Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RESENSI KAMUS AL-MUNJID FI AL-LUGHOH AL-‘ALAM (Kamus Arab-Arab)


Oleh: Dihyat Haniful Fawad
 

Percetakan : Daarul Masyriq Beirut Lebanon

Tahun Terbit : Dirilis pada tahun 1908. Cetakan ke-15 tahun 1956, Mr. Ferdinan Tutel memberi penambahan berupa biografi tokoh-tokoh di negara Timur dan Barat hingga kamus Munjid dianggap lengkap dan serupa ensiklopedia. Cetakan ke-24 tahun1981.

Penyusun kamus ini adalah dua orang pendeta Katolik yang bernama Fr. Louwis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i. Adanya kamus ini isinya hanyalah merujuk kepada majalah-majalah Nashrani dan tidak pernah merujuk kepada majalah Islam. karena di dalamnya terdapat beberapa kesalahan ayat, tidak terdapat lafadz “Firman Allah”, terkadang mereka berkata: “di dalam Al-Qur’an”, kemudian tidak tercantum sifat Al-Qur’an yang Suci atau Agung, banyak dicantumkan berita dari kitab suci Taurat dan Injil secara spesifik dan tidak terdapat hadits Nabi saw meskipun hanya satu.
Dalam kamus Al-Munjid Fi Al-Lughoh wal ‘Alam karya Louwis ini memuat dua kategori, yaitu mengenai kebahasaan atau pemaknaan dan tentang ilmu pengetahuan umum. Lampiran pertama pada kamus ini tentang kebahasaan yang menggunakan sistematika alfabetis serta memuat sejumlah makna yang bermacam-macam, sedangkan lampiran kedua menjelaskan mengenai ilmu pengetahuan umu yang tersusun atas pengetahuan umum, pengetahuan bahasa Arab, gambar tokoh sejarawan, peta geografis, tahun-tahun penting dan sejarah dunia yang menggunakan pola alfabetis.
Jika dilihat dari segi macamnya, kamus Al-Munjid menggunakan beberapa jenis sebagai berikut: (1) Kamus Lughowi, yaitu secara khusus membahas lafadz atau kata dari sebuah bahasa yang dilengkapi pemakaian kata tersebut. (2) Kamus Visual, yaitu di dalamnya terdapat gambar-gambar untuk menjelaskan makna kata supaya lebih efektif memahami pengguna kamus. (3) Kamus Maudhu’i, yaitu pengklasifikasian kata berdasarkan tema yang memiliki makna serumpun.
Sedangkan secara metode pemakaiannya, susunan kalimatnya terbentuk sesuai makna dengan kategori yang berbeda, kemudian jika mencari kata asli, maka langsung pada bab awal kategori tersebut, jika berupa kata mazid maka kembali lagi ke bentuk aslinya terlebih dahulu (mujarrod), jika berupa fi’il mudhof tsulatsi diletakkan pada awal materi, jika berbentuk mudhof ruba’i maka bentuknya kembali lagi ke tsulatsi, contohnya مَدْمَدَ maka kembali ke bentuk مَدَّ. Dan tanda || sebagai simbol pengulangan supaya tidak perlu mencari ulang kalimat yang sama, contohnya الراحة  ||الروح: الفرح . kemudian tidak semua kalimat yang diletakkan bersama fi’il yang bertujuan membatasi, bahkan banyak dari kalimat dijadikan sebagai contoh.
Adapun kelebihan yang terdapat pada kamus Al-Munjid sebagai berikut: (1) dinilai dapat menjamin tingkat objektifitas penyusun kamus dalam menata kosa kata, (2) sebagai alat bantu untuk memahami bahasa Arab, (3) menggunakan macam-macam tinta warna, hal ini membantu dalam mempermudah pencarian, (4) diakui memiliki kosa kata dan makna yang lengkap.
Tak luput dari kelebihan yang dimiliki, kamus Al-Munjid pun memiliki kekurangan di dalamnya, seperti: (1) ketika terdapat kata “Al-Qur’an” tidak pernah ditambahkan “Al-Karim” dsb, namun jika terdapat kata kitab suci Nashrani dan Yahudi, kamus ini menambahkannya dengan kata “al-muqoddas”, (2) ketika terdapat nama “Nabi Muhammad” tidak pernah ditambahi kata “Shalallahu ‘Alaihi Wasallam” dan juga nama para Sahabat, tidak ditambahi “Radhiyallau ‘Anhu”, (3) tidak menggunakan kalimat “Basmallah”, sebaliknya tertulis “Bismil Ab wa Ruhil Quds” setelah itu baru disebuh kalimat “Basmallah”, (4) kamus ini tidak membahas aqidah Islam, namun banyak membahas hal yang bersifat penyelewengan aqidah, (5) nama tokoh Islam seperti Sahabat, Tabi’in dan para Ulama terkemuka pun tidak ditemukan, sebaliknya nama tokoh Nashrani banyak disebutkan, (6) kamus ini tidak pernah merujuk pada sumber Islam yang sebenar-benarnya, (7) banyak terdapat kesalahan penulisan nama tokoh dan kaitannya dengan sejarah, (8) terdapat gambar dan aneka lukisan dari Barat, yang tidak berdasarkan kebenaran, seperti gambar nabi Isa, (9) Nuh dikatakan hanya sebagai “Keluarga Ibrahim” dan Sulaiman dikatakan sebagai “Raja”, bukan Nabi, (10) Nabi Daud disebut pembunuh banyak lelaki untuk memperistrikan janda, padahal tidak demikian.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar