Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ZINNIRAH "GADIS YANG TAJAM MATA BATINNYA"

 

Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Ketika seseorang menghadapi penindasan, saat itulah Allah SWT. memberi kesempatan untuk menambah keimanan kepada-Nya. Meskipun hal itu ada dua kemungkinan, antara ujian atau cobaan kepada seorang hamba. Namun, tahukah kita bagaimana perjuangan Rasulullah SAW. dalam menyebarkan agama Islam? Beliau banyak dibantu oleh kesabaran kaum muslimin dalam mempertahankan akidah mereka. Sikap inilah yang membuahkan hasil sangat berharga dalam sejarah perkembangan Islam.

Di antara mereka, terdapat seorang wanita bernama Zinnirah. Ia berasal dari keturunan bangsa Rom. Ia pun telah ditawan dan dijual di sebuah pasar di Makkah, dan pada akhirnya dibeli oleh Umar bin Khattab Ra. untuk dijadikan hamba sahaya. Jika memandang dari fisiknya, dia terlihat lemah. Tetapi, dari segi spiritualitasnya sangat kental, termasuk mempunyai jiwa yang kuat dan tabah.    

Pada saat itu, Zinnirah menerima cahaya Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Sejak saat itulah seluruh kegiatan ibadahnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena takut diketahui tuannya yakni Umar bin Khattab. Namun usaha itu berakhir sampai disini ketika sang tuan mengetahuinya. Di masa awal dakwah Rasulullah SAW. Umar bin Khattab belum masuk Islam. Ia selalu memusuhi Rasulullah SAW. Saat itu Umar pun mencerca Zinnirah habis-habisan. Bahkan, dia berniat akan mengubur hidup-hidup budaknya tersebut.

Umar menyiksa Zinnirah berulang kali, dengan harapan agar dia mau kembali kepada agama asalnya dan meninggalkan Islam. Berbagai siksaan diberikan kepada Zinnirah. Pukulan, hentakan, tendangan, hingga dijemur di tengah panasnya terik matahari harus dihadapi Zinnirah tiap hari. Semua itu Zinnirah terima dengan penuh sabar dan tawakkal.  

Puncak penyiksaan itu ketika mata Zinnirah ditusuk dengan besi panas, hingga membuat kedua matanya buta. Meskipun begitu, tetapi hati dan jiwanya penuh dengan cahaya keimanan. Iman menjadi penyuluh hidupnya dalam kesengsaraan azab dari tuannya.

“Ini untukmu, ya Allah. Aku mengarungi kesengsaraan ini untuk mendapat kesenangan di akhirat kelak. Perjuangan ini terasa berat, selalu dihiasi penderitaan dan kesengsaraan, sebab aku sadar bahwa untuk meraih surga memang tidaklah mudah. Aku terpaksa melalui ujian berat demi memperoleh surga yang harus didapatkan dengan usaha dan perjuangan keras. Berbeda dengan neraka yang dihiasi berbagai kesenangan dunia.” Itulah munajat Zinnirah setiap kali ia mengadu kepada Allah SWT.

Pengorbanan Zinnirah juga mendapat hinaan dari kaum kafir Makkah. Berbagai cacian disematkan kepadanya. Mereka mengatakan Zinnirah buta karena dilaknat oleh Latta dan Uzza, berhala sesembahan kaum musyrikin. Meskipun ujian bertubi-tubi telah dirasakannya, namun tak mengubah sedikit pun keyakinannya kepada Allah SWT. Allah memberi karamah kepadanya. Matanya yang buta itu bisa melihat kembali atas izin-Nya. Ia pun sangat bersyukur akhirnya bisa menikmati kembali keindahan ciptaan Allah SWT. 

Dari cerita di atas menggambarkan bahwa betapa kesabaran itu penting dimiliki oleh setiap orang. Dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh lika-liku, manusia harus teguh memegang prinsip, dan jangan mudah goyah dengan iming-iming dunia. Karena dunia ini hanyalah fatamorgana. Wa allahu a’lam.

Sumber: K, Nur. 2019. 70 GOLDEN STORIES OF MUSLIMAH. Yogyakarta:Semesta Hikmah Publishing.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar:

  1. Keren.. dilanjutkan mbak.. kalau bisa 70 sosok itu diceritakan agar bisa menjadi pelajaran buat kita pembaca

    BalasHapus