Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Amal Uwais al-Qarni

sumber : pinterest.id

BAEDT GIRI MUKHODDAM BILLAH

Anak adalah sebuah anugerah yang telah diberikan oleh Allah Ta’al. Setiap dua insan telah megikat janji suci untuk menikah, harapan selanjutnya pasti ingin memiliki sebuah momongan, kemudian setelah anak itu lahir harapan selanjutnya ialah agar anak tersebut menjadi anak yang sehat dan baik, setelah tumbuh besar harapan selanjutnya adalah agar anak tersebut menjadi anak yang soleh dan berbakti keapada orang tuanya. Dan harapan terakhir yang diharapkan oleh orang kepada anak tersebut agar selalu mendo’akannya pada saat orang tua sudah terlelap dialam kubur. 

Pada masa Shadrul Islam bahwasannya rasulullah ﷺ memberi pesan kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq agar meminta do’a kepada orang yang bernama Uwais al-Qarni dan menyampaikan salam kepada beliau. Hingga nabi Muhammad ﷺ wafat beliau belum juga bertemu dengan Uwais al-Qarni, yang kemudian menjadikan salah satu wasiat yang disampaikan oleh rasulullah ﷺ kepada sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Namun hingga sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq wafat, orang yang bernama Uwais al-Qarni belum juga ditemukan. Hingga pada masa kekhalifahan sahabat Umar Bin Khattab berhasil menemui orang yang diwasiatkan oleh nabi ﷺ. Kemudian  meminta do’a dan menyampaikan salam dari nabi Muhammad ﷺ. Kemudian sahabat Umar Bin Khattab menanyakan apa amalan yang dilakukan oleh Uwais al-Qarni, sehingga rasulullah memerintahkan para sahabat untuk meminta do’a kepada nya. Maka Uwais al-Qarni menjawab “aku adalah orang yang sangat beriman kepada rasulullah ﷺ, dan sangat ingin sekali berkunjung ke kota Madinah. Akan tetapi aku harus merawat ibuku, maka niat itu saya urungkan agar aku bisa lebih berbakti kepada orang tua ku”. 

Diriwayatkan bahwasannya Uwais al-Qarni tinggal didesa kecil daerah yaman. Sehari-hari beliau merawat ibunya yang sudah tua renta. Kemudian suatu ketika ibunya berkata kepada Uwais al-Qarni bahawsannya umurnya mungkin tidak lama lagi, dan mungkin juga ini menjadi permintaan terakhir dari ibunya. Sang ibu ingin Uwais al-Qarni mengantarkannya pergi ke Mekkah untuk mennunaikan ibadah haji. Sejenak Uwais al-Qarni terdiam sesaat setelah mendengar perkataan sang ibu. Dikarenakan perjalanan yang akan ditempuh sangat lah jauh, beserta cuaca panas dan tanah yang tandus pasti akan mnyulitkan perjalanan. Biasanya orang yang pergi haji setidaknya memiliki kendaraan seperti lembu atau onta beserta perbekalan yang banyak. Tapi bagaimana dengan Uwais al-Qarni yang miskin dan tidak memiliki banyak harta. Kemudian Uwais al-Qarni mengolah otak agar perjalanan ini terwujud, dan akhirnya memiliki sebuah ide. Ia membeli seekor anak lembu dan membuat kandang pada sebuah puncak bukit. Ialah dipakai untuk melatih otot-otot nya dengan menggendong anak lembu naik-turun bukit tersebut setiap keluar dipagi hari,  agar kuat menggendong sang ibu dan beberapa perbekalan yang akan dibawa disaat perjalanannya ke Mekkah. Orang-orang disekitar beberapa terheran-heran dengan kelakuannya tersebut, dan seraya bertanya atas perbutannya tersebut : “Apa yang kaulakukan dengan menggendong lembu dan menaiki bukit tersebut”, maka Uwais al-Qarni menjawab : ini kulakan untuk melatih ototku agar bisa mnggendong ibuku pergi ke mekkah untuk menunaikan ibadah haji”. Dengan sontak orang tersebut menjawab: “Uwais... kau gila”. Tak hanya satu orang menyebut kata “UWAIS GILA.....”, akan tetapi setiap orang yang maksud perbuatan dari Uwai al-Qarni tersebut. 

Semakin lama anak lembu tersebut semakin gemuk, begitu juga dengan otot Uwai al-Qarni. Seiring banyak waktu yang dihabiskan Uwais al-Qarni dalam melatih otot-otot nya tersebut, membuat berat dari seekor lembu tersebut seakan tidak memiliki berat sedikit pun. Pada saat latihan nya telah genap 8 bulan Uwais al-Qarni merasa siap menggendong ibunya kemana pun ibunya mau. Dengan tegap gagah Uwais al-Qarni menggendong ibunya sampai dengan Mekkah al-Mukarromah. 

Sesampainya di padang Arafah sang ibu bercucur air mata karena bisa melihat Baitullah dengan jelas dan nyata. Kemudian Uwais al-Qarni berdo’a dengan menghadap Ka’bah. Uwais al-Qarni melantunkan do’anya yang berbunyi : “Ya Allah.... Ampunilah Dosa ibuku”, kemudian sang ibu menyahut : “bagaimana dengan dosa mu nak?”, Uwais al-Qarni menjawab : “dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Ridha dari ibu.... sudah cukup megantarkanku pergi ke Surga”.

Dengan Amal yang dilakukan oleh Uwais al-Qarni tersebut. Allah Ta’ala memberikannya hadiah tempat disurga, bahkan sebelum Uwais al-Qarni meninggal dunia. Ini menjadikan Uwais al-Qarni pengghuni surga lebih awal, seperti yang dikatakan oleh rasulullah ﷺ dalam sebuah riwayat. Pada waktu itu Uwais al-Qarni sempat datang ke kota Madinah dan menggebu-gebu sangat ingin menemui Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetuk rumah Nabi ﷺ, yang datang hanya jawaban dari sayyidah Aisyah, dan mengatakan bahwasannya Nabi ﷺ sedang pergi berperang, dalam lubuk hatinya yang paling dalam Uwais al-Qarni ingin menunggu Nabi ﷺ hingga datang, akan tetapi terbesit dalam ingatannya ada ibu yang harus dirawat. Kemudian Uwais al-Qarni lebih milih pulang dan hanya menitipkan salam kepada sayyidah Aisyah agar disampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sepulangnya nabi Muhammd ﷺ pulang dari peperangan, sayyidah Aisyah menyampaikan pesan dari Uwais al-Qarni, kemudian Rasulullah ﷺ menjawab : “tahukah kamu wahai Aisyah, bahwa pemuda itu adalah penghuni langit”.

Selama orang tua masih ada jangan sampai kita menyakiti hati orang tua yang sudah mendidik dan merawat kita dengan sedemikian rupa. Se aneh apa pun perintah orang tua yang diberikan kepada kita wajib mentaatinya terkecuali yang melanggar syaria’at. Itu salah satu kewajiban kita merawat orang kita serta menasehati mereka ketika memang salah, dan ketika memang harus menasehati kesalahan tersebut, hendaknya jangan sampai nasehat mu menyayat hati orang tua. Jangan kan orang tua... ketika seseorang menyakiti hati seorang muslim maka ia sama dengan menghancurkan Kakbah 100 kali. Maka teruslah berbakti kepada orang tua selama orang tua mu masih ada, dan ketika mereka sudah tiada tugas mu kepada tinggal mendokan mereka tanpa libur seharipun. 

Refrensi :

https://jateng.nu.or.id/read/XOPP/kisah-uwais-al-qarni-pemuda-istimewa-menurut-rasulullah-


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar