Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

Oleh: Bagus Isnu H


   Dikira hanya sebatas bait yang mentah, receh dan tidak lugas? Maka kita harus tahu makna yang terkandung didalamnya, dan bahkan sungguh mulia apabila nilai tersebut dilestarikan dalam sosial. Keadilan terus menerus menjadi perbincanngan yang tidak ada habisnya, dengan kejanggalan dari pengusutan kasus yang lama dan vonis hukuman yang tidak setara. Maka jangan harap apabila perbincangan akan terus berlanjut juga dengan aksi-aksi sebagai bentuk perjuangan dan menghidupkan nalar-nalar kritis masyarakat.

   Pelanggaran verbal, criminal, pelanggaran HAM dan masih banyak pelanggaran lain yang terus berkala. mungkin kita sendiri menyaksikan baik secara langsung dijalanan, pedesaan, televisi dan masih banyak lagi tempat yang menjadi ketidak adilan baik itu ditempat singgasana Presiden dan Wakil Rakyat.

   Pada bergantinya tahun selalu menjadi tahun yang “duka”, masyarakat, keluarga dan sahabat aktivisnya ikut merasakan. Seolah-olah semua tidak ada titik terangnya. Kita kenal kasus Munir Said Thalib yang terbunuh dengan cara diracun arsenic dalam perjalanan pesawat untuk melakukan hal mulia; menimba ilmu di kota Amsterdam , Belanda. Nasib yang menjadi surat takdir pada sosok  pejuang HAM tersebut.

   Dari sekian lama sesampai memakan masa hingga 17 tahun, kasus pembunuhan terhadap Munir masih belum dapat dibedah hingga akar-akarnya, meski sedikit demi sedikit dari sekian pelaku sudah ada yang diketahui dan tetapi tetap juga masih belum ada kejelasan lebih. Seperti yang kita ketahui Negara kita ini masih masuk kategori Negara yang “takut” seperti perkataan presiden Gus Dur dalam sebuah wawancara di stasion televise.

   Terasa sangat miris pada pertengahan tahun ini, 7 september 2021. Tentu kita semua melek dan dengar akan sebuah pertanyaan yang paling fenomenal yaitu “atas dasar apa Munir itu dibunuh?” semenjak 17 tahun yang kelam itu tidak ada sekelumitpun jawaban atas pembunuhan berencana itu. Apa benar setiap orang/warga yang membela kebenaran, menuntut keadilan atas dasar ideology tidak ada jaminan untuk dapat menyambung hidup dengan cucu-cucunya kelak?

   Tahun ini menjadi tahun penghujung pengusutan kasus pembunuhan Aktivis pejuang HAM tersebut, sebagaimana dalam UU Pidana KUHP dijelaskan bahwa dalam jangka 18 tahun dalam pengusutan kasus tidak tuntas maka akan bersifat daluwarsa. Akan tetapi KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir) melakukan usaha agar kasus ini terus ditindak lanjuti dengan melakukan diskusi bersama Komnas HAM diwakili oleh Sandrayati Moniaga.

    Sebagaimana yang dilansir di komnasham.go.id dari diskusi itu menghasilkan dua rumusan. Pertama, agar menetapkan kasus pembunuhan Munir itu termasuk pelanggaran HAM berat. Dan kedua untuk segera mempercepat pengusutan kasus tersebut apabila ditahun ini menjadi tahun daluwarsa dan meminta Presiden untuk memerintahkan Polri untuk segera menuntaskannya segera. Dan jika kasus ini belum tertuntaskan ditahun penghujung ini maka harus menyiapkan data-data agar tetap diusutnya kasus tersebut sampai tuntas sesuai dengan UU 26 tentang pengadilan HAM.

    Dan apabila kasus pembunuhan kepada pejuang HAM itu tidak dapat dituntaskan, maka sudah tiada guna lagi teori hukum, pihak berwajib bahkan jabatan tertinggi didunia ini. Sia-sialah harapan keadilan bagi masyarakat kecil yang hanya ingin hidup berdampingan dan bisa menyambung hidup dengan anak-anak cucu. Berangkat dari sinilah kita sebagai insan yang memiliki akal dan tenaga yang luar biasa seharusnya untuk senantiasa berjuang, yang kuat membela yang lemah, yang kaya menghidupi yang miskin dan bukan malah sebaliknya!!!

    Hendaklah kita untuk berusaha semampunya saja, sebagaimana manusia yang penuh dengan keterbatasan hingga kekurangan yang terus menyelimuti keseharian manusia itu sendiri. Jika kita diam, pasif, apatis maka hendaklah kita siap untuk menerima keadaan yang tidak senonoh seperti yang kita rasakan sekarang. Keadilan harus selalu disuarakan dan diperjuangkan hingga benar-benar keberadaannya dirasakan oleh masyarakat dan orang-orang sekitar kita.

 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar