Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RESENSI NOVEL “SELAMAT TINGGAL” TERE LIYE



Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah

Judul Buku: Selamat Tinggal
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 9 November 2020
ISBN: 9786020647821
Bahasa: Indonesia
Tebal Halaman: 360 halaman 
Lebar: 13,5 cm
Panjang: 20,0 cm 
Berat: 0, 21 cm

Sinopsis buku:
        Kita tidak sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahna tersebut. 
Mari tutup masa lalu yang kelam, mari membuka halaman yang baru. Jangan ragu-ragu. Jangan cemas. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. “Selamat Tinggal” suka berbohong, “Selamat Tinggal” kecurangan, “Selamat Tinggal” sifat-sifat buruk yang lainnya. 
Karena sejatinya, kita tahu persis apakah kita memang benar-benar bahagia, baik, dan jujur. Sungguh “Selamat Tinggal” kepalsuan hidup. 

Tentang isi: 
        Pemuda rantau berusia 24 tahun. Jarang sekali mandi. Berambut aga panjang. Selalu membawa ransel kumal ke kampus. Dia seorang mahasiswa lawas fakultas sastra yang menunda skripsinya selama 2 tahun, sudah mengajukan 3 kali ganti topik dan hampir di DO hanya karena soal patah hati. Namanya adalah Sintong Tinggal, berasal dari Medan keturunan Jawa-Sumatera. Selain sebagai mahasiswa aktif di kampus besar Sintong juga sebagai penjaga toko buku bajakan bernama “Berkah” milik Pakdhe dan Buleknya. 
        Jadi, di dalam novel ini meceritakan seorang mahasiswa semester tua yang tak kunjung menyelesaikan tugas skripsinya. Beruntung saja dia mendapatkan kesempatan 1 semester oleh pak Dekan karena rasa kasihannya pada mahasiswa ini. sebenarnya ada sebab dibalik dia menunda skripsinya, yaitu rasa patah hati karena seorang wanita. Dramatisasi yang ada di dalam novel membuat pembaca semakin penasaran apa maksud dari judul “Selamat Tinggal” yang dikaitkan dengan mahasiswa semester tua dalam cerita. 
     Tokoh-tokoh di dalam novel ini antaranya; Sintong Tinggal, Mawar Terang Bintang, Paklik Maman, Bulik Ningrum, Inang,  Bunga, Jess, Ucok, Slamet, Pak Dekan, Babe Na’im, Pak Darman, Pak Hardja, dan Pak Oey. Disini Sintong sebagai anak rantau yang mendapat kesempatan untuk melanjutkan studinya di kampus besar fakultas sastra. Inangnya menitipkan dia kepada Paklik dan Bukliknya di kota. Sampai dipenghujung semester akhir Sintong menunda skripsinya karena patah hati dengan seorang wanita bernama Mawar Terang Bintang. 
        Mawar Terang Bintang adalah keturunan asli Sumatera, wanita yang dipuja Sintong sejak duduk di SMA. Selama Sintong merantau dan berjarak dengan Mawar, mereka sering sekali saling mengirim surat. Jika dihitung mereka sudah dekat selama 24 bulan, 104 minggu, dan 52 surat, tapi bilangan itu membuat dadanya sesak saat tau bahwa Mawar berpaling dan menikah dengan seorang Binsar gagah yang sangat bertolak belakang dengannya. 
   Hal itu membuat Sintong menunda tugas akhirnya. Tapi seiring berjalannya waktu Sintong mulai serius untuk mengerjakan skripsinya yang meneliti seorang penulis sekaligus kritikus negara yang hilang dalam catatan sejarah literasi nasional, karena kedatangan seorang wanita cantik, berambut panjang, dan berkulit bernama Jess dalam hidupnya. Kisah itu berawal dari kunjungan Jess bersama temannya bernama Bunga ke toko buku bajakan yang Sintong jaga. Lambat laun Jess mengagumi Sintong karena skill kepenulisannya. Sekalipun begitu hati Sintong tetap tertuju pada Mawar.  
        Jiwa literasi Sintong resah, sebab dia dengan status mahasiswa yang berintelektualis terpaksa harus menjaga toko buku bajakan paklik dan buklik nya karena amanat inang. Tapi berkat toko bajakan ini juga Sintong mendapat buku tua milik seorang penulis bernama Sutan Pane yang jejaknya hilang dalam catatan sejarah literasi nasional. Sintong manjadikan ini sebagai topik penelitian skripsinya. Kemudian diterima oleh Pak Dekan dan beliau langsung yang menjadi pembingnya. Tanpa banyak pikir Sintong langsung melakukan observasi menelusuri kisah hidup Sutan Pane. Namun, informasi-informasi yang dia dapat belum juga menjawab mengapa Sutan Pane berhenti menulis dan hilang begitu saja. Pencarian ini membuat Sintong kembali bergairah menulis artikel untuk di publish di koran dengan tujuan mendapat informasi lebih Sutan Pane. 
        Hampir di penghujung tugas skripsinya tiba-tiba Sintong dikabari Mawar wanita yang dipujanya mendapat hukuman pidana dan meminta Sintong untuk menjenguknya. Sintong tetap Sintong yang dulu, sekalipun Mawar terlibat kasus dia tidak menjauhi Mawar sedikit pun. 
        Bagaimana nasib perasaan Jees pada Sintong? Apakah Sintong berhasil menemukan teka-teki hidup Sutan Pane? Kasus apa yang membuat Mawar masuk penjara? 

Kelebihan: 
Novel ini menyampaikan banyak informasi terkait literasi, sejarah, dan geografi. Novel ini juga menyampaikan pesan para pembaca betapa pentingnya menghargai seorang penulis dengan tidak membeli buku bajakan. Bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami. Kemudian, terdapat beberapa kosa kata asing sebagai tambahan pengetahuan. Sangat memotovasi, khusunya bagi mahasiswa tingkat akhir.

Terimakasih dari saya untuk penulis.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar