Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GUNAKAN RUMUS 5R UNTUK MENJADI PENULIS YANG BAIK (SERI

 https://pixabay.com/photos/teamwork-cooperation-brainstorming-3213924/

Oleh: M. Ikhsan Kamaluzaman

          Seekor kupu kupu melewati berbagai fase metamorfosis sebelum akhirnya menjadi kupu kupu yang begitu indah. Begitu juga dengan pekerjaan dan cita cita apapun, tak ada satu pun darinya yang bisa didapatkan dengan cara instant, sekalipun seseorang itu mempunyai banyak privelese. Anak seorang nabi seperti kan’an saja bisa tidak beriman, apalagi hanya seorang anak kiai. Kiai anwar mansur lirboyo pernah mengatakan “apa ketika kamu makan anakmu ikut kenyang?” ini merupakan tamparan keras bahwa anak seorang kiai juga tidak menjamin ke depannya menjadi seorang kiai jika ia tidak mau berusaha dengan mengaji. Begitu pun menjadi penulis, ia bukan bakat yang diturunkan namun itu adalah proses panjang yang dialami seseorang selama bertahun tahun.

            Pada seri sebelumnya kita membahas tentang betapa pentingnya mempertanyakan dan mengecek ulang informasi yang sudah kita miliki agar tulisan kita benar benar bisa mencerahkan banyak orang di luar sana. Karena seiring berjalannya waktu akan ditemukan banyak fakta dari puzzle yang sudah terpasang selama ini yang bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda tiap zamannya. Karena ya hidup ini dinamis begitu pula dengan ilmu pengetahuan. Imam Syafii pun memiliki 2 pendapat fiqhnya yaitu qoul qodim ketika berada di Baghdad dan qoul jadid ketika beliau berada di Mesir. Dapat dikatakan bahwa qoul jadid adalah revisi dari pendapat beliau sebelumnya. Selanjutnya mari kita bahas 2 rumus terakhir dari 5R untuk menjadi penulis yang senantiasa memperbaiki kualitas tulisannya

            4. Reflective

            Perbedaan merupakan sunnatullah (ketetapan Allah) maha kuasa Allah menciptakan manusia berbeda beda untuk saling mengenal. Dengan keberagaman yang Allah sudah tetapkan harusnya menjadikan kita sebagai manusia yang tidak menuhankan keseragaman. Keberagaman menjadi salah satu identitas bangsa kita dengan slogannya Bhinneka Tunggal Ika. Karena dengan keragaman kita semakin mensyukuri kekayaan bangsa kita, bangsa kita tidak hanya kaya dengan ragam alamnya namun juga kaya dengan ragam budayanya.

            Menulis adalah kegiatan menuangkan pikiran dalam bentuk huruf menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Tentu ketika kita menulis berarti kita sedang menunjukkan sebuah pemikiran yang selama ini kita yakini kebenarannya. Untuk menjadikan tulisan kita tidak bernada provokatif, menjatuhkan, mengintimidasi pihak tertentu maka diperlukan merefleksikan tulisan kita agar tidak terlalu condong terhadap suatu ideologi. Sah sah saja sebenarnya menuliskan sesuatu yang kita jadikan prinsip, namun untuk menggapai pembaca yang beragam kita juga harus bisa berdamai dengan diri kita untuk mendengarkan perspektif lain untuk kekayaan khazanah tulisan kita.

            Pemikiran barat sering kali dijadikan sebagai acuan dalam khazanah keilmuan di dunia pendidikan kita. Hal itu bisa terjadi karena negara kita pernah dijajah lebih dari 3 abad oleh Belanda. Ada banyak hal yang kemudian kita adopsi dari pemikiran barat. Tentunya kita sebagai seorang muslim tidak boleh anti terhadap pemikiran barat. Karena selama itu bernilai kebaikan dan hikmah maka kita harus mengambilnya dimanapun ia berada. Pada suatu riwayat dikatakan bahwa hikmah adalah barang hilangnya seorang yang beriman, dimanapun ia menemukannya ia berhak mengambilnya.     

            Merefleksikan sebuah tulisan bukan berarti bersikap plin plan karena tidak memiliki prinsip. Namun dengan merefleksikan berarti kita mengamalkan apa yang dikatakan Imam Syafii bahwa pendapat saya benar namun mengandung salah dan pendapat anda bisa salah namun mengandung kebenaran. Merefleksikan berarti bersifat objektif dalam melihat sebuah perkara dan fenomena. Menjauhkan seorang penulis dari sikap fanatik buta yang dapat membahayakan merupakan bagian dari manfaat merefleksikan tulisan kita. Karena dengan membiasakan cara seperti ini kita akan semakin bijak dalam menyikapi perbedaan dan tidak kagetan ketika adanya hal hal baru di kehidupan kita. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang open minded, tidak sekedar toleransi terhadap perbedaan namun juga toleransi terhadap intoleransi itu sendiri.

            5. [W]Rite

            Ada 1001 cara dan tips untuk mencapai sebuah tujuan apapun, namun jika tidak dimulai dari langkah pertama itu semua hanyalah mimpi di siang bolong. Ratusan workshop tentang kepenulisan yang anda ikuti tidak bisa menjamin anda akan menjadi seorang penulis hebat seperti Ahmad Tohari, Mahbub Djunaidi, dan Pramoedya Ananta Toer. Nama nama berikut merupakan para penulis ternama yang memulai tulisan pertama mereka sampai nama mereka tetap abadi sampai hari ini. Mari kita mulai untuk menulis, karena hanya dengan memulainya kita bisa menjadi seseorang yang manfaatnya tak lekang oleh waktu.

            Untuk menutup seri tulisan panjang kali ini saya akan mengutip apa yang dikatakan oleh Imam Syamsi Tabrizi guru spiritual dari Imam Jalaluddin Ar Rumi : “Aku tidak takut dengan kematian, karena bagiku kematian bukanlah akhir, aku lebih takut jika aku mati, aku tidak meninggalkan warisan apapun bagi generasiku kelak”. Mari menulis, mari mengabadi.  

Rujukan : 

Ngainun Naim, The Power Of Reading, Aura Pustaka, Yogyakarta, 2015

Fahruddin Faiz, Sebelum Filsafat, MJS Press, Yogyakarta, 2018

Husein Jafar Al Haddar , Tuhan Ada Di Hatimu, Noura Books, 2020  



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar