Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

EDELWEIS (PART 1)

Oleh: Syifaul Fajriyah

Aku adalah Edel, si cantik jelita dari desa Ancala. Nama ini terinspirasi dari bunga yang dikeramatkan oleh warga sekitar, yaitu Edelweis. Sudah menjadi tradisi warga setempat, jika lahir seorang gadis dengan rambut perak maka nama bunga langka nan suci ini harus diberikan. Siapa sangka, pasangan Baron dan Hanum yang dikenal dengan kemiskinannya melahirkan putri yang akan mendapatkan gelar Edelweis.

Edelweis Anisty adalah nama panjangku. Setelah 17 tahun nama ini tersematkan padaku, perekonomian keluarga kami meningkat pesat. Bahkan, orangtuaku yang semula dihina kini mereka disanjung dengan gembira. Tak heran warga berprilaku sedemikian, pasalnya para tetuah disana mengangkat ayah sebagai bagian dari mereka. Kala itu, ayah yang hanya bekerja sebagai pencari rumput untuk dijual ke peternak sapi. Tiba-tiba, dipanggil untuk menghadap sesepuh desa terpencil itu, Eyang  Mada namanya.

Eyang Mada, pria yang hampir berusia hampir satu abad itu adalah orang yang sangat tegas dan berwajah garang. Bahkan aku takut jika menatapnya. Usia dan wajahnya seperti tidak sinkron. Jika orang awam yang melihatnya, mungkin dia kira usianya sekitar enam windu. Eyang memanaggil ayah untuk dihadapkan kepada warga Ancala.

"Hai wargaku, Ancala Jaya. Sambutlah tetuah baru kita, Baron. Kuburlah dengan dalam dia yang dulu. Bukalah lembaran baru dan hormatilah dia. Sayangi dia seperti kau menyayangi Tetuah yang lain."

Orang Tua itu baik padaku dan ayah bunda. Setiap pagi, siang, dan malam, Ia teratur mengunjungi gubuk reyot kami. Dapat ku katakan, kunjungannya seperti minum obat tiga kali sehari. Ia tidak jarang membawa sandang pangan bagi kami. Bahkan balok emas murni pernah jadi buah tangannya.

Itulah awalnya, hingga suatu ketika aku dan Bunda mulai menaruh curiga pada kakek tua itu. Suatu hari, Eyang Mada datang ke rumah dengan membawa sebongkah batu. Sesampainya, Ia mendongengi kita dengan cerita yang masih belum terbukti kebenarannya. Di kisahkan, batu tersebut adalah milik Gadis Edelweis pertama di Ancala. Batu inilah sebagai tempat duduk favoritnya. Ayah diminta untuk merawatnya bahkan melebihi kasih sayangnya pada keluarga. Memandikan dengan bunga, memberi sehelai kain, bahkan memberinya makan dan minum. Entah apa sarapan batu itu, Eyang hanya berbisik saja. Rutinitas ini dilakukan hingga usiaku menginjak 21 tahun.

Ulah kakek berbadan kekar inilah yang membuat Ayah menjadi orang yang berbeda. Bukan hanya Ayah, bahkan hawa di rumah membuat bulu kuduk aku dan Bunda merinding. Memang besar tapi panas, sesak, tidak nyaman itulah rumah kami saat ini. Bunda pun sering berdebat hebat dengan Ayah, kekerasan rumah tangga hampir saja terjadi. Permohonanku pada Ayah yang semula terpendam, pernah ku lontarkan.

"Ayah, kau berbeda dengan yang dulu. Apa yang kakek tua itu lakukan? Apa dia menyimpan kesesatan dalam dirimu?" Tangannya yang besar dan keras itu hampir saja menyentuh pipi merah tanpa blush on ku.  Syukurlah, Bunda menahannya dan ayah menepisnya. Dua tangan besar itu pun sontak mengusap wajah lusuh ayah.

Tok tok tok...

Bersambung...





Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar