Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

REINTERPRETASI QURANI KONSEP KHILAFAH DAN JIHAD (Part 3)

Oleh: Astri Liyana

Telaah Ayat-Ayat Khilafah dalam al-Qur’an

Kedua, ayat-ayat tentang khilafah. kata khilafah (الخلافة) dalam al-Qur’an berasal dari kata خَلْفٌ yang berarti belakang. Dari akar kata tersebut kemudian berkembang menjadi kata benda, seperti khilfatan (bergantian), khilafah (kepemimpinan sebagai pengganti), khalifah, khalaif, khulafa (pemimpin, pengganti).[1] Khilafah secara lahiriyah bermakna pergantian terhadap pendahulu, baik secara perseorangan maupun kelompok. Adapun secara teknis, khilafah ialah sebuah instansi pemerintahan Islam sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis. Khilafah ini dijadikan sebagai media untuk mengukuhkan agama dan hukum-hukumnya (Ganai, 2001: 59).

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan salah satu militan Islam yang berikeinginan mendirikan khilafah. Islam militan ini bahwasannya negara-negara yang bernafaskan Islam malah bepihak pada sistem kufr dan berkomplot dengan negara sekuler. Hingga akhirnya menimbulkan kekecewaan, dan melakukan serangkaian tindakan-tindakan baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan untuk mengambil kekuasaan dan menegakkan negara khilafah. HTI menjadikan Qs. al-Baqarah ayat 30 sebagai senjata untuk memperkuat pendapatnya, yakni mendirikan syariat Islam melalui khilafah Islamiyah. Adapun ayatnya, “(Ingat) ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, “Aku ingin menjadikan khalifah di bumi.” Mereka bertanya, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana? Padahal, kami bertasbih memuji dan menyucikan nama-Mu.” Dia berkata, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” Ayat ini berkaitan dengan penciptaan Nabi Adam. Quraish Shihab menyatakan ayat tersebut merupakan bentuk kemuliaan anak Adam dengan ditugaskan untuk menjadi khalifah di muka bumi (Shihab, 2013: 110).

Adapun dalil-dalil yang dijadikan pijakan untuk menjustifikasi dalam menegakkan negara khilafah ialah QS. an-Nisa ayat 59, “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah daan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu”. Kata ulil amri dalam ayat ini dimaknai mematuhi para imam/khalifah. Perintah mematuhi ulil amri ini merupakan dalil yang mengharuskan untuk mengangkat ulil amri, sebab Allah tidak mungkin Allah memberikan perintah kepada umat Islam untuk mematuhi sesuatu yang tidak ada. Dengan demikian, ayat tersebut menyatakan kewajiban untuk mengangkat seorang imam/khalifah bagi umat Muslim (Dumaiji, 1987: 49).

Menurut Quraish Shihab, secara umum ayat tersebut merupakan perintah yang mendorong manusia untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, tolong menolong dan patuh terhadap Allah dan Rasul, serta Ulil Amri, menyelesaikan pertikaian sesuai dengan nilai-nilai al-Qur’an dan Hadis. Secara khusus, ayat tersebut memerintahkan untuk menetapkan hukum dengan adil. Dengan kata lain, ayat tersebut memerintahkan umat Muslim untuk mematuhi keputusan hukum dari siapapun yang berkuasa untuk menetapkan hukum (Shihab,  2002: 481-482).

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini memerintahkan untuk berbuat adil dalam menetapkan hukum di antara manusia. Ayat ini juga berhubungan dengan umara’ (pemegang pemerintahan) untuk menegakkan hukum dengan adil. Umat Muslim juga diperintahkan untuk taat dan patuh terhadap Allah dan Rasul, serta para pemegang kekuasaan (Ulil Amri) agar tercipta kemaslahatan umum. Taat terhadap ketetapan yang ditentukan oleh Ulil Amri selama tidak bertentangan dngan al-Qur’an, maka kaum muslimin berkewajiban untuk mentaatinya (Katsir, 1992: 198).

Selain itu, ayat yang juga dijadikan dalil untuk mendirikan negara khilafah ialah surah al-Ma’idah ayat 49, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka meurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum Allah), maka ketahuilah sesungguhnya Allah akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik.

Menurut Hizbut Tahrir, ayat di atas merupakan petunjuk dari Allah yang memerintahkan Rasulullah untuk memberikan ketentuan hukum di antara kaum muslimin dengan apa yang diturunkan Allah (syariat Islam). Seluruh ayat yang memerintahkan untuk berhukum pada hukum Allah adalah dalil yang menunjukkan kewajiban mengangkat khalifah untuk mendirikan syariat Islam (Shofwan, 2016: 149).

Dalam tafsir at-Thabari berkaitan dengan Nabi Muhammad yang memiliki tugas berdasarkan kitab Allah, seperti qishash, jurh, rajam,bagi orang yang melanggar hukum keagamaan (Thabari, 1992: 2912). Ibnu Hisyam menyatakan bahwa ayat tersebut membahas tentang beberapa orang Yahudi yang mengharuskan Nabi menerapkan hukum Islam dalam menghukumi, akan tetapi Nabi mengabaikan dan turunlah ayat tersebut (Hisyam, 1991: 200). Dalam tafsir Ibnu Arabi dikatakan bahwa ayat tersebut telah dinaskh oleh ayat sebelumnya. Meskipun beliau tetap berpendapat bahwa ayat tersebut berkaitan dengan perintah Nabi agar menerapkan hukum Allah (Arabi, 2003: 176).

Dengan demikian, hasil interpretasi ayat-ayat di atas tidak ada yang memaksudkan menegakkan khilafah islamiyah. Sehingga, sangat jauh jika ditransformasikan menjadi sistem khilafah. Oleh sebab itu, penafsiran yang bertujuan mendirikan khilafah islamiyah menggunakan ayat-ayat di atas, sesungguhnya bertolak belakang dengan apa yang diinginkan al-Qur’an, sebab menerapkan hukum Allah tidak bermakna menegakkan khilafah islamiyah.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwasannya ayat-ayat jihad yang sering kali disalahpahami untuk dijadikan dalil dan justifikasi radikalisme dengan mengatasnamakan agama di antaranya QS.al-Furqan ayat 52, QS. Taubah ayat 5, dan QS. al-Hajj ayat 39. Selain itu, ayat-ayat yang juga dijadikan dalil pembenaran untuk menegakkan khilafah islamiyah di antaranya QS. al-Baqarah ayat 30, QS. an-Nisa ayat 59, dan QS. al-Ma’idah ayat 49.

Akan tetapi, Interpretasi ayat-ayat di atas, tidak ada satu pun ayat membenarkan tindak kekerasan. Sebab Islam merupakan rahmatan lil’alamin yang menjunjung tinggi perdamaian. Di samping itu, tafsir al-Qur’an yang dijadikkan legitimasi khilafah islamiyah, sesungguhnya bertolak belakang dengan apa yang diinginkan al-Qur’an, sebab menerapkan hukum Allah tidak bermakna menegakkan khilafah islamiyah.  



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar