Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

11 STRATEGI UNTUK MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BAHASA ARAB

Sumber Gambar :
https://www.pexels.com/id-id/foto/jalan-pasar-sempit-di-kota-timur-5472511/

Oleh: M. Ikhsan Kamaluzaman

Salah satu dari sekian banyak bahasa di dunia, bahasa Arab memiliki keistimewaan dan kedudukan yang mulia sampai era saat ini. Komunikasi dengan bahasa ini masih eksis sejak 16 abad yang lalu dan keutamaan bahasa ini karena menjadi bahasa kitab suci Al Quran yang di dalamnya dititipkan syariat agama islam yang kekal. Selain itu bahasa ini menjadi bahasa untuk bangsa Arab dalam urusan ekonomi, politik, dan kebudayaan mereka sampai dijadikan bahasa ini sebagai bahasa resmi PBB yang kita peringati setiap tanggal 18 Desember tiap tahunnya.

Pembelajaran bahasa Arab menjadi salah satu hal yang menjadi wajib bagi setiap pembelajar studi Islam khususnya di Indonesia. Karena bahasa Arab menjadi syarat untuk memahami studi Islam secara komperehensif. Akan tetapi faktanya, alumni madrasah Aliyah dan yang setaranya tidak menguasai bahasa Arab dengan baik, sekalipun ada itu hanya sedikit sekali. Itupun mereka yang ikut les bahasa Arab atau tinggal di pondok pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak terjadi permasalahan dan problematika dalam pembelajaran bahasa Arab baik di tingkat Aliyah bahkan di tingkat universitas sekalipun.

Menteri Agama Indonesia ke 12 Prof. Dr. Mukti Ali pernah mengatakan bahwa mahasiswa Islam Indonesia masih sangat lemah dalam metodologi berfikir dan kemampuan berbahasa asing khususnya bahasa Arab. Ada 3 jenis tempat untuk belajar bahasa Arab : 1. Pembelajaran intensif yang dilakukan di kampus bahasa atau kampus keislaman yang memiliki jurusan bahasa Arab 2. Pembelajaran reguler dan klasik yang dilakukan di pondok pesantren 3. Pembelajaran reguler hanya pada waktu tertentu yang dilaksanakan di sekolah islam mulai sejak madrasah ibtidaiyah sampai madrasah Aliyah.

Dari ketiga golongan tersebut melahirkan 2 jenis pelajar bahasa Arab. Pertama, pelajar yang menguasai bahasa Arab baik secara bacaan, pendengaran, bicara, dan kepenulisan. Kedua, pelajar klasik mereka menguasai bahasa secara pasif karena mampu membaca teks arab namun tidak mampu berbicara atau mengkomunikasikannya, padahal bahasa adalah menunjukkan kemampuan berbicara bahkan bahasa itu sendiri ya berbicara. Adapun pelajar reguler dengan mempelajari banyak mata pelajaran pada waktu yang bersamaan tidak menghasilkan output apapun dan tidak menjadikan mereka menguasai satupun dari keterampilan bahasa. Ini yang biasa terjadi di sekolah ibtidaiyah, tsanawiyah, Aliyah, bahkan di perguruan tinggi.

Hal demikian bisa terjadi karena banyak faktor. Diantaranya karena faktor eksternal seperti ketiadaan bantuan lingkungan masyarakat, kurangnya kompetensi guru, ketiadaan materi pembelajaran yang cocok, atau tiadanya media pembelajaran yang memadai. Namun berbeda bagi Mustofa Fahmi, ia mengatakan bahwa faktor utama dari kesuksesan pembelajaran adalah minat, motivasi, orientasi, norma kemasyarakatan dan etika, kegelisahan personal, ekspektasinya, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Menciptakan lingkungan berbahasa adalah salah satu upaya riil untuk memperbaiki pembelajaran bahasa Arab yang ada di Indonesia, oleh karena itu Basyiri menjelaskan ada 11 strategi untuk menciptakan lingkungan berbahasa untuk pembelajaran bahasa Arab :

1.      Membangun asrama pelajar. Memfokuskan mereka pada satu tempat yang sama memudahkan para pengawas bahasa untuk membiasakan mereka berbahasa bahkan di luar jam belajar.

2.      Menentukan tempat non berbahasa. Misalnya ketika mereka berada di kantin atau kantor sekolah.

3.      Adakan setiap kegiatan dengan berbahasa. Ketika acara wisuda misalnya maka semua petugas harus menyampaikannya dengan berbahasa agar para pelajar terbiasa untuk mendengarkan dan berbicara di acara acara resmi mereka.

4.      Adakan pembelajaran bahasa intensif. Waktu liburan adalah waktu yang tepat untuk mengadakan pembelajaran bahasa intensif, dengan focus pada satu tema diharapkan bisa menumbuhkan kemampuan berbahasa dengan cepat.

5.      Adakan kegiatan ekstrakulikuler berbahasa. Dalam 1 bulan adakan perlombaan baca berita, menyanyi, debat, dan bercerita dengan berbahasa agar mereka semakin dekat dengan bahasa namun dengan cara yang lebih bervariasi dan tidak membuat mereka jenuh

6.      Latih para pelajar dengan membuat jadwal ceramah berbahasa setiap selesai sholat jamaah.

7.      Siapkan macam macam literatur bahasa Arab di perpustakaan. Bisa berupa kitab fiqh, tasawuf, akhlak, dan sebagainya agar para pelajar semakin kaya dengan pembendaharaan kosa kata bahasa Arab.

8.      Fasilitasi majalah berbahasa Arab untuk para pelajar berkreasi menulis. Dengan itu mereka yang lebih senang menulis akan tersalurkan bakat mereka untuk mengekpspresikan diri mereka.

9.      Fasilitasi pengumuman dan informasi dengan bahasa, bahkan setiap papan pemberitahuan ditulis dengan bahasa Arab agar pelajar semakin akrab dengan bahasa Arab.

10.  Biasakan pelajar dengan memperdengarkan kepada mereka berita Arab langsung dari timur tengah dan juga ceramah para ulama timur tengah agar mereka terlatih untuk mengucapkan bahasa dengan dialek timur tengah.

11.  Bekerja sama dengan guru agama agar menyampaikan materi dengan bahasa Arab yang mudah difahami.


Rujukan: 

Halimi Zuhdy, Al Biah Al Lughawiyah Takwinuha Wa Dauruha Fi Iktisabil Lughah, UIN Maliki Press, Malang, 2017



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar