kenapa itu nak?” (Mak berdiri mengambil kotak P3K disamping ranjang).

“Kaki risa menginjak beling Mak” (Berusaha tenang).

“Kamu habis pergi kemana kok bisa sampai kayak gini?” (Mak mulai membersihkan lukaku dengan alkohol lalu memberi salep serta membungkusnya dengan perban).

“Dari TPS Mak” (Kulirik wajah Mak tampak mengerut terheran-heran dengan jawabanku).

“Ngapain kesana? Tugas kampus? Kan Mak sudah bilang sebisa mungkin kalau ada tugas penelitian jangan ke tempat yang aneh-aneh Risa sayang, kamu tahu kan pandemi virus Corona ini belum jelas kapan berakhir..” (Mak mengusap kepalaku).

“Mak…Ngomong-ngomong tentang virus Corona ini, ada yang mau Risa sampaikan ke Mak” (Aku tersenyum semanis mungkin agar Mak tidak berpikir yang aneh- aneh).

Wajah Mak mulai menegang dan kebingungan, ada sirat khawatir dalam keriput wajahnya. Kilat matanya menujukkan sorot ketakutan. Mak pun mengangguk mengizinkanku bercerita. Aku pun menghela nafas dan mulai mengisahkan petualanganku bersama Kang Badri, Rio dan Lina mengenal lima anak penghuni rumah kardus yang sudah tampak lusuh termakan waktu dan alam. Mereka adalah Ijul, Encip, Apak, Jijah dan Ina. Lima anak kecil berusia kurang lebih sembilan tahun yang konon kata masyarakat adalah anak-anak “buangan” yang tak diinginkan otang tuanya. Nama mereka sangatlah unik dan kelakuan mereka pun juga tak kalah unik. Ketika Kang Badri bertanya nama lengkap mereka, tak satupun anak yang tahu nama lengkap mereka, nama sapaan mereka sekarang adalah pemberian dan satu-satunya identitas yang diberikan masyarakat sekitar TPS, dan tak ada satupun dari mereka yang mempunyai ayah ibu.

Encip pernah mencoel lenganku seraya berkata “Kak Risa… Enak ya jadi bumi, dia benda mati tapi mempunyai bulan dan matahari yang setia beredar di dekatnya. Sedangkan aku bisa bernafas dan mengupil tapi tak pernah tahu apa itu ayah dan ibu”.

Aku tertegun. Kehilangan Bapak satu tahun yang lalu saja sudah membuatku hampir putus kuliah, apalagi kelima anak ini yang tak pernah tahu apa itu ayah dan ibu. Kemudian Kang Badri mendekat. Ternyata beliau menguping seluruh pembicaraan kami. Lantas Kang Badri mulai memanggil lima anak itu dan yang membuatku heran Kang Badri ternyata sudah menyiapkan nama-nama Islami yang indah untuk mereka dan berjanji akan membuatkan akta lahir untuk mereka. Seketika mereka berlima heboh dan tertawa tanpa henti, seakan baru saja mendapat semangkuk bakso, kemudian mereka menuliskan nama mereka dibantu Rio dan Lina di dinding kardus rumah mereka sebagai kenang-kenangan.

Sampai sini Mak mulai tertarik dengan kisahku, dan membenarkan posisi duduknya sambil mengelus tanganku. Aku pun hampir sampai pada inti pembicaraan.

“Mak…Kan sekarang pemerintah daerah sini mulai melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dan dua hari yang lalu Pak Lurah mulai melakukan penertiban termasuk di TPS pusat, kemudian ada sesuatu yang tidak kami sangka Mak, rumah kardus kelima anak tersebut diratakan  dan  pak Lurah bilang kalau anak-anak ini harus segera dipindahkan ke rumah warga sekitar agar PSBB ini berjalan lebih lancar. Tapi nyatanya Mak, kelima anak ini terbuang oleh lingkungannya sendiri, sedari kecil mereka sudah akrab dengan bau ratusan ton sampah dan mereka juga dipaksa untuk mengerjakan sesuatu sebagai balas budi mereka pada masyarakat sekitar TPS yang menurut Risa tak layak untuk anak-anak sekecil mereka, dan ternyata mereka ditolak mentah-mentah oleh lingkungan yang hanya memberikan identitas satu nama untuk mereka” (Aku menahan bulir air mataku yang mulai mengalir).

“Mak…Mereka butuh tempat bernaung, dan Risa tadi berpikir untuk membawa mereka ke rumah kontrakan Bapak sementara waktu saja Mak, dan…” (Mamak memotong pembicaraanku).

“Risa… Mak ngerti. Mak sudah paham dengan apa yang Risa dan teman-teman Risa inginkan untuk lima anak tersebut, tetapi tak semudah itu Ris, membawa dan merawat mereka kesini apalagi mereka tidak punya identitas pasti, Mak khawatir… Apalagi juga masalah adaptasi Ris dan pandemi ini. Hasil penjualan di toko Mak menurun, belum lagi semester depan harus bayar uang kuliahmu…” (Mak menghela nafas panjang dan  memegan tanganku erat. Di tengah maraknya virus ini aku tak bisa membujuk Mak karena aku tahu sektor ekonomi dan sosial juga tidak stabil dan menimpa hampir seluruh orang).

Kami mengakhiri pembicaraan dengan kesunyian tanpa isyarat pasti.

●●●

“Gimana Ris kata Mak?” Lina bertanya mewakili Kang Badri dan Rio.

Aku hanya menggeleng dan mulai menangis. Tangan halus Lina mulai mengusap air mataku dan ia meyakinkanku bahwa masalah ini akan segera menemukan titik terang. Aku menegakkan posisi dudukku dan memicingkan mata lantas aku tersentak dan segera berlari menuju tumpukan raksasa sampah di tengah TPS. Aku tercengang hingga terlupa akan bau menyengat sampah-sampah ini. Bagaimana tidak, kelima anak tersebut sedang memilah sampah dan menemukan masker bekas kemudian memakaikan di wajah mereka. Sungguh miris dan ironis.

“Lepaaaas!” (Aku meneriaki mereka dan kelima anak tersebut hanya memandangku

datar).

“Kenapa Kak Risa marah? Ijul sama yang lainnya sedang mengikuti anjuran bapak

presiden untuk memakai masker biar tidak terkena virus Rocona” (Ijul menyeringai menampakkan gigi ompongnya).

“Hush…Corona Jul…Bukan Rocona…huuu, malu-maluin kamu” (Apak mencubit lengan Ijul).

“Yah maaf, aku kan lupa”.

“Kalian kenapa pakai masker bekas itu? Kalian tahu masker bekas yang kalian pakai tadi itu sangat berbahaya. Kalian tidak tahu orang-orang seperti apa yang sudah memakai masker ini kemudian membuangnya di TPS ini” (Aku terisak).

Kang Badri, Rio dan Lina mulai melambai agar mereka berlima turun dari tumpukan sampah dan menyita masker bekas itu.

“Kan nanti kami cuci di sungai Kak.. Biar bersih seperti baru” (Ina berkata polos dan membuat hati kami berempat semakin ngilu melihat realita ini).

“Lagian kami nggak punya uang untuk membeli masker yang harganya setara dengan jatah makan kami selama empat hari itu” (Jijah mulai merajuk memandang kami karena kesal dengan larangan kami).

“Anak-anak, nanti Kak Rio sama yang lain janji akan membuatkan masker kain untuk kalian, agar lebih tahan lama dan bisa dicuci lagi” (Rio membujuk mereka).

Wajah murung mereka berubah cerah seketika, mereka berlima memeluk Rio dan Rio hanya bisa pasrah jika nanti bajunya akan tertular bau sampah. Setelah itu kamipun menyadari bahwa menyelamatkan dan menjaga kelima anak-anak tersebut adalah amanah dan beban di waktu bersamaan. Berawal dari ketidaksengajaan kami bertemu mereka ketika mereka diamankan satpam apotek karena ketahuan mencuri handsanitizer, dari situlah kami secara tidak langsung iba dan memutuskan untuk mengabdikan diri kami kepada anak-anak dan lingkungan TPS ini untuk memberi pengetahuan secara sederhana apa itu virus Corona. Tapi nyatanya upaya kami dipandang sebelah mata oleh warga sekitar dan mereka hanya bilang “Kalau sudah giliran ya pasti takdir kami, kalau sehat terus ya itu nasib baik kami. Buktinya kami sudah bertahun-tahun lamanya hidup dengan sampah yang kalian anggap menjijikkan tapi kami baik-baik saja tuh”. Miris memang.

●●●

Esok harinya, aku terburu-buru menuju gerbang TPS. Kulihat ada beberapa mobil ambulance serta kepolisian keluar dari gerbang TPS. Para warga berjalan lunglai keluar area TPS. Kurasa ada yang tidak beres. Aku pun berlari menuju tempat biasanya aku berkumpul dengan ketiga rekanku.

Kang Badri dan Rio tampak nanar, mereka meremas topi mereka dan memandang kosong ke arah gerbang. Lina tertunduk menyeka air matanya. Dan hanya ada Ina, Apak, dan Jijah. Kemanakah Ijul dan Encip?.

“Ada apa?” (Bibirku bergetar ketika mengucapkan itu, lalu Lina  mendekat kepadaku dan berbisik “Ris… Ijul dan Encip positif bersama dua warga lainnya”. Bagai tergores silet, aku terdiam dan terjatuh. Kakiku terasa tak bertulang. Benakku dijejali dengan pertanyaan “Kok bisa?”.

●●●

Dua minggu berlalu semenjak hari itu. Mak akhirnya mengizinkan kami membawa tiga anak yang tersisa ke kontrakan Bapak. Ijul masih di rumah sakit. Sedangkan Encip, anak kecil yang pernah iri terhadap bumi baru saja tadi malam bertemu dengan bumi lebih dekat. Mungkin sekarang dia sudah bisa bertanya kepada bumi mengapa ia sangat beruntung ditemani bulan dan matahari.

Tidak ada keterangan yang pasti darimana mereka tertular. Kami berempat sempat mengira dari masker bekas itu. Tapi entahlah, kami sudah tidak sanggup menduga.

Encip… Salamkan pada bumi bahwa kami semuanya berdoa agar bumi kami lekas membaik. Kami bukanlah pasukan garda terdepan, tapi kami adalah pasukan garda dari ribuan sudut yang akan terus berjuang melawan pandemi ini meski tahu kami memang tak sempurna.

Kita bagaikan sepatu dan Corona bagaikan semir yang beracun dan berbau, lantas ia digosokkan kepada permukaan sepatu untuk membuatnya berkilau. Mungkin seperti itulah Corona, ia menghampiri kita dengan bahaya yang dibawanya untuk membuat kita nantinya menjadi pribadi yang lebih bersinar lagi karena kesabaran serta ketulusan kita ketika berjumpa dengan Corona.

 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar